Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 101. Siapa Pelakunya?


__ADS_3

"Jadi anak saya kenapa, Dokter?" tanya Ghina dengan wajah cemas.


"Sepertinya dia overdosis obat," jawab Dokter perempuan yang sengaja dipanggil ke rumah itu. Sangat tidak memungkinkan membawa Ella keluar dalam kondisi seperti itu.


"Overdosis obat? Ma-maksudnya obat terlarang?" tanya Albert. Mengingat kelakuan Ella yang berubah drastis tak terkendali, membuat Albert curiga.


"Sayang, Ella nggak pernah konsumsi gituan, ah," bantah Ghina. "Obat apa ya maksudnya, Dokter? Bukan obat terlarang, kan?"


"Bukan, tapi obat untuk suami istri," jawab sang Dokter.


"Obat suami istri?" ucap Ghina dan Albert, lalu saling berpandangan.


"Obat untuk meningkatkan vitalitas waktu berhubungan. Tapi yang ini khusus untuk perempuan," jelas Dokter.


Albert dan Ghina melongo mendengar penjelasan Dokter. "Ma-maksudnya untuk menambah ga-i-rah?" Ghina mengucapkan kalimat itu beberapa saat kemudian. Wanita itu tidak percaya putrinya mengkonsumsi obat seperti itu.


"Iya, dia meminum dosisnya terlalu tinggi. Tubuhnya terlalu banyak memproduksi hormon serotonin. Itu yang menyebabkan reaksi tubuhnya menjadi berlebihan," ujar Dokter itu, memberi penjelasan lebih lanjut.


"Tapi untuk apa dia mengkonsumsi obat itu sampai overdosis?" tanya Ghina masih tidak percaya.


"Zaman sekarang obat seperti ini banyak dijual bebas, Bu. Bahkan bisa dibeli dengan mudah melalui internet. Jika Ibu masih ragu, bisa tes darah di lab," ujar Dokter itu.


"Sepertinya nggak perlu, Dokter. Saya percaya, kok. Terus ini gimana cara mengatasinya?" tanya Albert.


"Sayang, mana mungkin anak kita minum begituan?" bantah Ghina nggak terima.


"Kamu udah lihat efeknya kan nanti?" ujar Albert. "Jadi gimana ini, Bu?" Albert kembali mengulang pertanyaannya.


"Setelah bangun tidur nanti efeknya akan mereda. Mungkin dia akan merasa pusing dan mual. Jadi saya akan resepkan obat untuk mengatasi radang usus dan lambung. Diminum jika ada keluhan di perutnya nanti," kata sang Dokter. "Ini, bisa ditebus di apotek nanti," sambungnya lagi.


"Terima kasih, Dokter. Mari saya antar ke depan," ujar Albert dengan ramah.


...🥀🥀🥀...


"Al, coba kamu pikirkan, deh. Dari mana Ella tahu barang begituan? Untuk apa dia meminumnya? Apa dia punya pacar?" Ghina tampak menahan marah dan rasa khawatir.


"Kalau aku memikirkan hal yang berbeda. Ella nggak mungkin seperti itu," kata Albert.


"Lalu apa?"


"Coba kamu cek HP-nya. Siapa tahu ada petunjuk di sana," kata Albert. Setelah itu dia menghubungi seseorang.


"Halo, Om. Apa kabar?" ujar Daniel di telepon.

__ADS_1


"Daniel, kamu nggak ngelakuin macam-macam sama Ella, kan?" tanya Albert tanpa basa-basi.


"Huh? Maksudnya?" Daniel bingung dengan pertanyaan Albert barusan.


"Ella sakit. Apa kamu tahu sesuatu di sekolah?" Albert mengganti pertanyaannya.


"Ella sakit, Om? Sakit apa?" tanya Daniel terkejut.


"Kamu beneran nggak tahu apa-apa? Bukannya kalian ketemu di sekolah tiap hari?" tanya Albert.


"Biasanya sih gitu, kami sering ketemu di kantin. Tapi beberapa hari ini dia nggak kelihatan di kantin. Aku pun sibuk dengan tugas," kata Daniel. "Emangnya Ella sakit apa, Om? Sejak kapan dia nggak masuk sekolah?" sambung remaja cowok itu.


"Ternyata dia beneran nggak tahu apa-apa. Padahal aku tadi sempat mencurigainya. Jadi siapa pelakunya?" batin Albert.


"Kata Dokter Ella keracunan karena a


Salah makan." Albert menjawab pertanyaan Daniel beberapa saat kemudian.


"Ya ampun, kok bisa ya? Padahal sekarang anak kelas tiga lagi masa sibuk-sibuknya, loh," kata Daniel.


"Nggak perlu khawatir. Keadaan Ella udah mulai membaik, kok," ujar Albert.


"Syukurlah," balas Daniel sebelum menutup telepon.


Wanita itu sempat terkejut ketika memeriksa HP milik anak gadisnya. Dia menemukan puluhan telepon keluar ke nomor miliknya. Lalu ada sebuah panggilan keluar pada sang nenek. Tetapi wanita itu tidak menemukan telepon ke nomor milik Albert.


"Ella pasti tadi sangat kesulitan. Dia pasti sudah merasa ada yang janggal, makanya tidak menghubungi ayahnya. Kenapa aku nggak pernah ada saat dia membutuhkanku, sih?" keluh Ghina menyesal.


"Mama udah pulang?" Tiba-tiba Ella muncul dari balik pintu kamar. Remaja itu telah mengenakan baju kaos dan celana training. Wajahnya kelihatan pucat dan kusut.


Albert yang semula duduk di samping sang istri, langsung mengasingkan dirinya ke ruangan lain. Dia menghindari tatapan mata dengan anak gadisnya tersebut.


"Ya, mama udah pulang waktu kamu tertidur tadi. Gimana keadaanmu, Nak?" tanya Ghina.


"Perutku agak mual," jawab Ella.


"Makan siang, yuk. Setelah itu kita minum obat," ajak Ghina seraya menuangkan air hangat untuk putrinya.


Ella mengangguk. "Ma, sebenarnya aku kenapa? Siapa yang menjemputku tadi?" tanya Ella penasaran.


"Ayahmu yang menjemputmu di sekolah. Kata Dokter kamu keracunan makanan. Tapi nggak perlu khawatir, nanti setelah minum obat akan membaik, kok," kata Ghina. "Kalau nanti terasa semakin mual muntahkan saja, lalu kamu isi perut lagi," kata Ghina. Ella mengangguk dengan patuh.


"Maafkan Mama ya, Nak. Mama nggak bisa langsung menjemputmu tadi," kata Ghina menyesal.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Ma," jawab Ella sembari memeluk sang ibunda.


...🥀🥀🥀...


"Kamu udah baikan?" tanya Albert sore itu.


"Iya, udah lumayan. Nggak ada mual lagi," jawab Ella.


"Badanmu masih panas?" tanya Albert lagi.


"Udah agak turun, kok," sahut Ella.


"Syukurlah. Kamu makan apa aja sih di sekolah, sampe sakit gini?" Omel pria itu bak emak-emak.


"Aku cuma makan bekal yang dibawa dari rumah, kok," jawab Ella.


"Beneran?"


"Iya, beneran," jawab Ella dengan yakin.


"Lalu minumnya?" selidik papa muda itu.


"Aku juga bawa minum sendiri dari rumah," sahut Ella.


"Lalu kenapa hal itu bisa terjadi? Di kelasmu ada CCTV, nggak?" Albert terus mencecar Ella dengan beragam pertanyaan.


"Aku juga nggak tahu. Tiba-tiba pas pulang sekolah tadi kepalaku pusing dan badanku panas. Di kelasku nggak ada CCTV," kata Ella. "Apa sakitku tadi parah banget, ya?" tanya gadis itu penasaran.


"Ya, parah banget, La. Kamu tuh sampai lupa diri. Untung aku yang jemput kamu di sekolah. Kalau pulang pakai ojol gimana ntar kejadiannya?" batin Albert dalam hati.


"Kok malah diem?" tanya Ella penasaran.


Pokoknya mulai besok, kamu harus di antar jemput oleh Gabriel," kata Albert dengan tegas. "Ah, nggak deh. Kamu diantar jemput sama mama kamu aja. Ghina udah bisa bawa mobil, kok," kata Albert meralat kalimatnya.


"Iya, Ayah," jawab Ella pasrah. "Tapi kenapa kita ngobrolnya dari tadi kayak orang marahan, sih?" ujar Ella. Gadis remaja itu bingung, karena sejak tadi Ayahnya berbicara dari balik rimbunan bunga bougenvile, sambil menyiram tanaman. Pria itu juga tidak menoleh pada Ella sekali pun.


"Terus memangnya kenapa? Apa ngobrol itu harus tatap muka?" balas Albert.


"Nggak, sih," gumam Ella.


"Tapi tetap aja aneh. Dia kayak menghindariku dari tadi. Apa dia tahu, kalau aku mendengar aktivitas panasnya dengan mama tadi malam? Atau aku melakukan kesalahan pas dijemput dia tadi? Jangan-jangan aku muntah di mobilnya," batin Ella yang menjadi overthinking.


"Ck, gimana aku mau berhadapan denganmu, kalau kamu hampir aja melepas semua pakaianmu di depanku, terus melakukan hal tidak senonoh. Kamu emang gak ingat, La. Tapi aku harus membuang ingatan itu jauh-jauh, agar bisa melihat wajahmu lagi," ujar Albert dalam hati.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2