
Albert memandang putrinya yang menyendiri di sudut ruangan. Bocah SMA itu memisahkan diri dari para tamu yang sedang asik berbincang dengan mempelai wanita. Albert bisa merasakan, bahwa gadis cantik bergaun biru itu menahan pedih di dadanya.
“La, kamu udah makan?” tanya Albert, mengagetkan Ella yang tenggelam dalam pikirannya.
“U-udah, kok,” jawab Ella sambil memutar bola matanya, menghindari pandangan Albert.
“Kapan? Kok aku nggak lihat dari tadi? Kata Galena, kamu juga nggak sarapan tadi di rumah,” balas Albert.
“Udah, kok. Kamu pasti nggak lihat karena sibuk menyambut tamu,” sahut Ella bersikukuh.
“Kamu? Sekarang aku udah resmi jadi ayahmu, lho. Panggilan kamu padaku juga harus berubah,” tegas Albert. “Lagian dari tadi aku selalu memperhatikanmu, lho. Kamu nggak bisa bohong. Dari tadi aku lihat kamu menyendiri,” ucap pria itu.
Dada Ella berdegup kencang mendengar kalimat itu. Meskipun keadaan mereka kini sudah berbeda, ternyata Ella belum bisa menghapus perasaannya dengan tuntas. “Jangan terlalu urusin aku. Hari ini adalah pernikahan kalian berdua. Temani saja Mama,” ucap Ella.
“Kamu mengusir aku, nih? Albert tertawa kecil mendengar kata-kata Ella barusan. Katanya kamu akan baik-baik aja setelah aku menikah? Kok malah nangis? Ayo angkat wajahmu, dan lihat aku dengan benar,” pinta Albert.
__ADS_1
Ella terpaksa mengangkat wajahnya dan menatap pria di hadapannya cukup lama, untuk mematahkan sindiran Albert barusan. Bola mata Ella menjelajah setiap inchi wajah pria di hadapannya. Alisnya yang tebal dan rapi, hidungnya yang mancung, pipinya yang halus, bibirnya yang seksi. Semua keindahan ciptaan Tuhan itu sekarang resmi milik mamanya.
Pandangan Ella kemudian turun ke bawah. Dada bidang dan tubuh yang tegap serta atletis itu, kini menjadi tempat bersandar mamanya. Ada rasa sakit yang tidak terucap di dadanya, tetapi Ella juga merasa inilah kesempatan untuk menunjukkan kalau dia baik-baik saja. Gadis cantik itu kemudian mengukir senyum yang sangat manis di wajahnya, setelah puas mengamati pria di hadapannya. Sekilas dia terlihat seperti anggota girl grup yang imut-imut.
“Ah, sial! Kenapa dia cantik banget sih, hari ini?” Albert yang tidak kuat melihat kemolekan putrinya, mendadak mengalihkan wajahnya. Hampir saja dia menelan ludahnya sendiri, yang mengatakan di dalam hati bahwa tidak akan pernah memandang Ella sebagai seorang wanita.
Ella tersenyum sinis melihat Albert yang salah tingkah. “Lihat, kamu menyesal ‘kan sekarang?” batin gadis itu.
“A-aku ambilkan makan, ya?” kata Albert mengalihkan cerita.
“Tapi kamu belum makan dari tadi. Nanti kamu sakit, lho,” ucap Albert.
“Kamu tuh ‘Raja’ hari ini. Jangan peduliin aku dan bikin para tamu curiga,” ucap Ella mengingatkan.
“Mempelai pria-nya mana, nih? Kok menghilang?” seru para tamu.
__ADS_1
“Dipanggil, tuh. Pada mau foto,” ucap Ella.
“Ah, aku ke sana dulu. Jangan lupa makan,” bisik Albert sebelum pergi.
Seorang wanita berbalut gaun kuning, mengikuti gerakan mempelai pria yang kembali ke pelaminannya. Dia tersenyum simpul lalu berkata, “Dasar cowok munafik. Padahal di hatimu yang terdalam, kamu mencintainya dan mengakui kecantikannya.”
Wanita itu lalu berjalan mendekati Ella yang kembali memasang raut wajah murung. “Hai, cantik. Kenalkan, aku Cleopatra. Sepupu dari Albert. Senang melihatmu memakai hadiah dariku,” ujar wanita berwajah oriental itu.
“Oh, salam kenal. Aku Ella. Terima kasih hadiahnya. Aku suka banget,” ucap Ella.
“Kamu cewek yang kuat dan hebat. Pasti di dalam hatinya dia sedang menyesal sekarang,” ujar Cleo.
“Ha? Apa maksudnya?” tanya Ella tak mengerti.
“Ah, nggak apa-apa. Pokoknya kamu cewek hebat. Ngomong-ngomong temani aku makan, yuk. Aku lapar.” Cleo menarik lengan Ella tanpa meminta izin terlebih dahulu.
__ADS_1
(Bersambung)