Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 58. Perubahan Besar


__ADS_3

Ella menyandarkan punggungnya ke kursi. Pikirannya mengulang kejadian tadi malam, ketika dia bertengkar dengan sang mama hingga ketika mama menemaninya tidur. Namun nggak hanya itu, sosok pria yang senantiasa hadir dalam setiap momen hidup mereka belakangan ini pun turut melintas di pikiran gadis belia tersebut.


"Albert memang pandai sekali menenangkan hati mama. Dia selalu bisa menyelesaikan masalah kami. Sepertinya mama memang butuh sosok lelaki seperti dia. Apa aku bisa ikhlas?" gumamnya pada diri sendiri.


"La, pinjam pena, dong."


Perasaan hangat itu hanya berlangsung sesaat. Dalam waktu singkat rasa iri di hati Ella kembali terbesit. "Kalau gaunku aja sebagus itu? Gimana dengan gaun pernikahan mama besok, ya? Duh, jangan berpikiran yang tidak-tidak. Aku baru aja baikan sama mama."


"Oi La, pinjam pena, dong."


“Hah, nggak tahu deh. Apa aku ambil kuliah di luar kota aja, biar nggak melihat mama dan Albert setiap hari?” Perasaan remaja SMA itu benar-benar galau.


“Azura Auristella! Pinjam pena, dong!” teriak Naya tepat di sebelah Ella.


“Astaga, Nay. Jangan teriak-teriak, dong. Kaget tahu!” seru Ella sambil mengusap dadanya yang berdegup kencang. Untung aja jantungnya nggak copot.

__ADS_1


“Aku udah manggil kamu dari tadi. Tetapi kamu malah bengong mulu. Mikirin apa, sih? Galau amat?” cerocos Naya.


“Ah, nggak ada apa-apa, kok. Kamu mau pinjam pena? Tuh, ambil aja dalam tas-ku,” kata Ella.


“Halah, bohong! Aku lihat dari tadi wajah kamu kusut banget kayak punya utang ratusan milyar,” ungkap Naya sambil membongkar tas Ella untuk menemukan pena. “Wow! Ini skincare? Tumben kamu pakai beginian? Bukannya kamu sekte pecinta wajah dan kulit natural?” sindir Naya sambil mengangkat nano mist spray face dan juga liptint dari dalam tas Ella.


“Huh, lebay kamu. Itu kan cuma skincare,” bantah Ella.


“Nggak! Ini emang aneh. Maira, coba kamu lihat ini, deh,” seru Naya. Kali ini dia menemukan foundation, lipstick merah menyala, serta eyeliner dari tas remaja cantik itu.


“Naya turunkan! Kalau ketahuan guru bisa disita!” ucap Maira mengingatkan. Naya pun buru-buru menyimpan benda itu ke dalam tas.


“Apaan, sih? Aku kan juga ingin keliatan cantik dan dewasa,” sahut Ella dengan bibir manyun.


Maira dan Naya saling berpandangan. Mereka lalu menyimpulkan, bahwa Ella telah banyak berubah sejak ada masalah dengan pria tampan itu. Keduanya pun semakin penasaran, siapa cowok itu sebenarnya? Apa benar dia adalah pria pertama yang berhasil merebut hati sahabat mereka? Tetapi kedua remaja itu tidak bertanya pada Ella, dan menunggu remaja itu menceritakannya sendiri.

__ADS_1


“Gaes, ini kertas ulangan Matematika udah dibagiin. Kata Bu Lola kelas kita bebas remedial, lho,” seru sang ketua kelas, sembari membagi-bagikan kertas ulangan pada teman-temannya.


“Asik! Aku dapat nilai tujuh puluh delapan,” seru Naya. “Kamu dapat berapa, Mai?” tanya Naya.


“Aku dapat delapan puluh satu,” jawab Maira sambil tersenyum puas.


“Wah, lebih tinggi kamu rupanya. Tapi syukur deh nggak remedial. Nggak sia-sia belajar kelompok sebelum ujian,” ujar Naya dengan ceriwis. “Kamu dapat berapa, La?” tambahnya.


“Ah, kalau sang juara umum kita mah nggak usah diragukan lagi. Pasti dia dapat nilai sempurna dari biasanya,” timpal Maira. Ella hanya tersenyum sambil menggenggam kertas ulangannya.


“Enam puluh lima?” seru Maira dan Naya terperanjat, ketika melihat nilai yang diperoleh Ella. “La, pikiranmu pasti lagi kacau banget, sampai hasil ulanganmu anjlok gini,” ujar Maira menambahkan.


“Yah, mungkin,” sahut Ella sambil memaksakan senyum di wajahnya. Matanya yang indah tampak berkaca-kaca. “Tapi kalian jangan lalai. Aku pasti akan mengejar nilai kalian di ujian semester nanti,” imbuhnya dengan air mata mengalir di pipi.


“Apaan sih, La? Jangan nangis, dong. Kami jadi ikutan sedih, nih. Kami pasti bakal menghibur kamu supaya nggak galau lagi,” ucap Maira dan Naya sambil merangkul Ella.

__ADS_1


“Makasih, gaes,” bisik Ella di tengah isak tangisnya. Nggak, dia bukan menangis karena nilainya turun. Dia menumpahkan air mata karena pria yang selalu hadir dalam hidupnya, tetapi tidak bisa bersamanya.


(Bersambung)


__ADS_2