
"Ella, apa kamu udah selesai sholat? Keluarlah," panggil Albert sambil mengetuk pintu kamar Ella.
"Oh iya, aku jadi penasaran. Kenapa Albert tiba-tiba muncul, ya?" pikir Ella, ketika mendengar suara pria itu. Klak! Ella membuka pintu kamarnya. Seorang pria dengan senyuman manis menyambutnya. "Astaga! Aku bisa sakit jantung kalau gini terus," jerit Ella dalam hati.
"Ella, pakaianmu ..." Kening Albert berkerut sambil mengomentari gadis yang masih memakai seragam sekolahnya.
"A-aku belum sholat dan ganti baju," ujar Ella gugup. Dia lalu berlari ke kamar mandi yang terletak di dekat dapur.
Beberapa saat kemudian, Ella keluar kamar dengan bedak tipis di wajahnya. Baju seragamnya telah dia tukar dengan baju tidur bermotif boneka.
"Maafkan aku, Ma. Dan terima kasih juga hadiahnya," bisik Ella di depan sang ibunda. "Aku kaget banget, Mama membelikan aku gaun dan sepatu mahal itu. Padahal ulang tahunku juga udah lama," ucap Ella.
"Mama juga minta maaf sayang. Padahal harusnya mama bangga, kamu sudah mandiri. Maaf juga karena Mama nggak pernah merayakan ulang tahunmu. Semoga kamu suka hadiahnya," ujar Ghina dengan parau.
"Aku suka banget, Ma. Terima kasih." Ella memeluk dan mencium kening ibunya dengan lembut. Matanya berkaca-kaca. Andai papanya masih hidup, pasti kebahgiaan ini akan semakin lengkap.
__ADS_1
Albert tersenyum bahagia, melihat kedua wanita itu kembali baikan. Diam-diam dia memotret momen haru itu dengan kamera ponselnya.
"Ah, Mama berubah pikiran. Mama tetap khawatir kamu bekerja di warnet dan berkumpul sama cowok-cowok di sana," imbuhnya.
Ella tertawa mendengarnya. Dia lalu melepaskan pelukannya. "Mama ini gimana, sih? Jadi maafin aku apa nggak?" tanya Ella.
Ghina memeluk putrinya erat-erat. "Mama mana bisa memarahi anak Mama lagi. Bisa-bisa Mama kehilangan bulan purnaman Mama satu-satunya di rumah ini, kalau melarangmu melakukan banyak hal. Mama mengizinkanmu bekerja di sana, tetapi dengan satu syarat, kamu harus tetap menerima uang bulanan yang Mama kasih," Ghina memberikan petuah dengan panjang lebar pada anak gadisnya.
"Beneran, Ma? Asiiik! Makasih ya, Ma."
"Ih, Mama. Jangan kuat-kuat dong ngomongnya," protes Ella.
"Ya udah, mandi sana. Abis itu kita makan malam. Mama tadi masak sup ayam," ucap Ghina.
"Oke, Ma. Aku juga udah laper, nih," balas Ella riang.
__ADS_1
"Ah, tunggu sebentar. Masih ada satu syarat lagi kalau kamu mau bekerja di sana," kata Ghina.
"Apa lagi, Ma? Katanya cuma satu. Ella memanjangkan bibirnya, dua sentimeter ke depan.
"Cuma dua syarat, kok. Selain menerima uang bulanan dari Mams, kamu juga harus janji. Kamu nggak akan merokok, bermain game, kelayapan sama cowok-cowok di sana, dan tetap mengutamakan belajar," pinta Ghina.
"Hah? Banyak banget, Ma? Itu sih lebih dari dua. Ah, Mama nggak asik, deh. Sebenarnya aku nggak boleh kerja, kan?" Ella menghentakkan kakinya pura-pura merajuk.
Albert yang sejak tadi hanya menjadi pendengar dan penonton setia, memijat kepalanya yang pusing. Baru aja lima menit lalu ibu dan anak itu berbaikan. Sekarang mereka sudah mengangkat bendera perang lagi. Suasana haru yang baru saja tercipta, mendadak lenyap.
"Apa mereka seperti ini setiap hari?" batin Albert shock.
"Iya, kamu boleh kerja. Tapi ingat yang Mama bilang tadi. Pulangnya juga nggak boleh lebih dari jam enam sore," timpal Ghina.
"Loh, kok malah nambah lagi peraturannya?" protes Ella.
__ADS_1
(Bersambung)