Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 123. Dia Pacarku


__ADS_3

Tolong!!! Tolong!!!


Ella terpekik. Gadis sembilan belas tahun tersebut meringkuk, sambil melindungi tubuhnya dengan tas berisi buku. Dia tidak bisa lari, karena preman-preman itu telah mengepungnya.


Ethan yang kebetulan melalui jalan itu, segera mendekat karena mendengar teriakan perempuan. Emosi Ethan langsung memuncak, ketika melihat Ella di kepung para preman.


Buagh! "Mau ngapain kalian, bangst! Segera menjauh dari Ella-ku!" Ethan yang baru aja datang, langsung menghajar seorang preman yang berbadan paling besar.


"Kau siapa, bangst! Jangan menghalangi kami!" Preman itu balas menghajar Ethan.


"Tolong!!!" Ella kembali berteriak meminta tolong. Ethan berjuang sendirian, melawan para preman itu.


"Ella, cepat hubungi seseorang," seru Ethan yang mulai kewalahan melawan para preman.


Ella pun berlari menjauh dari para preman, lalu mengacak tas-nya untuk mengambil ponsel.


"Sialan! Kau mau menghubungi siapa?" Buagh! Buagh! Buagh! Seorang preman menghajar Ella dan merebut ponsel gadis itu.


"Kurang ajar, kau!" Ethan sekuat tenaga melawan para preman, dan merebut kembali ponsel milik Ella. Dia lalu buru-buru membuka ponsel Ella san menghubungi nomor yang tersimpan paling atas.


"Halo? Ella dalam bahaya. Lokasinya di belakang kampus."


Buagh! Seorang preman menghajar Ethan yang sedang menelepon, untuk mencari bantuan. "Kau menghubungi siapa, bangst!" Para preman itu kembali menghajar Ethan.


Ethan sedikit bersyukur. Walau pun dia babak belur, tapi keberadaannya membuat para preman itu melupakan Ella. Dia justru berharap di saat preman itu lengah, Ella sempat kabur untuk menyelamatkan diri.


"Mereka di mana, sih? Lama banget datangnya?" ujar Ethan yang udah babak belur. Ethan khawatir kalau dia udah tak berdaya, preman itu kembali mengincar dan mengejar Ella.


Preman berbadan paling besar, kembali meninju Ethan. Tetapi pemuda bertubuh tinggi dan kurus tersebut berhasil menghindar.


"Berhenti kalian!"


Beberapa orang polisi datang. Rupanya tadi Ethan menelepon Albert untuk meminta bantuan. Setelah mendapat kabar dari Ethan, Albert pun langsung meminta bantuan polisi. Dengan cepat para polisi itu mengejar dan menangkap preman yang hendak kabur itu.


"Di mana Ella?" tanya Albert panik, karena tidak menemukan putrinya di sana.


"Ella? Dia pasti kabur mencari bantuan, Om," ujar Ethan dengan napas terengah-engah karena kesakitan.


"A-aku di sini."


Ella muncul dari balik semak-semak. Rupanya dia sembunyi di sana, sambil menunggu bantuan datang. Ella tidak bisa lari, karena para preman itu pasti melihat dan mengejarnya. Dia juga nggak bisa menghubungi seseorang, karena ponselnya direbut oleh para preman itu.

__ADS_1


"Kau baik-baik aja, Nak?" tanya Albert yang merasa sangat khawatir pada keadaan putrinya. Perasaannya pada gadis itu benar-benar seperti seorang Ayah pada anaknya. Tidak lagi goyah seperti dulu, sebelum dia menikahi Ghina.


"Aku baik-baik aja." Tubuh Ella gemetaran karena menahan rasa takut. "Ethan ... Ethan ..."


"Ethan barusan dibawa ke rumah sakit terdekat." Albert menunjuk sebuah mobil yang membawa Ethan. "Kamu juga harus ke rumah sakit," kata Albert.


"Sepeda motorku gimana? Kuncinya tadi direbut sama preman itu," kata Ella.


"Polisi udah mengurusnya," kata Albert.


...🥀🥀🥀...


"Sayang, gimana keadaan Ella?" Ghina datang terburu-buru bersama ibu mertuanya.


"Ella nggak apa-apa, sayang. Dia tadi udah bisa jalan-jalan di lorong, tuh," kata Albert. "Justru temannya yang parah," sambung suami Ghina tersebut.


"Temannya?"


"Iya, seorang laki-laki yang membantunya," jawab Albert.


Ghina melihat Ella mondar-mandir di sebuah kamar pasien. Gadis delapan belas tahun itu terlihat cemas dan takut.


"Ella, kamu ngapain di sini?" kata Ghina.


"Iya, Mama bersyukur keadaanmu baik-baik aja. Yang tadi Mama tanyain, ngapain kamu di sini?" ujar Ghina membalas pelukan putrinya.


"Ethan terluka parah karena menolongku, Ma. Aku khawatir dengan keadannya. Tapi aku juga takut orang tuanya marah padaku," kata Ella. Dari balik pintu yang sedikit terbuka, Ghina melihat seorang pemuda berbaring di atas tempat tidur ditemani kedua orang tuanya.


"Kenapa kamu nggak masuk aja, bilang terima kasih dan meminta maaf. Mama temani, deh," kata Ghina.


"Ayah juga akan menemanimu," kata Albert.


"Pe-permisi." Ella membuka pintu kamar Ethan dan berdiri di depannya.


"Ya? Kalian siapa?" tanya kedua orang tua Ethan.


"Saya Azura Auristella, Om, Tante. Biasa dipanggil Ella," kata Ella gugup. "Saya ingin meminta maaf, Ethan terluka karena menyelamatkan aku," kata Ella.


"Ethan yang melawan preman itu?" tanya Ayah Ethan.


"Benar. Kami sebagai orang tua Ella, ingin berterima kasih dan juga meminta maaf," kata Albert. "Kalau perlu, biaya rumah sakit Ethan biar kami yang membayarnya," sambung Albert lagi.

__ADS_1


"Oh, ya? Jangan takut, Nak. Kami nggak marah padamu, kok. Kata dokter, Ethan mengalami luka memar aja. Nggak ada patah tulang atau luka lainnya," jawab ayah Ethan.


"Tapi, mereka beneran orang tuamu?" tanya ibu Ethan dengan ragu. Albert dan Ghina terlihat masih sangat muda. Ella pun menceritakan tentang kedua orang tuanya.


"Oh, jadi begitu? Kami mengerti. Kamu pasti orang penting bagi Ethan, sampai dia mau mengorbankan dirinya," kata ayah dan ibu Ethan. Pipi Ella bersemu merah mendengarnya.


"Nak, bangunlah. Temanmu datang menjenguk," kata ibunda Ethan.


"Oh, kalau Ethan sedang istirahat biarin aja, Tante," kata Ella buru-buru.


"Nggak apa-apa. Dia udah kelamaan tidur. Harus bangun dan makan," kata ibunda Ethan. Dia kembali membangunkan putranya.


"Nak, bangun. Temanmu datang."


"Ella! Kamu nggak apa-apa?" ucap Ethan, ketika melihat seorang gadis manis duduk di samping tempat tidurnya.


"Aku nggak apa-apa, kok. Malah kamu yang babak belur. Makasih ya," ucap Ella. Dia merasa canggung, karena di situ ada kedua orang tua mereka.


"Kami tinggal dulu, ya. Kamu mengobrollah sama temanmu," kata ibu Ethan, memahami perasaan Ella.


"Ayah, Ibu, dia bukan temanku. Ella adalah pacarku," kata Ethan tanpa ragu.


"Hah?" gumam semua orang di sana.


"Nggak apa-apa kan aku mengatakannya? Karena aku berniat serius denganmu," kata Ethan.


Ella menundukkan kepalanya dalam-dalam, karena sangat malu. Dia merasa ditembak dua kali oleh pria yang sama.


"Ehem? Kayaknya sebentar lagi Mama bakal dapat menantu, nih," ucap Ghina.


"Hahaha, bentar lagi kita jadi besan, Bu," kata ibu Ethan pula. Sementara itu, Ayah Ethan dan Albert hanya tersenyum melihat tingkah anak mereka.


"Sebagai orang tua, Ayah menyetujui kamu, Ethan. Kita juga udah beberapa kali bertemu," jawab Albert.


"Aku juga setuju. Asalkan kalian bisa saling menjaga diri, dan tetap kuliah sampai selesai," kata Ayah Ethan pula.


"Aku ngerti. Tapi kenapa semuanya jadi pada serius, sih? Ethan kan baru mengatakan aku pacarnya. Ini bukan lamaran," kata Ella menahan malu, tapi juga senang.


"La, untuk sekarang kita emang pacaran dulu. Tapi aku serius padamu. Beberapa tahun lagi, aku akan melamarmu," kata Ethan.


"Astaga! Masih sakit pun kamu bisa menggombal, ya?" ucap ibu Ethan.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2