
“Ella, kamu di rumah, kan? Ayo buka pintunya.”
“Loh, Mama? Tumben datang ke sini?” ujar Ella ketika membukakan pintu. Gadis itu hanya memandang Albert sekilas, lalu mengalihkannya lagi.
“Tumben? Justru kamu yang tumben? Kenapa nggak masuk sekolah? Kalau sakit cepat kabari Mama, dong.” Ghina menghujani Ella dengan rentetan omelan.
“Aku nggak sakit, Ma. Tuh, badanku nggak panas, kan?” ujar Ella seraya menempelkan telapak tangan Ghina di jidatnya.
“Iya, sih. Terus kenapa kamu nggak masuk? Padahal biasanya hujan badai pun kamu tetap maksa pergi ke sekolah.” Ghina mendesak Ella untuk mengaku.
“Em … Aku lagi males aja. Pengen istirahat. Tetapi di rumah aku kan tetap belajar, Ma,” ujar Ella membela diri. Memang benar, saat ini ruang tamu telah disulap remaja itu bagaikan gudang. Semua buku berserakan di lantai.
“Kamu lagi belajar atau mau buka bazar buku? Kok berserakan gini, sih? terus try out kamu hari ini gimana?” tanya Ghina.
“Itu kan cuma try out, Ma. Nggak ikut juga nggak apa-apa. Aku juga udah izin pada Bu guru, kok.” Ella terus menerus mencari alasan.
“Meski begitu, waktu rapat kemarin kepala sekolahmu bilang, kalau try out itu penting. Kamu pasti ada masalah, kan? Iya, kan? Ayo bilang sama Mama,” desak Ghina sudah tidak sabaran melihat putrinya menyembunyikan sesuatu.
“Apa ini ada hubungannya dengan anak-anak pembully yang mengatai kamu dan mama kamu?” Albert yang sejak tadi diam saja, akhirnya ikut angkat bicara.
“Eh, kok bisa tahu? Siapa yang ceritain?” celetuk Ella kelepasan.
“Nah, kan? Benar dugaan Mama. Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Nggak ada yang ngadu ke Mama atau pun ayahmu, kok. Mama yang mendengarnya sendiri,” ujar Ghina.
“Ah, jadi gitu?” gumam Ella. “Maaf aku nggak masuk sekolah cuma karena hal sepele,” ujarnya lirih. Air matanya mulai menggenang.
“Ini bukan masalah sepele, karena keluarga kita udah difitnah. Karena mama kamu bukan orang yang seperti itu,” tegas Albert. “Pokoknya besok kamu harus sekolah. Kalau nggak mau ayah antar, supir yang akan mengantarmu,” paksa Daniel.
“Aku besok memang mau sekolah, kok. Nggak perlu di antar. Karena udah kelas tiga, aku jadi nggak bisa bolos lama-lama,” ucap gadis remaja tersebut.
__ADS_1
“Janji, ya. Jangan sampai ulah mereka membuat sekolahmu terganggu. Soal mereka biar Ayah yang bereskan nanti,” ujar Albert.
“Eh, nggak usah. Nanti mereka malah semakin mengangguku. Udah biarin aja, nanti juga mereka bosan sendiri.” Ella menolak bantuan dari Albert untuk membungkam mulut Kiki dan Dewi. “Lagian kalian tahu yang mana orangnya? Ntar malah salah tuduh,” lanjut gadis itu.
“Mama masih ingat kok, wajah mereka yang mana,” ujar Ghina.
“Ya udah kalau itu maumu. Tapi kalau mereka semakin ngelunjak, jangan diam saja,” kata Albert lagi.
“Mulai sekarang kalau ada masalah jangan disimpan sendiri. Bilang pada kami. Kamu nggak ada masalah lainnya, kan?” tanya Ghina memastikan keadaan putrinya.
“N-nggak, kok,” jawab Ella dengan gugup. Mana mungkin dia menceritakan tetangganya yang julid menggosipkan mereka itu, kan? Bisa-bisa Albert langsung membawa polisi ke hadapan ibu-ibu itu.
“Nah, kamu bohong lagi, kan? Ada apa lagi? Ayo cerita aja,” desask Ghina.
“A-anu, sebenarnya ibu-ibu di sini juga ngomongin Mama yang aneh-aneh. Bahkan beberapa di antara mereka tetangga dekat kita, yang selama ini bersikap baik di depan Mama,” ujar Ella.
“Oh, gitu. Apa kamu punya buktinya?” tanya Ghina dan Albert dengan mata menyala-nyala. Rahang mereka mengeras dan gigi terkatup rapat menahan emosi.
“Ah, nggak kok. Paling cuma dipanggil polisi karena kasus pencemaran nama baik,” ujar Albert sambil menyeringai tipis.
“Tuh, kan? Benar yang aku bilang tadi. Mereka pasti bakalan melapor ke polisi. Apa aku baru aja salah membuat keputusan? Kalau nanti malah membuat keributan yang semakin besar gimana?” batin Ella sedikit menyesal.
...🥀🥀🥀...
“Girls, kita jadi ke mall kan siang ini?” tanya Kiki pada teman-teman satu geng-nya ketika pulang sekolah. Anak-anak orang kaya itu masih berkumpul di parkiran, untuk menunggu supir jemputan mereka masing-masing.
“Ke mall mau ngapain? Kalau cuma keliling-keliling doang bosen, ah. Kemarin mamaku baru aja pulang dari Italy, bawain aku baju sama tas B&G koleksi terbaru,” ujar Dewi menyomobongkan diri. Ibunya yang merupakan pengacara kelas internasional acap kali mendapat pekerjaan di luar negeri dengan bayaran fantastis.
“Kita nonton aja. Aku tahu film bagus yang diputar hari ini,” ajak Kiki lagi. Anak dari perusahaan otomotif itu tidak menggubris cerita Dewi barusan.
__ADS_1
“Aku skip dulu deh gaes. Mamaku udah daftarin aku ke tempat les. Jadi aku harus langsung pergi les setelah makan siang,” ujar salah satu gadis remaja yang baru bergabung ke dalam geng orang kaya tersebut.
“Cupu banget sih, Lu. Ayolah pergi sebentar aja. Bilang aja kamu pergi les, kalau mama Lu tanyain. Lagian guru les Lu nggak bakalan hapal sama nama-nama muridnya,” ujar Kiki.
“Bener, tuh. Ngapain ikut les? Orang kayak kita ini, masa depan udah pasti terjamin,” timpal Dewi sembari menarik lengan siswi yang ingin pergi les tadi.
Brak! Tanpa sengaja Dewi menubruk mobil mahal, ketika temannya itu memberontak. Wajah mereka langsung merah padam ketakutan. Mobil mewah berwarna hitam metallic itu tampak lecet di bagian bawah pintunya.
"Ck! Gara-gara Lu, nih. Kalo kita suruh ganti gimana? Lu mau tanggung jawab?" marah Dewi pada temannya itu.
"Kok gue?" protes gadis lugu itu.
Drrrk! Pintu mobil mewah itu tiba-tiba. Seorang pria tampan dengan syle pakaian cowok Korea pun turun sambil mengukir senyum di wajahnya.
"Gila! Ganteng banget! Artis, ya?" batin ketiga remaja SMA tersebut. Mata mereka tidak berkedip melihat bani Adam yang
"Ada apa, ya? Kok main tarik-tarikan gini? Nggak ada kekerasan, kan?" tanya pria itu dengan lembut.
"Oh, nggak ada kok, Kak. Kami cuma bercanda aja," ujar Dewi dan Kiki gugup. Mereka takut pria tampan itu meminta ganti rugi kerusakan mobil.
"Sial! Kenapa ketemu cowok ganteng pas aku lagi kucel gini, sih?" kata Kiki dalam hati. "Tapi kayaknya aku pernah melihat cowok ini, deh. Apa lihat di TV, ya?" pikir remaja itu.
"Lain kali bercandanya hati-hati, dong. Untung aja cuma mobilnya yang lecet. Kalau kulit kalian yang lecet gimana?" ujar pria itu sembari mengedipkan sebelah matanya, membuat para gadis itu bersorak dalam hati.
"Oh, iya. Kakak ngapain ke sini? Mau jumpa sama siapa?" tanya Kiki.
"Ah, kayaknya aku terlambat datang. Tadinya aku mau bertemu sama Kiki dan Dewi dari kelas dua belas," ujarnya.
"Siapa sih pria ini? Kenapa mau bertemu sama kami?" pikir Dewi curiga.
__ADS_1
(Bersambung)