
"Mama mau bicara apa?" tanya Ella. Tubuh Ella gemetar. Tangan kanannya mengenggam erat, tangkai bunga yang dia pegang. Hatinya berdetak tidak beraturan, tetapi dia nggak bisa lari lagi.
"Apa Mama beneran boleh menikah lagi dengan Albert?" tanya Ghina dengan air mata berlinang.
Ella menghembuskan napasnya. Gadis remaja itu tidak bisa menyembunyikan rasa sedih dan kecewanya pada Ghina. Tetapi dia juga nggak bisa melarang mamanya untuk mengambil keputusan itu.
"Mama cemburu karena Albert terus menerus membawa perempuan ke rumahnya?" tebak Ella, membuat keringat dingin mengucur di tubuh Ghina.
"Eh, bukan seperti itu. Mama hanya ragu mengambil keputusan, karena memikirkanmu," kilah Ghina.
"Huh! Apa yang Mama tahu tentang aku? Karena takut digosipin tetangga kayak yang aku bilang dulu? Atau karena takut aku dan Al nggak bisa akur, karena selisih usia kami tidak terlalu jauh," batin Ella sedikit kesal.
"Apa benar-benar nggak boleh?" bisik Ghina. Dia sangat penasaran dengan jawaban putrinya. Bukankah Ella udah memberinya izin waktu itu?
__ADS_1
"Kalau Mama bertanya padaku sekali lagi, maka aku akan mengubah jawabanku kemarin," ujar Ella seraya menatap mamanya dengan tajam.
"Terima kasih, Nak," sahut Ghina lirih. Seulas senyum terukir di wajahnya. Dalam hati dia berjanji, akan menjadi ibu yang lebih baik lagi bagi putri tunggalnya tersebut.
"Aku harap Mama tidak akan menyesal dan selalu bahagia dengan keputusan Mama," kata Ella sambil meletakkan buket bunga di atas makam papanya. "Papa juga pasti sedih, melihat Mama yang terus berjuang sendiri sejak kepergiannya," sambungnya.
"Sudahlah, mengalah saja. Sampai kapan aku harus menghindari masalah ini? Albert juga nggak bakalan melirikku sebagai perempuan," pikir Ella pasrah. Luka di hatinya sudah menumpuk terlalu banyak, sampai dia tidak bisa merasakan apa-apa lagi.
...🥀🥀🥀...
Setelah mengobrol dengan Ghina di pemakaman tadi, Ella dan Mamanya melanjutkan liburan mereka tanpa ada perbedaan. Keduanya menghabiskan waktu dengan makan siang bersama di restoran favorit mendiang ayahnya dulu. Mereka lalu ke salon bersama-sama, untuk memanjakan tubuh mereka. Menjelang matahari terbenam, barulah keduanya pulang.
Meski semuanya tampak lancar, Ella tetap tidak mampu menahan gejolak di hatinya. Berkali-kali dia menguatkan diri sendiri, agar mampu melewati semua kemelut ini.
__ADS_1
"Papa pasti senang melihat mama bahagia. Aku pun harus begitu," ujar Ella pada dirinya sendiri. "Tidak ada celah lagi di hati Albert untuk diriku, meski dia tidak menikahi mama. Aku harus lebih kuat. Bukankah aku udah janji pada diriku sendiri untuk bersikap dewasa?" ucap Ella lagi.
Remaja itu mengambil ponselnya, dan menghapus semua foto kebersamaannya dengan pria, yang sudah menjadi sahabatnya itu. Ella juga mengumpulkan semua barang-barang pemberian Albert, untuk dimusnahkan. Dia sudah bertekad untuk menghapus semua kenangan bersama pria itu.
Sebuah gelang manik-manik, sepasang kaos kaki lucu, beberapa keping uang logam dari Jepang, dua lembar kartu pos dari Italia, sekotak pita lucu, sebuah dompet berwarna pink dan beberapa benda lainnya. Ella mengumpulkan semua itu ke dalam tas ransel lama miliknya.
"Ah, aku baru ingat! Buku-buku novel itu juga dari dia, kan?" Ella memutar pandangannya ke arah rak bukunya. Sederet novel terjemahan karya penulis terkenal memenuhi rak buku tua peninggalan ayahnya.
"Ini semua barang pemberian Albert?" pekik Ella melihat tumpukan barang di lantai. Tas ranselnya sudah tidak sanggup lagi untuk memuat benda-benda yang dia kumpulkan tersebut. "Hah, aku nggak nyangka. Rupanya aku sangat bergantung pada pria itu sampai separah ini."
Ella duduk di lantai sambil menatap kamarnya yang bagaikan tempat pembuangan sampah. Hampir semua isi lemari telah berpindah di lantai.
"Ck, apa semua ini harus dibuang? Sayang banget," gumam Ella. "Semuanya masih bagus. Apa aku jual aja, ya? Kan lumayan duitnya." Pikiran Ella mulai terombang-ambing.
__ADS_1
(Bersambung)