
“Jadi kamu nggak mau pakai pesta?” tanya Sri kepada adik iparnya. “Albert masih lajang, kan?” tambahnya lagi.
“Iya, Mbak. Ini pernikahan pertama dia. Tetapi dia menolak untuk resepsi besar,” jawab Ghina. Matanya menelisik setiap warna kain yang diberikan oleh pelayan toko.
Ya, hari ini Ghina dan Sri memilih kain untuk di hari pernikahannya nanti. Sudah satu minggu berlalu sejak dia memberikan jawaban pada Albert. Kini wanita itu sedang disibukkan dengan persiapan pernikahannya yang tinggal tiga minggu lagi.
Surat menyurat di RT, RW dan kelurahan. Periksa kesehatan di puskesmas, serta memasukkan berkas ke Kantor Urusan Agama. Semua telah selesai di urus. Ghina dan Albert tinggal menyiapkan segala keperluan untuk acara pernikahann.
“Loh, kenapa?” Sri mengerutkan keningnya. Wanita itu meluangkan waktunya untuk menemani Ghina berbelanja, menggantikan Galena yang sibuk kerja di luar kota.
“Dia bilang kepingin pesta privat yang dihadiri kerabat dan teman-teman dekat aja. Mungkin tamunya nggak lebih dari serratus orang,” jelas Ghina. Wanita itu menunjuk ke salah satu warna kain yang memikat hatinya.
“Kok aneh? Bukankah sewajarnya, sebuah pernikahan itu diselenggarakan secara besar-besaran? Apalagi ini pernikahan pertama dia,” ujar Sri. “Ghina, kamu udah memperhatikannya baik-baik, kan? Dia nggak punya cewek lain di luar sana?” bisik Sri mengingatkan adik iparnya tersebut.
“Ya ampun, Mbak. Beneran nggak ada apa-apa, kok. Dia cuma takut jadi omongan tetangga, karena aku ini janda,” kata Ghina sambil tertawa kecil. Tapi kemudian dia menghela napas cukup dalam, sejujurnya Ghina juga nggak yakin apa alasan Albert menolak pesta besar. Dia seakan-akan tidak ingin mempublikasikan pernikahannya. Apa benar Albert berniat menikahi dirinya yang seorang janda?
__ADS_1
“Ya Mbak cuma ngingetin aja, biar nggak menyesal belakangan. Tapi memangnya janda nggak boleh pesta gitu?” kata Sri lagi. Perempuan yang memasuki usia kepala empat itu, berjalan di sisi manekin yang menampilkan gaun model kebaya yang apik. Sri lalu meminta Ghina untuk mencobanya.
“Pandangan setiap orang kan berbeda-beda, Mbak. Ada yang bisa memaklumi, ada juga yang suka nyinyirin hidup orang, seakan-akan dia panitia surga,” kata Ghina sambil melengos. Janda muda beranak satu itu sudah banyak menelan nyinyiran tetangga tentang dirinya.
Sri Rahayu tergelak mendengarnya. “Iya juga, sih. Emang omongan tetangga itu lebih pedas daripada cabe habanero mix rawit setan, ya” ujarnya. “Terus Ella gimana?” sambungnya. Dia sudah lama tidak berbicara dengan keponakannya tersebut.
“Perang dingin di antara kami udah berakhir, sejak Mbak datang ke rumah waktu itu. Dia juga nggak menentang hubungan aku dan Albert,” kata Ghina.
“Syukurlah kalau gitu. Semoga ini keputusan yang terbaik untuk kalian bertiga,” sahut Sri.
“Memangnya dia kenapa? Ada masalah lagi?” tanya Sri.
Ghina menatap kakak iparnya selama sepuluh detik. Hatinya ragu, apakah dia perlu menceritakan seragam Ella yang berbau rokok apa tidak. “Nggak ada apa-apa kok, Mbak. Aku cuma cemas aja karena dia mendadak berubah pikiran.” Ghina urung mengatakan yang sebenarnya pada sang kakak.
“Ah, tunggu! Kenapa kamu sibuk mencari kain sendiri? Yang akan menikah ‘kan kalian berdua? Dia niat menikah nggak, sih?” tanya Sri kembali curiga pada Albert.
__ADS_1
“Tadi dia bilang mau menyusul ke sini kok, Mbak. Dia ingin aku yang memilih sendiri jenis dan warna kainnya, lalu dijahit di tempat langganan ibunya,” jelas Ghina membela calon suaminya. “Setelah ini kami juga akan mencari cincin dan memesan catering,” imbuhnya.
...🥀🥀🥀...
“Hm, udah berapa lama ya aku nggak sini? Waktu itu aku masuk untuk meletakkan uang jajannya dan saat dia sedang demam.”
Ghina melangkahkan kakinya ke dalam kamar sang putri yang bernuansa putih. Sprei, tirai jendela, bahkan warna dindingnya memiliki warna yang senada. Kamar mungil itu terlihat sangat rapi, tanpa helaian baju kotor yang menggantung, atau debu yang terselip di sudut ruangan.
“Ella memang anak yang suka kebersihan, persis almarhum papanya dulu,” kata Ghina. “Tapi kenapa aku merasa kamarnya lebih kosong dibandingkan dulu, ya? Kayaknya ada beberapa barng yang hilang?” Ghina mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Dia tetap merasakan kejanggalan di kamar itu.
“Ah, biarain aja, deh. Mungkin dia emang udah nggak gunain barang-barang itu lagi, karena udah mau tamat SMA,” ucap Ghina pada dirinya sendiri. Dia lalu membuka lemari pakaian, dan meletakkan gaun yang baru dibelinya.
Pluk! Sebuah benda terjatuh di atara tumpukan kain dan buku pelajaran. “Astaga! Ini kan?” Ghina terperanjat melihat barang yang baru saja di temukannya. Dia tidak menyangka, putrinya menyimpan benda itu.
(Bersambung)
__ADS_1