
“Kyaaa!” Ella kembali menjerit ketika melalui ruang gym di kediaman Albert tersebut.
“Hah? Astaga! Ella kenapa?”
Albert yang sedang berolahraga segera menghentikan aktivitasnya. Peluh yang mengalir di tubuhnya, membuat baju kaos tipis yang dia kenakan tercetak di tubuhnya. Rambutnya terlihat acak-acakan, tanpa gel rambut yang biasa dia gunakan.
“Kenapa, La?” tanya Albert menyusul Ella yang berlari menuju ke kamar. Bukannya berhenti, Ella malah semakin mempercepat langkah kakinya. “Tuh, kan? Dia pasti melihat sesuatu yang aneh lagi. Apa rumahku beneran ada penunggunya?” pikir pria itu bergidik ngeri.
“Ella kenapa?” tanya Ghina dengan pisau dan wortel di tangannya. Karena mendengar teriakan Ella, wanita itu bergegas berlari dari dapur.
“Aku juga nggak tahu,” jawab Albert sambil mengangkat bahunya.
Beberapa saat kemudian saat sarapan pagi. Ella telah siap dengan seragamnya. Sementara Albert terlihat rapi dengan kemeja dan jas berwarna cokelat muda. Rupanya pria itu hendak ke kantor pagi ini.
“La, kamu serius mau pakai seragam itu ke sekolah?” tanya Albert menyipitkan matanya dan menatap anak gadisnya dengan tajam.
“Iya, hari ini kan jadwal seragam batik,” jawab Ella dengan santai. Gadis itu lalu meletakkan tas sekolahnya di kursi kosong.
“Nggak bisa. Kamu nggak boleh ke sekolah pakai seragam itu,” ujar Albert.
“Kenapa? Terus aku ke sekolah pakai apa? Nanti bisa kena hukum, kalau salah pake seragam,” sahut Ella menolak permintaan sang ayah.
“Tapi rok-mu itu kependekan, Ella,” tegur Albert.
“Lah? Seragamku kan emang sepanjang ini,” Ella mengerutkan keningnya.
“Nggak, itu kependekan. Nanti kalau kamu naik angkot atau ojek, bisa terlihat seksi,” ulang pria itu.
“Kependekan gimana? Ini kan masih sepanjang lutut. Rok sekolah kan emang segini panjangnya,” protes Ella lagi.
“Itu kependekan, Ella. Udah ada setengah sentimeter di atas lutut,” kata Albert seraya membuat garis sejajar dengan jempol dan jari telunjuknya. “Ayo ikut ke tempat kenalan Ayah. Kita beli seragam baru untukmu.”
“Nggak mau,” tolak Ella. “Tanggung banget, aku sebentar lagi lulus SMA,” sambung gadis itu.
“Udah, ikutin aja nasehat ayahmu itu. Ini kan untuk kebaikanmu juga. Kamu masih lima bulan lagi di SMA,” ucap Ghina menengahi pertengkaran antara suami dan anaknya.
__ADS_1
“Tapi nanti mubazir, Ma.” Ella masih tidak terima dengan permintaan kedua orang tuanya.
“Kamu mau menggoda siapa sih, di sekolah pakai rok kayak gitu? Nggak ada, kan?” ujar Albert. “Ikuti perintah Ayah, nanti siap lulus rok-nya bisa kamu sumbangin,” ucap Albert.
“Ide bagus itu, sayang,” sahut Ghina.
Bibir Ella manyun tiga sentimeter ke depan, melihat kekompakan kedua orang tuanya. “Ya udah, aku ikuti permintaan kamu. Eh, maksudnya permintaan Ayah. Tapi dengan satu syarat,” kata Ella dengan lantang.
“Syarat apa?” tanya Albert.
“Sya-syaratnya itu … a-anu …” Ella tiba-tiba gugup untuk mengungkapkannya.
“Apa?” desak Albert.
“Ya itu. K-kalau lagi di r-rumah jangan pakai ce-celana, dong,” ujar Ella gugup.
“Hah? Jangan pakai celana? Jadi harus pakai sarung setiap saat?” tanya Albert dengan wajah bingung.
“Duh, bukan itu maksudku. J-jangan pakai celana p-pendek sama kaos ti-pis. Aku canggung d-dan risih melihatnya,” ungkap Ella sambil menundukkan wajahnya.
Ghina dan Albert saling berpandangan. “Oh, jadi ini yang bikin kamu teriak tadi pagi?” ujar Ghina sambil mencibir ke arah suaminya.
“Oke. Akan Ayah ingat itu,” ujar Albert. “Kalau gitu pagi ini kamu ikut Ayah membeli seragam baru. Setelah itu bar uke sekolah,” lanjutnya.
“Mana ada toko yang buka sepagi ini?” ucap Ella mencari-cari alasan.
“Memang nggak ada. Tetapi Ayah punya kenalan yang bisa kita datangi pagi ini. Tempatnya nggak jauh, kok,” sahut Albert.
Ting! Ella melihat sebuah notifikasi masuk ke HP-nya. “Oke. Aku akan ikut. Tapi nggak sekarang. Karena aku udah dijemput sama abang ojek.” Ella menyambar tas sekolahnya dengan secepat kilat. Dia lalu melesat ke arah pintu keluar.
“Ella, mau ke mana? Sarapan dulu,” panggil Ghina.
“Aku pergi sekolah dulu, Ma. Udah hampir telat, nih,” teriak Ella yang sudah berlari di halaman.
“Ya ampun, dasar bocah nakal. Bisa-bisanya dia kabur gitu aja. Ah, aku kalah saing lagi sama tukang ojek itu,” gerutu Albert yang tidak sempat mengejar Ella.
__ADS_1
“Udahlah, sayang. Biarkan aja dia kali ini. Nanti kita aja yang belikan seragam baru untuknya,” ucap Ghina sambil tertawa.
“Gini ya rasanya punya anak gadis. Sayang, kamu kok dulu bisa sabar sih, menghadapi dia?” tanya Albert sambil mengusap dada.
...🥀🥀🥀...
Keesokan harinya di sekolah, Ella menjadi pusat perhatian teman-temannya. Ada yang tertawa geli melihatnya, ada juga yang memujinya. Tapi seperti biasa, Ella tidak peduli dengan pandangan orang, dan tetap melangkah maju dengan yakin.
"Ciee ... Anak pindahan dari mana, nih? Baju baru, sepatu baru. Dari pesantren Lu, Neng?" goda Anggit dan teman-teman yang lain.
"Berisik! Diem, Lu," jawab Ella dengan garang.
Di antara semua siswi kelas tiga, hanya pakaiannya yang tampak mencolok. Baju putih dan bersih cemerlang. Warna rok yang tak terlihat pudar. Ditambah lagi rok panjangnya yang menutupi sampai ke mata kaki. Tentu tidak ada lagi yang membeli baju baru di akhir sekolah seperti ini.
"La, Lu cantik banget kayak gini. Beneran, deh," ujar Maira.
"Ck, jangan ngejek, Lu," kata Ella kikuk. Rasanya dia beberapa kali tersandung, mengenakan rok panjang itu. Gadis tomboy itu sejak dulu lebih suka mengenakan celana panjang dari pada rok.
"Serius, Gue. Lu anggun banget kayak gini," ujar Maira.
"Mai, tunggu sampai dia duduk ntar," kata Naya cekikikan.
"Maksudnya duduk ala cowok?" tawa Imelda sambil memegang perutnya yang keram karena tertawa.
"Awas aja kalian ntar," kata Ella mendelik tajam. Naya dan Imelda masih terus tertawa. Mereka berdua tidak takut pada ancaman Ella.
"Halah, si paling caper. Sok paling cantik," gumam Dewi yang duduk di belakang. Hatinya panas melihat Ella menjadi pusat perhatian.
"Gaes, ayo cepet duduk. Bu Elya datang, tuh," seru Anggit di antara anak-anak sekelas. Para siswa yang tadi berkerumun dan ribut, bergegas kembali ke kursi masing-masing.
"Selamat pagi, anak-anak," ucap Bu Elya ketika melangkahkan kaki ke dalam kelas. Pandangannya sempat berhenti sejenak, saat melihat Ella.
"Jadi Ibu ada membawa angket berisi pertanyaan, tentang yang ingin kalian lakukan di masa depan, baik itu kuliah, karir dan hal lainnya. Isi di rumah, dan ditandatangani oleh orang tua, lalu besok kembalikan lagi pada Ibu," ujar Bu Elya.
"Baik, Bu," jawab anak-anak dengan kompak.
__ADS_1
"Ingat, ya. Yang tanda tangan harus orang tua kalian. Ibu bisa tahu kalau kalian memalsukan tanda tangan.
(Bersambung)