Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 117. Jangan Mencintainya


__ADS_3

"Kenapa sih dari tadi manyun mulu?" tanya Albert sambil mengemudi.


"Emangnya tadi siapa yang bikin aku badmood?" balas Ella sambil menyandarkan kepalanya ke kursi mobil yang empuk.


"Kamu kesal, karena Ayah bicara begitu di depan cowok itu tadi? Ayahkan sudah menjawab pertanyaannya, kalau Ayah bukanlah pacarmu," kata Albert.


"Ethan... Namanya Ethan..." kata Ella mendengus kesal.


"Ya ... itulah pokoknya. Kamu naksir dia?" selidik Albert.


"Emang kenapa kalau aku naksir dia? Nggak masalah kan? Toh aku dah kuliah gini," balas Ella masih merasa kesal.


"Kamu harus hati-hati dalam memilih cowok. Kamu kan baru aja kenal sama dia. Jangan cuma gara-gara ganteng, lalu kamu tergoda," kata Albert.


"Kata-kata Ayah nggak salah, sih," ujar Ella. "Tapi bisa nggak sih, kasih aku kesempatan dulu untuk mengenalinya? Jangan terlalu over protective gini," protes Ella mengungkapkan isi hatinya.


"Ayah akan melepasmu, kalau Ayah sudah beneran mengenalinya dan dia orang baik," kata Albert.


"Dulu Ayah nggak begini sama Daniel. Kenapa sekarang protective banget, sih?" kata Ella.


"Karena Ayah tahu, kamu nggak menyukai Daniel. Dan Daniel juga nggak menyukaimu. Lagian Ayah Daniel itu menjaga sikap putranya banget," jawab Albert dengan lantang.


"Jadi aku nggak boleh menyukai siapa pun? Ternyata pikiran Ayah licik banget, ya," kata Ella penuh emosi.


Albert terdiam. Dia baru sadar, kalau kalimatnya di artikan berbeda oleh Ella, putrinya. "Ella, bukan begitu maksud Ayah. Maaf kalau kamu salah paham. Ayah hanya ingin kamu berhati-hati dalam memilih teman," ujar Albert.

__ADS_1


Ella terdiam cukup lama. Tapi kemudian, dia tidak menyangkal kalimat ayah tirinya tersebut. "Baiklah, aku mengerti. Maaf juga kalau tadi aku salah paham," kata Ella. "Sekarang giliran ayah, deh. Pasti ada masalah lagi, kan? Sampai maksa-maksa aku pulang gini," sambungnya.


Albert mengurangi laju kendaraannya. Pria itu mendadak gugup. "Ayah bingung mesti mulai dari mana. Tapi, gimana kalau seandainya kamu punya adik?" tanya Albert dengan napas tertahan.


"Maksudnya mama hamil? Nggak usah khawatir. Pikiranku udah nggak kayak zaman SMA lagi. Tentu aja aku senang, kalau punya adik," kata Ella riang.


"Ella, kamu salah paham. Maksud Ayah bukan seperti itu. G-gi-ma-na ka-lau kamu rupanya udah memiliki adik dari wanita lain, dan aku ayahnya?" kata Albert gugup.


"Coba ulangi lagi? Aku nggak salah dengar, kan? Kamu selingkuhi mamaku?" Ella sangat marah mendengarnya.


"La, ini baru kemungkinan aja. Belum tentu benar," kata Albert pasrah menerima kemarahan Ella.


"Pokoknya aku mau mendengarnya secara lengkap. Aku nggak akan biarkan kamu menyakiti mamaku," kata Ella tegas. Meskipun dulu dia dan sang mama bersaing untuk mendapatkan Albert, tetapi dia tidak membiarkan mamanya sakit karena pria itu.


"Gimana hasil tesnya?" tanya Ibunda Albert pada sang menantu, ketika Ghina keluar dari ruangan bidan.


Ghina menggelengkan kepala dengan wajah sedih. Tangannya menunjukkan sebuah tes kehamilan bergaris satu. Warnanya sudah memudar, karena warna hasil tes urin tersebut, hanya bertahan selama sepuluh menit. Ghina juga menunjukkan selembar kertas, hasil tes dari bidan tersebut.


"Nggak apa-apa, Nak. Pernikahan kalian kan belum satu tahun. Ibu juga nggak menuntut cucu, kok. Yang penting kalian sehat," jawab sang ibu mertua lagi.


"Tapi di mana-mana seorang ibu pasti menginginkan cucu," kata Ghina dengan wajah sedih.


"Mama kan sudah punya cucu yang pintar dan cantik. Calon apoteker hebat, pula," jawab Ibunda Albert tersebut.


"Terima kasih, Ma. Aku senang sekali punya mertua yang sayang banget sama aku dan anakku." Ghina memeluk ibu mertuanya.

__ADS_1


"Mama antar kamu ke restoran, ya. Sekalian Mama pulang," kata wanita itu.


"Apa nggak ngerepotin Mama? Aku bisa pulang pakai taksi atau minta jemput Albert saja," ujar Ghina sungkan.


"Nggak, dong. Ibu malah senang, jadi ada teman ngobrol di jalan," kata sang ibu mertua.


Mobil sedan mewah itu pun meluncur di jalanan ibukota yang cukup ramai. Dua puluh menit kemudian, mereka pun hampir sampai di restoran Jepang, yang dikelola oleh Ghina.


"Loh, Ghina. Mama nggak salah lihat, kan? Itu suamimu dengan wanita pemasok bahan baku dapur kita?"


"Lilibeth?" gumam Ghina. Wanita itu langsung turun dari mobil dan menemui Albert dan wanita itu.


"Ghina?" Albert terkejut melihat kedatangan Ghina dan mamanya yang tiba-tiba.


"Al, kenapa kamu diam? Aku nggak mau Ghina salah paham," kata Lili.


"Oh, kalian udah kenal rupanya?" kata Ghina hampir menangis.


"Ghina, tolong dengarkan aku. Ini nggak seperti yang kamu kira." Lili menggenggam lengan Ghina erat-erat. "Al, tolong bicara. Kamu mau bikin istrimu menangis karena salah paham?" desak Lilibeth.


"Dia kakak kelasku waktu kuliah S2 dulu," jawab Albert dengan gugup.


"Terus?" tanya sang mama yang berdiri di belakang Albert.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2