Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 65. Pindah


__ADS_3

"Sayang, biarkan Ella memilih mau tinggal di mana," ujar Albert menengahi.


"Tapi masa dia tinggal sendiri?" protes Ghina.


"Dia kan sudah dewasa," timpal Albert.


"Nggak. Aku nggak izinkan," Ghina tetap bersikeras hendak membawa Ella.


"Berikan Ella kepercayaan. Dia kan sudah dewasa, bisa menjaga diri," bujuk Albert.


"Dia itu masih berada di bawah tanggung jawab kita, Al," ujar Ghina lagi.


"Iya, aku tahu. Tinggal sendirian kan bukan berarti kita lepas tangan dari tanggung jawab," jelas Albert.


"Memangnya kamu berani tinggal di sini sendirian? Kalau kamu sakit, bangun kesiangan dan lain sebagainya, siapa yang akan merawatmu?" omel Ghina pada Ella.


Ella menghela napasnya. "Ada benarnya juga kata Mama. Tapi apakah aku bisa bertatap muka dengan dia setiap hari? Tadi pagi aja aku sampai pingsan di sekolah, gara-gara nggak bisa tidur dan kepikiran terus?" pikiran Ella berkecamuk.


"Pokoknya kamu harus ikut Mama," paksa Ghina.


"Nggak mau, Ma. Aku nggak bisa nyaman tinggal di sana." Albert langsung menatap Ella dengan tajam, saat mendengar kalimat dari gadis itu. "Ah, maksudku ... Aku nggak bakalan bisa meninggalkan rumah ini dan tinggal di sana," ralat Ella.

__ADS_1


"La, kalau kamu ingin tinggal di sini, silakan. Tapi dengan syarat, harus pandai menjaga diri. Tapi kalau besok-besok mau tinggal bersama kami, kami selalu menerima mu kapan pun aja," ujar Albert.


"Ssst... Sayang. Aku kan belum kasih keputusan." Ghina masih tidak setuju.


"Kamu berani sendirian malan-malam?" tanya Ghina lagi, berusaha menggoyahkan Ella.


"Ma, anggap aja aku lagi ngekos. Belajar mandiri. Aku berani, kok," ucap Ella pula. Keduanya sama-sama keras kepala.


"Mungkin di sini banyak kenangan yang nggak bisa ditinggalkan. Jangan paksa dia untuk selalu ikut kehendak kita, selama itu nggak salah," ucap Albert.


"Sayang, kamu kok belain dia terus, sih?" protes Ghina.


Sementara Albert berbicara dengan sang istri dengan lembut. Dia tahu, Ella tidak akan nyaman tinggal bersamanya, dengan perubahan status mereka saat ini.


"Mungkin di sini banyak kenangan yang nggak bisa ditinggalkan. Kenangan masa kecilnya, kenangan tentang papanya. Nanti sesekali Ella bisa menginap di rumah kita. Iya kan, La?" Albert menatap Ella sambil tersenyum.


"I-iya. Rumah ini menyimpan banyak kenangan antara aku sama papa," jawab Ella sambil memutar bola matanya.


"Kamu bohong, kan? Kamu selalu bicara terbata-bata dan mengalihkan pandangan kalau sedang berbohong," ujar Ghina.


"Nggak, Ma. Aku emang belum bisa move on dari rumah ini. Rumah ini juga dekat dari sekolah," kata Ella.

__ADS_1


"Beneran? Bukan karena kamu ingin bebas bermain dan merokok sama teman-temanmu?" desak Ghina.


"Ma, aku nggak merokok. Dan aku bakal buktiin keseriusanku dengan prestasi," jawab Ella dengan tegas.


"Nggak. Mama tetap nggak izinkan," balas Ghina.


"Jangan dipaksa, Ghina. Putri kita bukan anak kecil lagi," ucap Albert menengahi.


"Putri kita? Emang bener sih. Tapi kok nyut gitu ya dengarnya. Lancar banget dia ngomongnya," batin Ella semakin nggak sanggup melihat kedekatan Albert dan mamanya.


"Huh, ya sudah. Mau gimana lagi? Kamu keras kepala banget, sih," ujar Ghina mengalah. "Janji, ya. Kamu harus bisa jaga diri. Jangan macam-macam di sini. Apalagi bawa teman laki-laki," tambah Ghina.


"Iya, Ma. Aku janji. Lagian aku nggak punya teman laki-laki, kok," ujar Ella.


"Ehem! Perasaan kemarin katanya banyak, deh," celetuk Albert sambil menyeringai tipis. Ella langsung salah tingkah.


"Hmm?" Ghina mendelik tajam pada putrinya. Dia hampir saja membatalkan keputusannya barusan.


"Itu kan teman sekelas, Ma," kilah Ella.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2