
Ella menghapus make up di wajahnya sambil melamun. pandangan yang kosong menghadap ke depan. Terlalu banyak kejadian mengejutkan hari ini yang harus dia cerna di dalam otaknya.
"Katanya mereka nggak bakal berbuat apa-apa. Eh, tiba-tiba malah kedua berandal itu mereka ke restoran. Setelah itu malah memberikan rekening yang berisi jutaan rupiah padaku."
Ella yang tidak tahu-menahu dengan rencana Albert, cukup terkejut dengan kehadiran kedua pembully itu di restoran. Gadis yang sedang asyik belajar itu, dipaksa Albert untuk berdandan rapi lalu diseret ke restoran.
"Hah! Ada-ada saja pria itu," gumam Ella. Dengan cara apa dia membujuk kedua orang itu mengunjungi restoran? Apa itu yang dimaksud Cleo kemarin? Pria tampan yang menggunakan wajahnya Untuk memanipulasi pikiran orang," tanya Ella pada Luna yang duduk di sebelahnya.
"Bener-bener cowok yang mengerikan. Aku dulu juga hampir terjebak dengannya." Ella bergidik ngeri mengingat, dia pernah menaruh hati pada pria itu. "Luna, kamu juga memiliki pendapat yang sama denganku, kan?" sambung Ella.
Luna tidak menanggapi kalimat Ella. Sahabat baru gadis cantik itu, hanya memejamkan matanya sambil mendengkur.
"Astaga! Nggak setia kawan banget sih, kamu? Orang lagi ngobrol malah ditinggal tidur." Ella mencolek bahu Luna untuk membangunkannya.
"Mreeeew ..." Kucing berbulu putih itu menggulingkan tubuhnya menjauhi Ella. Iya, sahabat baru Ela itu adalah seekor kucing.
Bruk! Ella merebahkan tubuhnya ke atas kasur yang empuk. "Duh, kira-kira apa yang dipikirkan Dewi sama Kiki, ya? Mereka pasti bertanya-tanya siapa Albert itu? Tapi kok bisa bisanya pria itu malah memamerkan cincin kawinnya? Bikin bete aja, deh." Pikiran Ella kembali berkecamuk.
"Luna, sebaiknya aku apakan uang dalam rekening ini?" tanya Ella sambil mengusap tubuh Luna.
...🥀🥀🥀...
"Selamat pagi, Neng Ella. Kamu mau pergi sekolah, ya?" Seorang wanita berdaster merah yang sedang menyapu halaman, menyapa Ella dengan ramah. Kening gadis remaja tersebut berkerut, melihat kejadian yang tidak biasa.
"Ah, Jangan cemberut gitu. Ibu minta maaf soal kejadian beberapa hari yang lalu. Kata-kata Ibu memang sangat keterlaluan," ujar wanita berdaster itu.
"Oh iya, Bu. Nggak papa," sahut Ella terbata-bata. "Kalau begitu saya permisi dulu, Bu. Saya harus segera pergi sekolah." Ella bergegas pergi dari sana.
__ADS_1
Ternyata bukan ibu berdaster tadi saja yang bersikap aneh. Ketika Ela berpapasan dengan ibu-ibu lainnya, mereka juga menyapa Ella dengan sangat ramah.
"Apa yang udah dilakukan Albert bersama ibu-ibu itu ya? Kenapa mereka tiba-tiba berubah menjadi baik? Apa The Power of emak-emak kalah dengan ketampanan Albert?" Ella bertanya pada dirinya sendiri.
Sesampainya di sekolah, Ela dibikin pusing dengan kawan-kawannya mengerubunginya. "Ella kata Dewi kamu adalah pemilik restoran Jepang, ya?" tanya beberapa siswa dan siswi yang selama ini tidak terlalu akrab dengan Ella.
Dewi menatap Ela dengan tajam dari sudut ruangan. Bibirnya tersenyum sinis. Seakan-akan dia menantang Ella untuk membuktikan, bahwa Ela benar-benar pemilik restoran Jepang itu.
"Gimana ini bisa terjadi? Apa yang dibilang Dewi itu benar?" bisik Maira dan Naya.
"Iya, itu benar. Nanti aku akan menjelaskan semuanya guys," jawab Ella, menenangkan kedua sahabatnya itu.
"Ella, traktir kami masakan Jepang juga, dong. Masa hanya Imelda, Maira dan Naya saja yang ditraktir?" pinta mereka.
"Soal itu ... " Ella menghentikan kalimatnya yang belum selesai. "Aku harus jawab apa, nih?" pikir Ella bingung.
"Nah, benar juga. Malah kalian kemarin ikut-ikutan membully-nya," timpal Maira.
Ella membalas tatapan tajam dari Dewi di sudut ruangan. Sementara Kiki tampak mengasingkan diri di mejanya. Entah apa sebabnya? Gadis yang biasanya terkenal angkuh itu, tidak mau ikut campur dengan masalah Ella kali ini. Putri tunggal dari Albert Candra Putra itu, tidak mengetahui jika Ayahnya adalah bos dari orang tua Kiki.
Ella melangkahkan kakinya secara perlahan ke arah Dewi. "Kenapa kamu bikin masalah baru? Bukannya kamu masih memiliki hutang padaku?" kata Ella.
"Eh, soal apa ya? Aku kan sudah memberitahu fakta bahwa kamu adalah pemilik restoran," kilah Dewi memberikan alasan.
"Oh ya? Kamu lupa, ada satu hal lagi yang harus kamu katakan?" desak Ella. "Kiki, kamu masih ingat kan?" Ella melemparkan pertanyaan itu, kepada Kiki.
Kiki menghela nafas panjang. Gadis itu mengepalkan tangannya lalu berdiri di tengah-tengah kelas. Wajahnya terlihat sangat tegang, seperti saat ulangan matematika.
__ADS_1
"Gaes, sebenarnya aku mau ngomong sesuatu. Ucapanku dan Dewi tempo hari adalah kebohongan. Ella bukan anak haram. Dan ibunya Ella juga bukan seorang simpanan," kata Kiki mengungkap semua fakta yang di dengarnya kemarin.
Semua siswa di kelas tercengang mendengar pengakuan Kiki. Bukan tanpa alasan. Selama ini Kiki dikenal sebagai cewek Arogan yang tidak pernah mengakui kesalahannya.
"Yang kamu bilang itu benar, Ki? Sejak awal Kami memang tidak percaya, sih," sahut beberapa anak di kelas.
"Iya benar. Aku minta maaf ya, La."
"Oke. Sesuai janjiku kemarin, aku akan memaafkanmu," jawab Ella sambil tersenyum.
"Tapi guys, aku pernah mendengar cerita dari salah seorang guru, Kalau di kelas kita ini nggak beneran ada anak hasil selingkuhan. Di dalam akta kelahirannya hanya tertulis nama ibunya," celetuk salah seorang siswi.
"Benar, aku juga pernah mendengar hal itu.
Bahkan sampai sekarang Ibunya masih menjadi wanita simpanan," kata yang lain menambahkan.
Wajah Dewi mendadak merah pada mendengar tuduhan itu. Nyalinya langsung ciut. Matanya menatap nanar ke sekeliling.
"Untuk apa sih kita pikirkan hal itu?" celetuk Ella tiba-tiba. "Tugas kita disini 'kan belajar. Bukan untuk menghakimi keluarga orang lain," lanjut gadis itu. Ela tahu betul, siapa yang sedang mereka omongin sekarang.
"Hahaha, bener juga. Dari pada kita ngomongin itu, mendingan kita belajar untuk persiapan try out nanti," ujar Imelda menambahkan.
Bersamaan dengan itu lonceng pun berbunyi. Para siswa segera kembali ke mejanya masing-masing. Mereka yang tadi terlalu sibuk memikirkan Ella, sekarang merasa panik karena tidak siap menghadapi try out.
Bruk! Dewi menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi. Tubuhnya benar-benar lemas. Dia masih tidak percaya, hasutan disebarkan kepada teman-teman sekelas tadi tidak mempan terhadap Ella. Justru sekarang dirinya yang merasa terpojok.
"Siapa guru yang mengetahui rahasia mama? Apa Bu Elya wali kelasku? Atau kepala sekolah? Sejak kapan dia mengetahuinya? Bisa awat kalau fakta itu tersebar," batin Dewi yang merasa sangat cemas.
__ADS_1
(Bersambung)