
"Sepi, benar-benar kosong."
Ella rebahan di atas tempat tidurnya sambil menatap langit-langit kamarnya yang banyak bercak bekas bocor. Setelah acara tadi, Tante Galena dan Bibi Sri langsung kembali ke rumahnya diuar kota. Sementara Ghina dan Albert tetap tinggal di hotel untuk berbulan madu. Ella pun pulang sendirian ke rumah.
"Status mama telah berubah, dari asisten rumah tangga menjadi nyonya dari tuan muda kaya raya," gumamnya sambil menghela napas berkali-kali.
Hati Ella seperti berada di atas perahu, terombang-ambing tanpa tujuan yang jelas. Hatinya resah karena berbagai hal yang berputar-putar di kepala. Dia merasakan, jika dirinya merasa kesepian saat ini.
"Ish, teman-teman ke mana, sih? Diajakin chatting gak ada yang balas," gerutu Ella bolak-balik melihat ponselnya yang sepi. "Apa udah pada tidur, ya? Tapi ininkan baru pukul sembilan malam?"
"Ini malam pertamaku tinggal sendirian di rumah ini. Kira-kira aku berani nggak, ya?" ucap Ella pada dirinya sendiri. "Eh, tunggu! Malam pertama?" Tiba-tiba darahnya berdesir, dia teringat sesuatu.
"Ah, aku nggak bakal punya adik lagi, kan? "
Mama dan Al pasti sekarang sedang..." Pikiran Ella travelling ke mana-mana. "Astaga. Aku mikirin apa, sih? Dia udah resmi jadi a-ayah sambungku."
__ADS_1
Ella malu sendiri mengingat pikirannya tadi.Tapi lidah dan hatinya masih kelu, menyebut pria itu sebagai ayahnya.
"Udah, ah. Mending tidur aja. Besok aku harus upacara." Ella lalu mematikan lampu kamar, dan bersiap untuk tidur.
"Hmm... Kok tiba-tiba bau bunga melati, ya? I-ini bukan malam jumat kliwon, kan?" Ella merinding ketakutan.
Kriet... Kriet... Terdengar derit jendela dapur. Jantung Ella berdetak semakin cepat.
"I-itu suara apa lagi? Kok jadi horor gini, sih? Perasaan pas ada mama di rumah, nggak pernah ada kejadian apa-apa, deh." Ella menarik selimutnya dan membenamkan dirinya di balik kain tebal tersebut.
Sesaat kemudian, raut wajahnya kembali kecewa. "Ah, dari dia rupanya," kata Ella. Dia lalu membuka pesan dari ayah barunya tersebut.
"Berani kan di rumah sendirian? Jangan lupa kunci semua jendela dan pintu. Kalau ada apa-apa telepon Mama atau Ayah, ya?" tulis Albert dalam pesannya.
"Ckk! Gampang banget dia nyebut dirinya ayah?" gerutu Ella. "Ah, aku jadi teringat sesuatu. Pantes aja bunyi-bunyi, orang aku lupa kunci jendela. Bau melati itu pasti dari bunga melati milik tetangga sebelah," gumamnya lega.
__ADS_1
Ella pun membalas pesan Albert. "Aku berani, kok. Aku bukan anak kecil lagi," tulisnya.
"Oh, syukurlah. Aku tadi merasa nggak tenang, karena kamu pulang sendirian," balas Albert lagi. Ella hanya membacanya, tanpa membalasnya lagi.
"Sayang, kok dari tadi sibuk sama HP? Kamu lagi chat siapa, sih?" tanya Ghina yang menyembunyikan tubuhnya di balik selimut. Wajahnya tampak cemberut, karena sang suami sibuk dengan benda gepeng tersebut.
"Ah, ini dari temanku. Tapi udah selesai, kok. Jangan cemberut, dong. Kamu jelek kalau lagi ngambek," ujar Albert seraya meletakkan HP-nya ke atas meja. "Ah, tunggu! Kenapa aku berbohong pada Ghina? Kenapa aku nggak bisa jujur kalau habis mengkhawatirkan Ella?" gumam Albert dalam hati.
"Kok melamun, sih? Ada apa lagi?" Ghina menarik lengan Albert, agar segera berbaring di sebelahnya.
"Nggak ada apa-apa, kok." Lagi-lagi Albert berbohong. "Kamu belum tidur, kan? Mending kita lanjut ronde tiga, yuk," ajak pria itu seraya mengecup kening istrinya.
"Lagi? Emang masih kuat?" seru Ghina tersipu malu.
(Bersambung)
__ADS_1