
Tin! Tin! “Woi! Cepetan jalan! Udah lampu hijau, tuh,” teriak para pengemudi di belakang mobil Albert. Mereka berulang kali membunyikan klakson untuk menyuruh Albert segera jalan.
“Gawat! Gara-gara memikirkan cerita Ghina tadi malam, aku jadi nggak fokus,” gumam Albert yang tersadar dari lamunannya. Pria itu segera menginjak pedal gas dengan kecepatan penuh.
“Duh, apa lagi yang terjadi sama Ella? Aku nggak bisa lanjutin hubunganku dengan Ghina, kalau kondisi Ella masih belum stabil. Nantinya aku cuma nambahin masalah baru buat Ghina.”
Albert terus bergelut dengan pikirannya sendiri. Gambaran gadis manis berkulit kuning langsat dan bola mata cokelat itu tercetak jelas dalam kepalanya. Parasnya yang sangat cantik, serta rambutnya yang berwarna cokelat, membuat semua orang berpikir bahwa bocah itu adalah darah campuran alias blasteran. Tapi siapa sangka, dia memiliki darah asli Indonesia.
“Ya, dia memang gadis paling cantik yang pernah ku kenal. Pasti setelah dewasa nanti, dia akan semakin cantik,” ucap Albert pada dirinya sendiri. Dia tidak memungkiri, jika putri tunggal kekasihnya itu selalu menarik perhatian kaum adam, termasuk dirinya. Tapi tidak banyak yang tahu jika Ella yang sekarang, sangat berbeda dengan Ella yang dulu.
Sejak awal mereka saling kenal, Albert mengenal Ella sebagai gadis yang pemurung dan pendiam. Bocah perempuan itu juga hampir tidak memiliki teman. Sepulang sekolah, Ella lebih banyak mengurung diri di kamar, dan menulis di buku diary hadiah dari ayahnya.
Hari demi hari Ella habiskan seorang diri tanpa teman bicara. Albert pun perlahan mendekatinya, menjadikannya sebagai teman pria pertama gadis belia tersebut. Tak jarang mereka saling curhat dan menonton Film bersama di rumah. Perlahan senyuman manis gadis itu pun kembali. Beranjak ke jenjang SMA, Ella sudah mampu bergaul dengan lebih banyak teman. Sikapnya pun jauh lebih ceria.
“Sayangnya siang ini aku harus ke pelabuhan untuk mengecek barang masuk. Kalau nggak, aku pasti akan memantaunya langsung ke sekolah,” gumam Albert. Pria itu takut, sikap Ella kembali jadi pemurung seperti dulu, atau bahkan lebih buruk lagi.
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
Tling! Sebuah pesan dari Ella, masuk ke HP Albert, ketika pria itu baru saja mengecek barang masuk di pelabuhan. “Tumben dia menghubungiku duluan?” pikir Albert. Jemarinya bergerak lincah di atas layar, membuka pesan dari Ella.
“Apa mama sedang bersamamu?” tulis Ella dalam pesannya.
“Nggak,” balas Albert. “Apa ini? Dia semakin mencurigai aku dan Ghina?” gerutu Albert kesal.
“Ada apa, Pak?” tanya salah seorang pegawainya, ketika mendengar Albert menggerutu.
“Oh, nggak ada apa-apa. Aku ada urusan sebentar. Kalian lanjut aja,” ujar Albert sambil menjauh dari dermaga. Tling! Tling! Tling! Beberapa pesan diterima oleh Albert secara beruntun.
“Kamu sedang apa?”
“Apa mama ada menghubungimu?”
Kening Albert berkerut, ketika membaca serentetan pesan dari Ella. “Aneh? Tumben dia bertanya seperti itu? Apa terjadi sesuatu sama Ghina?” pikir Albert mulai cemas.
“Kamu di mana? Cepat jawab.” Ella kembali bertanya. Albert lalu menelepon Ella.
__ADS_1
“Halo?” jawab gadis itu di seberang sana. Suasana di belakangnya terdengar ramai. Sepertinya sedang jam istirahat.
“Aku lagi kerja di pelabuhan. Ada apa dengan mama kamu?” tanya Albert.
“Cih, lihat tuh. Kalau menyangkut mama, dia pasti langsung gerak cepat,” gumam Ella pada dirinya sendiri.
“Apa?” Albert tidak bisa mendengar jelas ucapan Ella.
“Ah, bukan apa-apa. Sampai jam berapa mama di rumahmu tadi? Apa ada seorang cowok yang meneleponnya?” tanya Ella.
“Cowok? Siapa dia? Aku nggak tahu, La. Tadi aku pergi duluan waktu Ghina sedang menjemur pakaian. Sebenarnya ada apa, sih?” Albert semakin merasa cemas. Dia juga merasa nggak senang, mendengar Ghina ditelepon cowok lain.
“Aku sebenarnya gak mau menghubungimu, dan bergantung lagi padamu. Tapi saat ini Om dan Tante lagi di luar kota. Cuma kamu satu-satunya yang bisa membantu mama,” kata Ella. “Tapi cowok itu mengajak mama ketemuan hari ini. Aku jadi cemas,” lanjut siswi SMA tersebut.
"Ketemuan?" Albert semakin marah mendengarnya. Siapa sih yang mengajak calon istrinya ketemuan?
(Bersambung)
__ADS_1