
"Ayo cepat kita bereskan, sebelum Ella pulang," ajak Albert.
Terlambat! Ella telah berdiri di depan pintu kamarnya. Dia melihat Ghina dan Albert berpelukan dengan erat.
"Ella? Tumben udah pulang?" Albert langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Ghina.
Ghina terkejut mendengar Albert menyebut nama putrinya. Dia lalu buru-buru membereskan isi kotak kayu tersebut.
"Iya, di warnet tadi lagi nggak rame. Pada sibuk persiapan ujian. Mama cari akte kelahiran dan ijazah SMP-ku, kan? Sudah ketemu berkasnya, Ma?" Ella berbicara dengan nada dan wajah yanh datar. Tidak terlihat ekspresi sedih atau marah darinya.
"Be-belum. Memangnya kamu simpan di mana?" tanya Ghina dengan gugup. Tangannya yang masih gemetar membolak balik kertas yang berserakan di hadapannya.
Gadis SMA itu mengambil sebuah kunci di laci dalam lemari bukunya. Dia membuka lemari kerja milik mendiang papanya, lalu mengeluarkan berkas yang dibutuhkan. "Ini berkasnya. Maaf bikin Mama susah sampai membongkar semuanya." Lagi-lagi Ella berbicara dengan nada datar.
"Ah, ternyata disimpan di situ? Kenapa nggak terpikirkan tadi?" ucap Ghina memaksakan senyum di wajahnya.
"Apa sekarang yang ada di hatinya? Aku justru khawatir kalau ia seperti ini. Isi hatinya tidak bisa ditebak. Tak mungkin dia nggak melihat buku diary-nya berserakan," batin Albert panik.
Ella menyusun semua kertas berwarna warni itu kembali ke dalam kotak kayu tua peninggalan mendiang ayahnya, hingga kamar kembali rapi. Tanpa meminta bantuan pada siapa pun, Ella menaiki kursi plastik dan mengangkat kotak kayu itu kembali ke tempatnya semula.
"Kebetulan kamu udah pulang, mau makan bareng?" ajak Albert mencoba mencairkan suasana.
"Nggak usah. Tadi ke sini bareng teman. Dia nunggu di warung bakso depan gang. Kami tadi janjian mau belajar kelompok di rumahnya," ujar Ella.
Bocah itu menyimpan tas sekolahnya, lalu meraih sebuah jaket yang ada di salam lemari. "Ma, aku pergi dulu. Temanku pasti udah kelamaan nunggu," pamitnya tanpa mengganti seragam sekolahnya. Ella menyalami Ghina dan Albert kemudian berlalu pergi.
"Dia hanya pamit pada Ghina. Apa dia masih canggung memanggilku ayah?" pikir Albert sedikit kecewa. Ekor matanya mengikuti gerakan wanita yang mulai beranjak dewasa itu tanpa berkedip. Albert masih merasa sangat khawatir dengan sikap dingin Ella saat ini.
"Menurutmu Ella aneh nggak sih? Seperti menghindari kita," ujar Albert setelah Ella pergi.
__ADS_1
"Iya, menurutku juga gitu. Lebih baik dia marah atau nangis sekalian di depanku dari pada kayak gini," balas Ghina. "Aku khawatir dia menderita luka lebih dalam lagi," sambungnya lagi.
...🥀🥀🥀...
"Lah? Cepat banget datangnya? Kok nggak jadi ganti baju?" Tanya Maira, ketika Ella memasuki warung bakso itu.
"Bakso pesanan Maira sama Melda belum dibikin nih," timpal Naya pula.
"Baksonya dibungkus aja. Makan di rumah Naya sambil belajar, biar nggak kelamaan," usul Ella.
"Oh bener juga," ujar Imelda. "Mas, baksonya dibungkus aja. Jangan lupa yang dua pesanan tadi cabenya dibanyakin," seru Imelda pada pedagang bakso.
"Siap, Dek."
"Ella, kamu abis nangis? Mata kamu kok merah banget. Apa yang terjadi di rumah tadi? Kamu juga nggak ganti baju seragam?" Maira memperhatikan wajah Ella yang tampak kusut dan muram itu. Padahal tadi ketika mereka menjemput Ella di warnet, gadis itu tampak ceria seperti biasanya.
"Mereka pasti udah baca isi diaryku, kan? Sebanyak apa yang mereka baca? Apa tanggapan mereka setelah ini? Rasanya aku nggak punya muka lagi untuk ketemu mereka. Apa mama bakalan marah padaku?"
Gadis itu tenggelam dalam pikirannya. Tadi dia sempat mendengarkan obrolan ayah dan ibunya sebentar. Ghina menangis di dalam pelukan sang suami, yang juga merupakan cinta pertamanya. Tetapi karena Ghina menangis, Ella tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan wanita itu.
"La, ayo! Baksonya udah dibayar, nih." Imelda menepuk bahu Ella untuk membuyarkan lamunannya.
...🥀🥀🥀...
“La, itu cabe sama saosnya nggak kebanyakan? Kamu nggak kuat pedes, kan?” tegur Imelda yang menuangkan cabe dan saos ke dalam mangkok bakso, lebih banyak dari biasanya.
“Nggak, kok. Aku emang lagi pengen makan pedes,” jawab Ella memberikan alasan.
“Hati-hati, La. Nanti perutmu sakit malah nggak bisa belajar,” ujar Maira mengingatkan.
__ADS_1
“Hehehe, gak usah kawatir guys,” kata Ella sambil menyendokkan kuah baksonya ke mulut. “Akh! Ternyata beneran pedes banget!” batin Ella menjerit ketika Zat Capsaicin yang terdapatpada cabai membakar lidahnya.
“Tuh, pedes, kan? Matamu sampai berair, lho. Nih minum.” Imelda menyerahkan segelas teh manis hangat pada Ella.
“Thanks,” kata Ella. “Hei, bener juga. Kalau aku kepedesan kan jadi bisa nangis sepuasnya tanpa dicurigai mereka.” Sebuah ide gila namun gemilang, tiba-tiba saja muncul di kepala bocah itu. Setelah meneguk seperempat gelas dari teh manis tersebut, Ella kembali menyendokkan bakso ke mulutnya dengan semangat.
“Dia kenapa, sih? Sejak balik dari rumahnya kelihatan aneh,” bisik Naya pada Maira dan Imelda. Kedua temannya tidak menyahut. Mereka melongo melihat Ella yang makan bakso dengan lahap, bagaikan kesetanan.
Usai mengisi lambung tengah, empat sekawan itu lalu membuka buku pelajaran mereka masing-masing. Sebuah buku kumpulan soal milik Imelda, diletakkan di tengah-tengah untuk digunakan bersama.
Kali ini Ella membuat ulah baru. Gadis yang selalu menempati rangking satu di kelas bahkan di sekolahnya itu, mengerjakan soal latihan dengan sangat lancar. Dia sangat bersemangat menulis jawaban di halaman bukunya.
Naya, Maira dan Imelda melongo melihatnya. Memang bukan hal aneh, jika kepala Ella sangat lancar ketika membahas pelajaran, terutama pelajaran sains. Tapi tetap aja ada yang mengganjal.
“Kenapa kalian lihatin aku kayak gitu? Kalau nggak paham tanya aja,” kata Ella dengan sangat percaya diri.
“La, aku bukannya mau mematahkan semangatmu. Tapi soal latihan yang kamu kerjakan ini kan udah dibahas di sekolah tadi,” ucap Maira dengan sangat hati-hati.
“Beneran? Kok aku nggak ingat?” tanya Ella dengan wajah memerah karena malu.
“Iya. Soal nomor enam belas dan dua puluh sembilan kan kamu yang ngerjain di depan. Itu loh, yang sampai berdebat sama Anggit tadi,” jelas Maira.
Pluk! “Astaga! Bodohnya aku!” Ella menepuk jidatnya dengan ujung pena yang dia pegang. Wajahnya merah padam bak kepiting rebus karena menahan rasa malu.
"Sebenarnya aku cuma pengen mengulang aja, kok. Biar aku nggak lupa," kilah Ella.
"La, kalau kamu ada masalah jangan dipendam sendiri. Cerita aja," ujar Naya. Ella hanya mematung tanpa ekspresi mendengarnya.
(Bersambung)
__ADS_1