
Ghina memasuki kamar sang putri, untuk meletakkan gaun yang baru saja dia beli. Gaun itu rencananya akan digunakan, pada saat pesta pernikahannya nanti. Pluk! Sesuatu terjatuh di antara kain dan buku, ketika Ghina membuka lemari.
“Astaga! Ini kan?” Ghina terperanjat melihat barang yang baru saja di temukannya.
Ghina tidak menyangka, putrinya menyimpan benda itu. Dia lalu memungut setumpuk uang dan sebuah memo yang dia berikan pada buah hatinya tempo hari. Uang tersebut seharusnya digunakan untuk membayar uang sekolah Ella bulan ini.
"Jumlahnya masih utuh seperti waktu aku kasih kemarin," gumam Ghina setelah menghitung lembaran rupiah tersebut. "Jadi dia nggak pernah pakai uang dari aku?Terus dia dapat uang dari mana?"
Ghina teringat bau rokok di baju Ella. Rentang waktunya sama persis sejak dia memberikan uang untuk putrinya tersebut. Ia pun menjadi berpikiran negatif.
...🥀🥀🥀...
"Dari mana kamu?" Ghina menyambut Ella yang baru saja pulang, dengan sebuah bentakan dan tatapan yang tajam. Wajah Ghina benar-benar marah menyambut putrinya pulang sekolah.
"Da-dari sekolah, Ma," jawab Ella terbata-bata. Dia terkejut dengan sikap sang mama yang tidak seperti biasanya.
__ADS_1
"Sekolah atau sekolah?" tanya Ghina lagi dengan nada tinggi. "Terus ini apa?" Ghina meletakkan setumpuk uang di atas meja tamu beserta kertas surat.
Ella menundukkan kepalanya, "Gawat! Mama kok bisa nemuin uang itu?" batin Ella terperanjat. Dia kehilangan kata-kata untuk menjawab pertanyaan sang mama.
"Kenapa uang dari Mama kamu simpan? Terus dari mana kamu dapat uang selama ini?" selidik Ghina.
"A-aku ... I-itu ..." Bibir Ella terasa kelu. Tubuhnya berkeringat dingin. "Apa aku jujur aja sama mama? Tapi pasti jadi masalah lagi, kalau aku bilang udah kerja" batinnya bingung.
"Ayo, jawab! Kamu berteman sama preman, kan? Baju kamu bau rokok semua!" Ghina menumpahkan kekesalannya pada Ella.
"Kamu merokok, kan? Apa yang kamu lakukan sampai bisa memenuhi kebutuhanmu? Mama udah tanya dengan wali kelasmu tadi, katanya uang sekolahmu bulan ini sudah lunas. Kamu nggak berbuat macam-macam, kan?"
Ghina terus mendesak Ella untuk mengaku. Wanita itu lalu merebut tas sekolah Ella dan menemukan baju kaos beserta celana panjang di dalamnya. Ghina melirik Ella dengan tajam, menunggu penjelasan dari gadis itu.
Pluk! Ella terduduk lemas di lantai. Dia memang baru aja melunasi uang sekolahnya dua hari yang lalu. "Aku nggak merokok, Ma," bantah Ella.
__ADS_1
"Melawan aja terus! Ini buktinya udah ada! Kenapa kami bawa baju ganti ke sekolah?" Ghina tidak mempercayai ucapan sang putri.
"Ghina? Ada apa ini?" Tanpa disadari Ghina dan Ella, Albert telah berdiri di belakang mereka. Pria dengan kaos biru itu, memberi isyarat agar Ghina menghentikan kemarahannya.
"Dia udah keterlaluan, Al. Di suruh sekolah malah kelayapan nggak jelas sampai magrib gini," omel Ghina.
Ella menundukkan kepalanya semakin dalam. Kedua tangannya merangkul tubuh Ghina. "Mama, aku nggak kayak gitu," ucap Ella lirih.
"Terus apa?"
"Ghina, turunkan suaramu. Sebentar lagi magrib. Aku akan jelasin semuanya. Kamu salah paham," ucap Albert menenangkan calon istrinya tersebut.
"Kamu tahu sesuatu? Jadi di belakangku selama ini kalian berbuat sesuatu?" tanya Ghina dengan ketus.
(Bersambung)
__ADS_1