Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 125. Wedding (Tamat)


__ADS_3


"Kyaaa, Ella. Kamu beneran menikah?" seru Maira dan Naya, ketika membaca surat undangan dari Ella.


"Nggak nyangka, deh. Kamu dan Ethan langgeng banget pacaran selama tiga tahun," kata Naya.


"Aku juga nggak nyangka banget. Semoga dia jodohku sampai akhir hayat," kata Ella.


"Aamiin," sahut Naya dan Maira kompak.


"Hebat banget calon suami kamu, ya. Tahun lalu baru aja wisuda sebagai ahli gizi. Tahun ini menikahi kamu. Lalu tahun depannya wisuda di jurusan hukum," kata Maira.


"Aku aja nggak ngerti, kok calon suamiku bisa menjalani kuliah di dua jurusan yang berbeda? Nilainya bagus-bagus pula," kata Ella sambil tertawa. Walaupun sudah berpacaran selama tiga tahun, Ella masih saja kagum pada Ethan. Padahal beberapa hari lagi, pria itu bakal menjadi suaminya.


"Enak banget kamu, belum wisuda udah dilamar. Aku kapan ya punya gebetan?" kata Naya.


"Kamu nggak ngejar-ngejar ayahku lagi, kan?" sindir Ella sambil tertawa jahil.


"Duh Ella, kamu jangan bikin aku malu, deh. Kok masih ingat sih, kalau dulu aku naksir Ayahmu. Itu dulu, zaman aku SMA. Aku nggak mau punya anak tiri kayak kamu," kata Naya dengan wajah memerah.


"Hahaha, ya kalian dulu juga tahu, kan? Kalau aku naksir sama dia. Untung deh, aku cepat tobat. Kalau inget hal itu lagi, aku malu banget," kata Ella yang malu mengakui, kalau dulu dia pernah menyukai calon ayah tirinya.


"Aku senang, kamu bisa move on dari Om Albert. Malah kamu menemukan cowok yang lebih hebat," ucap Naya dan Maira.


"Iya, aku bersyukur banget Ethan dan keluarganya menerima keadaan keluarga kami apa adanya," kata Ella.


"Kamu undang Daniel dan Imelda juga?" tanya Maira.


"Iya, dong. Mereka kan teman kita di SMA. Aku juga mengundang teman sekelas kita di SMA, kok," kata Ella.

__ADS_1


"Wah, kita reunian, dong. Duh, aku jadi nggak sabar lihat kamu pakai baju pengantin," ujar Naya dan Maira.


...🥀🥀🥀...


Satu minggu kemudian, tepatnya hari pernikahan Ella. Suasana hotel di Bali tersebut, telah berubah bagaikan istana dongeng. Para tamu undangan mulai berdatangan.


"Imelda," seru Naya, memanggil kedua teman SMA-nya itu.


"Aaah, kangen banget sama kalian berdua," kata Imelda, yang baru aja menyelesaikan kuliahnya di luar kota.


"kami juga kangen," kata Maira dan Naya, merangkul Imelda.


"Hei, kalian lupa kalau ada aku?" Celetuk Daniel yang berdiri di dekat para wanita itu. Pria yang udah menyelesaikan kuliahnya di luar negeri, sedang merintis bisnisnya sendiri.


"Astaga, Daniel. Sejak kapan kamu di sana?" tanya Naya terkejut.


"Aku udah dari tadi, loh. Kalian rangkul-rangkulan di depanku. Mentang-mentang yang cowok, baru aku sendiri yang datang," kata Daniel.


"Akrab kan bukan berarti saling suka. Aku sama Ella cuma temenan, kok. Aku justru lebih dekat sama Om Albert, karena sering main bareng," jawab Daniel.


Beberapa saat kemudian, pengantin pria pun datang. Ketampanannya membius para tamu undangan perempuan.


Akad nikah pun berjalan dengan khidmat. Paman dari Ella sebagai walinya, mewakili almarhum Ayah Ella yang telah tiada.


Sementara Albert sang Ayah tiri, duduk mendampingi Ghina yang tampak gugup. Putra kecil mereka yang bernama Noel, duduk manis di samping Ghina. Tidak ada satu pun yang menyadari, jika bocah tampan itu adalah anak asuh Ghina dan Albert.


Momen di saat pertama kali Ella menyalami dan menundukkan kepala di hadapan sang suami, juga membuat para tamu undangan terharu. Ethan mencium kening istrinya dengan malu-malu.


Ghina mengucapkan memeluk putrinya dengan air mata terurai, tanpa bisa berkata-kata. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa haru dan bahagia, melihat putrinya menikah. Acara sungkeman itu pun berubah menjadi tangis bahagia.

__ADS_1


Ella pun membalas pelukan ibundanya. "Terima kasih udah merawatku, mendidikku hingga aku menjadi sukses," bisik Ella di tengah isak tangisnya.


"Sama-sama, Nak. Terima kasih sudah menjadi anak yang baik dan sabar, di saat hidup kita susah," balas Ghina dengan terbata-bata. "Mulai sekarang, kamu harus patuhi suamimu. Mertuamu adalah orang tuamu, hormati mereka," nasehat Ghina.


"Iya, Ma."


Ella pun berpindah tempat. Kini dia berada di hadapan Albert. Laki-laki yang dulu pernah dia sukai, sebelum menjadi ayahnya.


Ella dan Albert sama-sama membisu. Mereka tidak bisa mengatakan isi hati masing-masing. Albert masih tidak menyangka, gadis cilik yang sejak dulu dia sayangi sebagai anak, telah menikah dengan pria pilihannya.


Tentu saja Albert senang. Ella memilih pendamping yang tepat. Namun Albert tidak tahu, bagaimana cara mengucapkan perasaannya. Hanya senyuman di wajahnya, yang bisa mengambarkan isi hatinya.


"Terima kasih, Ayah," bisik Ella. Hanya itu kata-kata yang bisa keluar dari bibir Ella.


"Sama-sama, Nak. Almarhum papa kamu pasti senang melihatmu bahagia," balas Albert.


...🥀🥀🥀...


Acara pesta berlangsung meriah. Seluruh kolega bisnis Albert dan Ghina turut diundang. Beberapa dari mereka berasal dari luar negeri.


"Ella sahabatku. Selamat, ya." Imelda, Naya dan Maira bergantian memeluk Ella dan memberikan ucapan selamat.


"Terima kasih," kata Ella yang mengenakan gaun pengantin. Gadis itu memilih kebaya adat jawa, yang dimodifikasi menjadi gaun indah.


"Makasih udah pada datang. Aku dengar, dulu kamu teman akrab Ella," kata Ethan pada Daniel.


"Selamat, ya. Kamu udah memilih wanita yang tepat. Ella adalah sahabatku. Aku yakin kamu bisa menjaganya," kata Daniel dengan tulus.


Sementara Ghina dan Albert, menyaksikan anak perempuan mereka yang sedang berbahagia, sambil berbincang dengan para tamu.

__ADS_1


...◦•●◉✿Tamat✿◉●•◦...


__ADS_2