Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 109. Pasangan Cantik dan Tampan


__ADS_3

"Syukurlah ... Senang banget rasanya kita semua lulus," kata Naya dengan air mata berlinang.


"Selamat ya Naya nilai rata-rata mu di atas delapan," ucap Ella memberi selamat pada temannya.


"Aku juga bersyukur banget. Ini semua berkat belajar sama Om Albert," kata Naya.


"Heleh, padahal belajar sama Om Albert cuman empat hari. Padahal sebulan sebelumnya kita udah belajar kelompok bareng loh, tapi malah nggak disebut," cibir Imelda.


"Ih, protes mulu. Iyain aja napa, sih?" balas Naya.


"Iya, Iya, Ayah aku kan emang keren. Makanya anaknya juga keren," timpal Ella sambil tertawa. "Btw Maira ke mana sih? Kok nggak ada kelihatan?" tanya Ella.


"Kayaknya ke ruang guru, deh. Paling ntar lagi juga balik," sahut Imelda.


"Nungguin aku, ya?" kata Maira yang baru aja muncul. "Eh, upacara kelulusan besok kita pakai baju apa, gaes?" tanya Maira antusias.


"Ya pakai baju apa lagi selain kebaya? Itu juga modelnya dibatasi sama sekolah. Tinggi sepatunya juga maksimal 5 cm," jawab Imelda.


"Lah, kok gitu?" tanya Naya, Maira dan Ella kompak.


"Ya nggak tahu? Peraturannya kan gitu? Coba aja baca pengumuman yang ditempel di depan kelas," kata Imelda.


"Nggak asik banget sih? Masa udah lulus masih juga diatur-atur," gerutu Maira. "Kita kan mau tampil cantik juga seperti anak-anak SMA lain," sambungnya lagi.


"Duh, para cewek heboh bener? Lagi ngerencanain apa sih?" seorang siswa dari kelas IPS mendekati mereka.


"Eh, Daniel? Selamat, ya. Di ujian kelulusan pun kamu tetap nomor satu," kata Ella dan teman-temannya memberikan selamat.


"Thanks," balas Daniel singkat. Cowok yang mengenakan baju kaos putih di dalam seragamnya itu, tampak jauh lebih tampan dari biasanya.


"Kamu rencananya kuliah di mana, Niel?" tanya Imelda.

__ADS_1


"Rencananya sih di luar kota, aku mau ambil hukum," kata Daniel.


"Woah, keren banget," komentar Naya.


"Yah, kita bakalan jarang ketemu dong, Niel," ujar Ella.


"Kenapa? Kamu bakalan kangen, ya?" kata Daniel sambil tertawa.


"Nggak gitu maksudnya, oiii," protes.


"Iya juga nggak apa-apa kok, La. Kami ikhlas mendukungmu," ucap Naya sambil tertawa.


"Ih, ku bilang bukan gituuu!"


Daniel tertawa mendengarnya. "Kalau kalian mau kuliah di mana?"


"Kalau aku sih terserah kampus mana aja yang mau nerima aku," kata Naya.


"Harus optimis dong, guys," ujar Ella.


...🥀🥀🥀...


"Woah! Guys, coba lihat itu. Cantik banget, kan?" para murid laki-laki saling berbisik di tengah acara kelulusan.


Pandangan mereka tertuju pada seorang wanita berkebaya hijau muda, yang duduk di kursi bagian depan. Rambut wanita itu di sanggul sederhana, lalu disematkan jepit bermotif bunga.


"Hush, kalian. Itu bukannya mamanya Ella, ya?" bisik beberapa siswa lainnya.


"Hah? Masa, sih? Muda banget? Lebih cocok jadi kakaknya, deh. Apa operasi plastik di Korea?"


Tatapan tajam tanpa suara, dari seorang guru yang duduk di depan, membuat para murid laki-laki itu bungkam. Namun beberapa di antara mereka, tetap mencuri-curi pandang ke arah wanita berusia tiga puluh lima tahun itu.

__ADS_1


"Cieee, seneng banget ya, Lu. Wisuda kelulusan didatangi pacar," cibir Dewi setelah acara kelulusan selesai. Sekarang tinggal waktunya foto-foto.


"Hah, pacar?" tanya Ella dengan wajah bingung.


"Iya, pacar Lu. Bodyguard Lu yang di restoran Jepang kemarin itu, sebenarnya pacat Lu, kan? Dia udah kamu kasih apa aja, sampai ngasih saham restoran ke kamu?" tuduh Dewi.


"Heh, enak aja nuduh-nuduh Ella. Kalau nggak tahu apa-apa jangan main fitnah, dong," bentak Naya dan Maira. "Ayo, La. Kita foto-foto. Mamaku mau ketemu sama mama kamu," sambung Maira.


"Udah, gaes. Nggak usah berantem. Keluargamu nggak datang ya, Wi? Mending ikut foto bareng kami aja," ajak Ella dengan nada menyindir.


"Ish, amit-amit foto bareng kalian," kata Dewi.


"La, kok lama banget, sih? Nungguin apa lagi?Nenekmu kasihan, tuh. Kelamaan berdiri," tanya Ghina yang muncul dari tengah kerumunan.


"Eh, iya Ma. Ini mau jalan ke sana," kata Ella. Tak lama kemudian, Albert dan ibunya pun menyusul mendekati Ella.


"Aku pergi dulu, ya. Pacarmu pasti udah nggak sabar untuk foto bareng kamu," sindir Dewi.


"Pacar? Kamu punya pacar, La?" tanya Ghina. Dia tidak tahu, kalau Dewi adalah pembully Ella waktu itu.


"Duh, Wi. Sayangnya dia bukan pacarku. Tapi ayahku," kata Ella sambil menunjuk ke arah Albert. Ekspresi wajah Ella sangat mengejek teman sekelasnya itu.


"Hah? Eh?" Dewi berusaha kabur, tapi terhalang kerumunan para siswa yang berebut foto bersama guru.


"Makanya, kalau nggak tahu apa-apa jangan nyinyir duluan," kata Naya dan Maira sebelum pergi menemui kedua orang tuanya. "La, pokoknya nanti kita ketemuan di gerbang, ya?" kata mereka berdua.


Sesi foto ternyata jauh lebih lama dan dramatis, daripada acara kelulusan itu sendiri. Ella mengajak nenek dan kedua orang tuanya berfoto bersama wali kelasnya.


"Uh, sebel banget, deh. Aku kan juga mau pakai kebaya bagus dan berdandan cantik kayak mama," gumam Ella pelan. Dia tidak percaya diri, berdiri di samping mamanya yang masih menjadi pusat perhatian kaum adam.


"Kamu juga cantik, kok. Hari ini penampilanmu beda," bisik Albert sambil mengatur posisi untuk berfoto.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2