
"Sekarang kamu mandi lalu istirahat. Baju kamu yang basah dan kotor kena hujan tadi bisa diletakkan di mesin cuci. Kamu masih ingat kan tempatnya?" ujar Ghina ketika mereka telah sampai di rumah Albert.
"Iya, Ma. Aku masih ingat, kok," jawab Ella.
"Barang-barang kamu bisa disimpan di lemari nanti saja. Pokoknya kamu istirahat dulu," ucap Ghina lagi. Ella menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Ini bukan pertama kalinya aku ke rumah ini. Tapi kenapa masih merasa asing, ya?" Ella mengamati setiap benda di ruangan tersebut.
Gadis itu lalu mengunci pintu kamar, dan bergegas mandi. Seluruh tubuhnya lengket karena peluh dan lumpur. Hari liburnya yang indah rusak seketika karena hujan dan pohon tumbang.
"Lah, aku lupa. Ini kan pertama kalinya aku mandi di sini. Di mana sabun dan samponya, ya?" ucap Ella pada dirinya sendiri. Kamar mandinya yang tidak luput dari hantaman pohon kapuk tua itu, membuat Ella tidak bisa mengambil peralatan mandinya.
Ella terpaksa menggunakan kembali pakaiannya, lalu keluar kamar untuk mencari sang mama. "Ma, sabun sama sampo di mana, ya?" tanya Ella sambil berjalan di tengah rumah mewah itu.
"Mama di mana, sih? Kamar mama yang mana juga? Ini rumah apa hotel? Gede banget?" kata Ella. Telapak kakinya menjejak dengan sangat hati-hati di lantai yang mengkilat bagaikan kaca.
"Ma, ada stok sabun dan sampo, nggak? Ah, sama sikat gigi dan odol juga," teriak Ella lagi. Tidak terlihat tanda-tanda keberadaan sang mama.
"Mama kamu lagi keluar sebentar. Biasanya ada stok peralatan mandi di lemari cokelat di sana. Coba aja cari," ujar Albert yang hanya memunculkan kepalanya dari sebuah ruangan.
"Lemari cokelat, ya?" Ella pun membalikkan badannya untuk mencari-cari lemari cokelat yang dimaksud pria itu.
"Kok nggak ada lemari cokelat, sih?"
Ella kemudian memasuki sebuah ruangan yang pintunya tidak terkunci rapat. Ruang itu terlihat seperti ruang kerja milik ayahnya. Terdapat beberapa miniatur model mobil keluaran perusahaan asal Jepang di lemari kaca. Tepat di sebelahnya terdapat lemari cokelat.
"Apa ini lemari cokelat yang dimaksud? Tapi kok disimpen dalam ruangan gini?"
Ella merasa sedikit ragu. Kaki kecilnya melangkah perlahan, untuk mendekati lemari itu. Gadis itu melihat beberapa jenis parfum, face wash dan gel rambut milik pria. Ella baru pertama kali mengetahui jenis dan merek parfum yang biasa digunakan pria itu. Melihat perlengkapan milik ayahnya itu pun, keberaniannya pun mulai muncul.
Drrkk! Ella membuka laci dengan hati-hati. "Kosong!" gumamnya. Ella pun membuka laci lainnya.
"Ah!" Ella hampir saja memekik. Bola mata gadis itu, melihat benda yang tersimpan di laci tersebut dengan teliti. "I-ini kan ...? Kok dia bisa menyimpannya?" batin Ella merasa kaget.
__ADS_1
Suara langkah kaki yang mendekat ke pintu, mengejutkan Ella. Ia segera menutup kembali laci tersebut. Gadis itu lalu bergerak menjauhi lemari.
"Loh, kamu kok di sini?" tanya pria itu. bola matanya tampak membesar, dan menatap Ella dengan nanar.
"Maaf, aku tadi hanya ingin mencari lemari coklat itu, kok," jawab Ella dengan keringat bercucuran.
"Oh, kamu salah. Lemari yang ayah maksud bukan ini, tapi di dekat mesin cuci," balas pria itu.
"Ah, gitu ya? Maaf, aku nggak tahu." Ela bergegas meninggalkan ruangan itu.
"Ella, tunggu!" Albert mendadak menggenggam lengan Ella untuk menahannya.
"Ada apa?" tanya Ella dengan gugup. Dia menarik tangannya dari genggaman Albert.
"Ini untukmu. Tadi ayah lihat semua baju basah dan kotor," kata Albert. Pria itu memberikan sebuah kaos lengan panjang dan sebuah training pada Ella.
"Terima kasih," jawab Ell dengan malu. Dia tadi sempat berpikir yang tidak-tidak pada Albert. "Sebenarnya bajuku masih ada yang bersih kok," jawabnya lagi.
...🥀🥀🥀...
"Uh, badanku terasa pegal-pegal semua. Apa karena tadi aku banyak mengangkat benda-benda berat ya?Karena rumah hancur terkena pohon, aku terpaksa kerja keras memindahkan semua benda ke tempat aman." Ella menggeliatkan tubuhnya yang terasa pegal dan kaku.
"Hah! Udah jam segini?" Ella melotot ketika pandangannya tertuju pada jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Dia tidak sadar sudah menghabiskan waktu setengah hari untuk tidur.
Ella membuka pintu kamar dan hendak mengambil minum. Perutnya juga berbunyi minta diisi.
"Hah!"
Ela yang baru saja membuka pintu mendadak membalikkan badan. Pemandangan di hadapannya tadi membuatnya memejamkan mata dengan rapat.
"Ngapain dia malam-malam pakai baju kayak gitu? pikir Ella. Gadis itu merasa terkejut dan malu, melihat Albert hanya mengenakan celana pendek dan kaos putih biasa. Sebenarnya tidak ada yang aneh cuma Ela tidak terbiasa melihatnya.
"Ella, kamu udah bangun? Kok di tutup lagi pintunya?" Albert mengetuk pintu kamar Ela berkali-kali. "La, ayo buka pintunya. Ayah bawakan sesuatu untuk kamu, nih," seru Albert.
__ADS_1
Ceklek. Pintu kamar pun terbuka. Albert hampir aja tertawa, melihat Ella yang menggunakan handuk untuk menutupi sebagian wajahnya. Sementara bagian tubuhnya yang lain tersembunyi di balik dinding. "Kamu ngapain kayak gitu jerawatan?" ujarnya. Kedua tangannya memegang nampan berisi mangkok dan sebuah gelas.
"Anu, aku kedinginan," jawab Ella sekenanya.
"Kalau dingin matiin aja AC-nya, La. Ini ada bakso untuk kamu, bisa kamu hangatkan menggunakan microwave di kamarmu. Tadi Mama kamu beliin ini dan nungguin kamu makan. Tapi akhirnya ketiduran karena kelamaan nungguin kamu," ucap pria itu.
"Terima kasih." Ella terpaksa melangkahkan kaki ke depan untuk mengambil nampan itu. Gadis itu menahan rasa terkejutnya. Dia baru tahu kalau memiliki microwave sendiri di dalam kamar.
"Loh, kamu akhirnya pakai baju yang ayah kasih juga?" ujar Albert. Pria itu akhirnya tidak bisa menahan tawanya, melihat Ella mengenakan baju dan training yang kedodoran.
"Iya, rupanya bajuku basah semua," jawab Ella.
"Terus bagi Sekolahmu gimana?" tanya Albert.
"Udah aku keringkan pakai hair dryer di kamar mandi," sahut gadis itu.
"Sip lah, jangan lupa makan lalu segera tidur ya. Besok kamu sekolah soalnya," kata Albert sambil menepuk-nepuk kepala.
"Oke," ucap gadis itu. "Oh iya, Apa aku boleh bertanya?" Ella tiba-tiba teringat soal foto yang dia temukan tadi siang.
"Boleh, dong. Kamu mau tanyain apa?" Albert mengurungkan langkahnya.
"So-soal i-itu ..." Ella tiba-tiba ragu untuk mengucapkannya.
"Hmm? Apa sih? Ngomong aja," desak Albert.
"Nggak jadi deh, aku udah lapar besok aja ceritanya." Ella pun mengurungkan ceritanya.
"Yaudah segera makan gih, nanti kamu kelaparan pula." Rapat kembali menepuk-nepuk kepala gadis itu. Tidak ada rasa canggung tersirat di wajahnya.
"Aneh, kenapa aku merasa biasa aja ya? Biasanya melihat wajahnya saja dadaku sudah bergetar. Bagus deh artinya aku sudah move on dari pria itu," batin Ella.
(Bersambung)
__ADS_1