
"Gawat! Maira dan Naya nggak melihatnya, kan? Ngapain mama dan Albert di sini?"
Ella membesarkan kedua matanya. Gadis cantik itu melihat seorang wanita yang sangat dia kenal, bergandengan tangan pria muda berpakaian rapi. Pasangan itu terlihat sangat ceria.
Ella menggigit bibirnya. Hatinya perih seperti teriris, tapi air matanya gak bisa keluar. "Ngapain sih mama di sini? Bukannya bekerja di rumah Al? Mama kelihatan lebih senang daripada biasanya," ucap Ella dengan getir.
"Kamu sakit, La? Apa jangan-jangan karena kelamaan di dalam warnet itu?" tanya Naya.
"Atau karena belum makan siang?" tanya Maira pula.
"Aku bggak apa-apa kok, guys. Kita cari toko lain aja, yuk. Di sini katanya mahal." Ella mengajak temannya untuk menjauhi deretan toko itu.
"Tapi di sini lengkap. Cukup satu toko aja, kita bisa beli semuanya," kata Maira.
"Ayo cepat pergi! Aku nggak mau di sini. Uangku nggak cukup untuk membelinya," ucap Ella dengan kesal. Dari salah satu spion mobil yang parkir di dekatnya, Ella bisa melihat Albert dan mamanya berjalan semakin dekat.
"Oh, o-oke." Maira dan Naya terkejut, mendengar Ella membentaknya. Mereka pun mengikuti remaja cantik itu, mencari toko peralatan jahit lainnya.
...🥀🥀🥀...
"Syukurlah... Akhirnya udah dibeli semua. Kapan nih kita kerjakan?" ucap Maira dengan napas ngos-ngosan. Mereka telah berkeliling lebih dari enam ruko, untuk mencari bahan kerajinan tangan yang mereka butuhkan.
"Besok aja gimana? Pulang sekolah," sahut Ella. Dia mentraktir kedua temannya sebotol teh kemasan dingin dengan uang gajinya. Dia merasa bersalah, karena memaksa kedua temannya pergi dari toko yang pertama.
__ADS_1
"Loh, besok kamu nggak jerja, La?" tanya Naya.
"Mungkin kita bisa kerjain di warnet, sambil aku jaga kasir. Nanti aku tanyain ke Daniel dulu, deh. Kalau boleh, kita bikin di sana aja," ujar Ella.
"Oh, boleh juga tuh," sahut Maira. "Yaudah, sekarang cari cemilan, yuk. Aku pengen makan siomay pedas," ajak remaja berpipi chubby itu.
"Aku pulang aja, deh," tolak aja.
"Loh, kenapa? Aku traktir, deh. Ayolah, kita kan jarang main bareng gini" bujuk Maira.
"Aku agak capek aja. Pengen istirahat," kilah Ella.
"Yahh... kenapa? Jarang-jarang lho Maira traktir kita," rajuk Naya.
"Ya udah kalau gitu. Traktirannya besok aja di sekolah," ucap Maira. Dia melihat wajah Ella memang agak pucat.
Beberapa saat kemudian. "Aku pulang duluan, ya." Ella melambaikan tangannya, sembari memasuki angkot.
"Ra, itu bukan angkot jurusan rumah Ella, kan? Mau ke mana dia?" tanya Naya.
"Iya, ya? Nggak tahu juga. Tapi dari tadi dia kelihatan aneh. Kayak lagi menghindar dari sesuatu gitu," balas Maira.
"Matanya juga basah. Kayak orang nahan nangis. Sebenarnya apa yang terjadi sama dia, sih?" tambah Naya lagi.
__ADS_1
...🥀🥀🥀...
"Lho, mama kok di sini?" batin Ella. Gadis itu langsung bersembunyi di balik pohon akasia.
Bocah SMA itu bingung melihat mamanya di makam papa. Setelah berpisah dari kedua temannya, Ella nggak langsung pulang. Dia pergi ke makam sang papa untuk melepas segala penat di hati.
"Bukannya tadi mama sama Albert? Sekarang Al di mana?" gumam Ella lagi. Ella melihat ke sekeliling area pemakaman. Dia tidak melihat majikannya itu maupun mobilnya.
"Maafkan aku, sayang. Aku nggak bisa merawat anak kita dengan baik. Ia selalu sendirian menghadapi semuanya." Ella mendengar mamanya menangis. Gadis itu semakin menajamkan pendengarannya, tanpa berpindah dari persembunyiannya.
"Aku... juga sangat takut. Orang-orang bank itu selalu menemuiku. Aku... rindu kamu..." Ghina terus bicara di hadapan batu nisan Avel Erlangga.
"Mama masih merindukan papa. Lalu kenapa memilih Al?" Ella bertanya pada dirinya sendiri.
"Apa yang harus kulakukan, sayang? Kenapa kamu pergi begitu cepat? Aku rindu padamu. Bisakah kamu datang ke dalam mimpiku sekali saja?" Tangisan Ghina semakin menyayat hati.
"Mama..."
Ella yang masih berdiri di balik pohon akasia turut menangis. Hatinya pedih, melihat mamanya yang menyimpan rasa rindu teramat besar pada almarhum papanya.
"Aku benci melihat mama jalan bersama Albert seperti tadi. Tapi aku juga nggak tahan melihatnya menangis. Pa, apa aku terlalu kejam sama mama?" bisik Ella seolah-olah sedang berbicara pada sang papa.
"Tapi aku juga berhak bahagia, kan? Apa nggak ada lagi harapan bagiku untuk menerima rasa cinta dari Albert?" lanjut Ella.
__ADS_1
Ella menatap mama dari kejauhan.Janda muda itu seperinya belum mau beranjak dari sisi pembaringan terakhir sang suami. "Besok aku ke sini lagi ya, Pa. Sepertinya rasa rindu mama kepada papa masih belum reda," ucap Ella lalu melangkah pergi dari pemakaman.
(Bersambung)