
Ghina mengintip media sosial Albert, yang memamerkan suasana pesta reuni SMA di rumahnya. Suasana tampak meriah dengan dekorasi pesta bergaya Amerika. Sebagian besar tamunya adalah para wanita dengan setelan mahal dan glamour.
Nyut! Dada Ghina terasa perih, melihat foto-foto itu. Perbedaan antara Albert dan dirinya semakin terlihat jelas. Namun Ghina tetap sulit mengenyahkan perasaannya pada pria itu.
"Apa boleh aku sedikit egois dan berharap lebih?" ucap Ghina dalam hati.
"Loh, kok nggak jadi makan, Ma?" ujar Ella yang berjalan menuju ke dapur.
"Mama kan nungguin kamu," jawab Ghina dengan suara terbata-bata. Dia buru-buru menyimpan HP-nya ke dalam saku.
"Ya udah, makan yuk. Aku lapar, nih." Ella bergegas menuju meja makan.
"Ella, kenapa kamu senyum-senyum gitu? Ada berita bagus?" tanya Ghina sambil menuang air ke dalam gelas.
"Hah? Nggak kok, Ma," ujar Ella buru-buru menghapus senyum di wajahnya. "Aku cuma senang aja bisa kumpul sama Mama kayak gini. Biasanya 'kan hari minggu pun Mama tetap kerja," ujar Ella memberikan alasan.
"Uh, Ella. Apa wajahnya se-ceria itu ya, setelah mendengar Mama dan Albert break? Tapi 'kan belum tentu mereka putus," gumam Ella dalam hati. Dia menutupi rasa senangnya itu dengan melahap sambel kentang hati favoritnya.
__ADS_1
"Maafkan Mama ya, Nak. Mama selalu sibuk cari uang, sampai nggak sadar kamu udah mau tamat SMA," ucap Ghina beberapa saat kemudian.
"Nggak apa-apa, Ma. Aku ngerti, kok. Pasti berat banget mencari nafkah untuk membiayai sekolahku dan hidup kita," sahut Ella. Setelah bekerja di warnet, dia menyadari betapa susahnya mencari pekerjaan.
"Nggak berat, kok. Karena kamu selalu memberikan Mama kebahagiaan dengan prestasi di sekolah," ujar Ghina lagi. "Terus, mumpung Mama lagi libur. Mama mau ajak kamu ziarah ke makam Papa," imbuhnya.
"Ziarah? Boleh, aku bebas hari ini," tukas Ella.
...🥀🥀🥀...
Cuaca hari itu cerah berawan, membuat udara terasa teduh. Ella dan Ghina kompak membersihkan makam Avel Erlangga dari rerumputan yang mulai tumbuh tinggi. Setelah itu keduanya berdoa bersama.
"Loh, Papa dulu kuliah di jurusan farmasi juga?" Ella terkejut mendengarnya. Selama ini dia mengetahui bahwa ayahnya hanya pegawai biasa di sebuah perusahaan.
"Iya, Nak. Papamu adalah pria yang cerdas, dan pekerja keras. Dia mahasiswa terbaik di kampusnya pada masa itu. Kecerdasan dan sifat rajinmu pasti menurun darinya," jawab Ghina sambil mengusap rambut panjang putrinya.
"Wah, aku baru tahu," ujar Ella. "Terus kenapa Papa nggak bekerja di bidang farmasi?" tanya bocah SMA tersebut.
__ADS_1
"Tetapi penyakit yang diderita papamu mengubah semuanya. Berkali-kali dia dipecat dari tempat kerjanya. Hanya perusahaan itulah yang mau menerimanya yang sakit-sakitan," cerita Ghina.
"Papa dan Mama pasti udah banyak melalui hal berat, ya," gumam Ella.
"Papa kamu sudah tenang di sana. Dia bangga melihatmu tumbuh menjadi gadis yang ceria dan cerdas seperti ini," bisik Ghina dengan lirih.
Senyum di wajah Ella memudar. Mamanya salah. Dia bukanlah gadis yang ceria. Butuh waktu lama untuk bangkit, sejak ditinggalkan oleh papanya, pria yang menjadi teman pertama dan juga cinta pertamanya.
Ella yang terpuruk dalam kesendirian selalu merindukan sosok ayah dalam hidupnya. Gadis itu selalu cemburu, melihat teman-temannya yang bisa menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya. "Ah, apa yang kubutuhkan itu memang bukan teman, tapi sosok seorang ayah?" batin Ella.
"Sayang, Ella, aku minta maaf." Suara Ghina terdengar gemetar dengan napas tidak teratur. "Apa aku boleh bersikap sedikit egois?" lanjutnya.
Ella menggenggam erat tangkai bunga mawar di tangannya. Perasaannya tidak enak. Dia harus menyiapkan hatinya untuk menerima segala yang akan diucapkan mamanya.
"Mama mau bicara apa?" tanya Ella.
"Apa Mama beneran boleh menikah lagi dengan Albert?" tanya Ghina dengan air mata berlinang.
__ADS_1
(Bersambung)