
"Itu buku-buku novel dan gelang dariku, kan?" "Kamu mau membuang semua hadiah dariku? Kenapa?" Albert menyipitkan matanya dan menggeram kesal.
Teman-teman Ella tersebut sontak menghentikan langkah mereka, saat bertemu pandang dengan Albert. Mereka merasa bersalah. Para bocah SMA itu tidak menyangka akan bertemu Albert di sini.
"Iya, aku membuangnya," jawab Ella. "Mana mungkin aku simpan lagi semua pemberianmu," sambung gadis itu.
"Kenapa nggak mungkin? Kamu beneran menyimpan perasaan padaku?" bisik Albert agar teman-teman Ella tidak mendengarnya.
"Tadi malah aku ingin menjualnya. Tapi nggak jadi karena masih sedikit memikirkan perasaanmu, yang bakal terluka kalau aku menggunakan uang hasil penjualannya nanti," ucap Ella, tanpa menjawab maupun mengelak dari pertanyaan Albert.
"Kak Albert? Maafkan kami. Kami yang memberi usul pada Ella untuk menyimpannya sementara waktu. I-ini, kami kembalikan lagi," kata Imelda sambil berjalan mendekati Albert.
"Ini bukan salah kalian! Kenapa malah kalian yang minta maaf, sih?" bentak Ella, membuat teman-temannya tersentak. Air matanya telah menggenang di pelupuk mata.
"Ya, terserah kamu aja. Kamu boleh melakukan sesuka hatimu. Barang-barang itu kan sudah jadi milikmu sekarang. Mau dijual atau dibuang, itu hak kamu," ujar Albert merendahkan suaranya.
Imelda lalu menyerahkan benda-benda itu pada Ella. "Kalian boleh membawanya. Itu urusan kalian dengan Ella," ucap Albert pada teman-teman Ella.
__ADS_1
"Beneran?" gumam Imelda seraya melirik ke arah Ella. Gadis remaja di hadapan Albert itu hanya menganggukkan kepalanya, sebagai tanda bahwa setuju. "Kami minta maaf karena udah mencampuri hubungan Kakak dengan Ella," sambungnya.
"Nggak masalah, kok. Maaf tadi aku terbawa emosi," ucap Albert sambil tersenyum manis.
Gulp! Imelda menelan salivanya, melihat senyuman manis yang menyihir hati dan pikirannya itu. "Kalau gitu kami pergi dulu, kak," kata Imelda sambil menundukkan tubuhnya. Dia dan teman-teman lainnya lalu buru-buru pergi dari sana, sebelum mereka semakin terhipnotis dengan ketampanan Albert.
"Urusan kita udah selesai, kan? Aku pergi dulu," ucap Ella hendak mengejar langkah kaki teman-temannya.
"Tunggu! Albert menggenggam tangan Ella untuk mencegahnya pergi. "Apa kamu udah tahu apa keputusan Ghina? Kamu membuang semua pemberian dariku gara-gara itu?" tanya Albert.
"Apa, sih? GR banget! Apa pun itu, aku nggak mau lagi ikut campur urusan kalian berdua," jawab Ella ketus.
"Dari kalimatmu, kayaknya hubungan kalian lancar?" ujar Ella mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. "Memangnya kamu bakalan membatalkan rencanamu, kalau aku minta? Nggak, kan? Jadi sekarang biarin aku pergi dari sini," sambung Ella.
"Kita akan menjadi satu keluarga. Aku harap, kita jadi partner yang baik nantinya," pinta Albert dengan suara lembut.
Ella terpaku di tempatnya. Kata-kata Albert barusan, menembus sanubarinya hingga luluh lantak. Air matanya yang tadi menggenang telah mengering. Dia nggak sanggup lagi menangisi dirinya yang malang.
__ADS_1
"La, aku antar ke warnet, ya," ujar Albert setelah hening beberapa detik.
"Nggak perlu! Aku bisa pergi sendiri," tolak Ella.
"Ya udah. Kalau gitu hati-ha ..." Albert menghentikan kalimatnya yang belum selesai. Ella ternyata sudah lebih dulu pergi, tanpa berpamitan padanya.
...🥀🥀🥀...
"Menyedihkan! Sebenarnya aku menyelamatkan diriku sendiri, bukan mama. Aku membuat alasan tidak bisa bersama Albert, karena dia akan menikahi mama. Padahal tanpa adanya mama pun, dia tidak akan pernah memandangku sebagai wanita."
Pikiran Ella berkecamuk. Sejak duduk di warnet tadi, dia sudah tenggelam dalam pikirannya sendiri. Bayang-bayang pria tampan yang telah mengisi relung hatinya selama beberapa tahun terakhir, sangat sulit untuk dimusnahkan.
"Aku memberi izin pada mama karena menyayanginya? Halah, bulshit! Padahal aku hanya menghindari pria yang gak akan pernah mencintaiku. Ku harap ini adalah jalan terbaik bagiku," batin Ella.
"Mbak, Mbak! Saya mau bayar."
"Apalagi yang mau kamu bayar? Kamu nggak akan bisa mengganti semua kesedihanku dengan uang," jawab Ella sambil nenyesap air mata yang berlinang di pipi.
__ADS_1
"Maksud Mbak apa, sih? Aku mau bayar billing nomor empat dan biaya print-nya." Dua orang bocah berseragam SMP berdiri di hadapan meja kasir dan memasang wajah sebal.
(Bersambung)