
"Ada, dong, La. Kami yang traktir, deh," desak Naya dan Maira kompak.
"Traktir? Tumben banget? Emang kalian lagi banyak duit?" cibir Ella.
"Kalian kenapa, sih? Aneh banget?" Ella menatap kedua temannya itu bergantian. "Pokoknya aku nggak mau ikut. Aku di sini aja sambil belajar," ucap Ella tegas.
"Yah, nggak asik. Padahal tadinya kami mau bawa kamu jajan es krim yang viral itu. Terus kita bikin tugas prakarya bareng," rajuk Maira.
"Tugas prakarya?" Ella menyipitkan wajahnya. "Astaga! Tugas prakarya dari Bu Ovy, ya? Kapan ngumpulinnya?" Ella beneran lupa, kalau dia belum mengerjakan tugas tersebut.
"Besok," jawab Naya dan Maira kompak.
"Mampus aku!" Ella menepuk jidatnya sendiri.
"Makanya, kami temenin di sini. Jam kerjamu tinggal tiga puluh menit lagi, kan? Kita healing ke mall, abis itu pulangnya ke rumahmu, bikin tugas," jelas Naya.
"Uh, ya udah deh. Thanks udah ingetin aku," kata Ella. "Tapi beneran, deh. Aku nggak punya duit untuk jajan di mall," ucapnya jujur.
"Tenang aja. Ada Naya dan Maira di sini," celetuk Maira dengan sombongnya.
__ADS_1
Ella hanya memandang kedua temannya dengan curiga. "Guys, tapi bukannya lebih bagus ngerjain tugas dulu baru ke mall?" kata Ella. "Kalian bawa bahannya, kan? Kita kerjain di sini aja sambil nunggu jam kerjaku selesai," usul Ella.
"Boleh juga," jawab Maira dan Naya.
...🥀🥀🥀...
Setelah meminta izin pada ibundanya, Ella dan kedua temannya meluncur ke mall usai jam kerjanya berakhir. Mereka sengaja menggunakan bus kota agar lebih cepat sampai.
"Kamu belum pernah coba es krim yang viral itu, kan?" ujar Maira, ketika mereka sampai di halaman mall. Ella menggeleng.
"Sama, aku dan Maira juga belum. Tapi kata Imelda rasanya enak banget, lho. Rugi kalau nggak coba," ujar Naya menambahkan kalimat Maira.
Sesampainya di dalam mall, Maira dan Naya tanpa ragu langsung memesan es krim porsi sedang. Antriannya cukup ramai. "Mbak, yang rasa almond biskuit, cotton candy, dan mochi sakura, ya," ucap Maira menyebutkan pesanan mereka.
Mata Ella melotot melihat harga di daftar menu outlet es krim tersebut. "Es krim doang harganya empat puluh lima ribu?" ujar Ella. "Mbak, ini mahal banget," protes Ella pada pegawai es krim tersebut. Pegawai toko tersebut memandang Ella dengan wajah jutek.
"Ck, apaan sih, La? Tenang aja. Kita kan punya ini." Naya mengeluarkan voucher belanja yang diberikan Albert kemarin.
"Oh, jadi kalian yang membocorkan rahasiaku? Terus ini bayarannya? Kalian ini nggak setia teman banget, sih?" rajuk Ella. Dia kenal banget dengan voucher belanja dari majikannya itu. Dan outlet es krim ini adalah salah satu rekanan calon ayah tirinya tersebut.
__ADS_1
"Iya, kami salah. Kami minta maaf. Makanya kami ajak kamu makan bareng di sini. Kami nggak enak menikmatinya sendiri," kata Maira.
"Kalian nyogok aku biar nggak marah?" Ella menghembuskan napas kesal.
"Nggak, kok. Kami mau seru-seruan bareng kamu aja. Kemarin Albert mengeluarkan voucher ini setelah kami cerita, bukan disogok dari awal," ujar Maira membela diri.
"Lagian vouchernya gede loh, La. Nggak cuma bisa jajan es krim di sini aja," imbuh Naya.
Ella mengerucutkan bibirnya satu sentimeter ke depan. "Jadi kalian mengabaikan persahabatan kita demi voucer lima ratus ribu?" ujar Ella.
"Ya ampun. Gak usah sok dramatis gitu, dong. Nih, es krimnya. Buruan dicoba," kata Maira sambil menyodorkan es krim berwarna merah muda dan harum menggoda, ke hadapan Ella.
Remaja cantik itu menelan ludahnya. "Huh, apa boleh buat? Kita udah sampai di sini," kata Ella mengalah. "Tapi apa aja yang kalian omongin ke dia? Ceritakan semuanya padaku," desak Ella sambil memasang wajah jutek.
"Iya, nanti kami ceritain," ucap Naya dan Maira bersamaan. Mereka berjalan mengitari mall, untuk mencari tempat duduk yang nyaman.
Deg! Langkah Ella terhenti ketika mereka melalui sebuah restoran all you can eat ala Korea. Kedua matanya menangkap bayangan seorang pria, yang tengah bercengkerama dengan seorang wanita cantik. Mereka tampak begitu akrab. Sesekali wanita itu meletakkan tangannya di punggung sang lelaki.
"Ngapain Albert jalan sama cewek lain? Apa itu kliennya?" pikir Ella curiga. "Tapi kalau kliennya, gak mungkin pegang-pegangan gitu, kan?" Dada Ella bergemuruh. Dia langsung teringat pada mamanya di rumah.
__ADS_1
(Bersambung)