
"Pagi, Papa. Gimana kabar Papa hari ini?"
Seorang bocah kecil mengenggam tangan pria yang berbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit. Pria itu hanya memejamkan matanya, tanpa merespon salam dari buah hatinya.
"Ella, kamu harus segera pergi sekolah, sekarang. Kalau nggak, nanti kamu bakal terlambat," ucap Ghina membujuk putri kecilnya.
"Aku nggak mau pergi sekolah, Ma. Aku mau menemani papa di sini seharian." Bocah cilik berseragam merah putih itu menolak untuk pergi ke sekolah.
"Papa akan baik-baik aja di sini. Dia pasti sedih kalau kamu malas belajar," bujuk Ghina lagi.
"Tapi aku bisa belajar di sini, disamping Papa. Semua buku pelajaranku hari ini aku bawa. Aku juga selalu juara satu di kelas, kan?" Gadis belia itu teguh pada pendiriannya.
"Nak, jangan bikin Mama marah. Nanti pulang sekolah kamu bisa main ke sini lagi. Sekarang ayo turun, Om Ganendra akan mengantarmu ke sekolah," bentak Ghina.
Ella merajuk dengan sikap mamanya. Dia lalu memasang sepatunya, dan pergi ke lobby rumah sakit sendirian. Om Ganendra sudah menunggu di sana, untuk mengantarnya ke sekolah.
Kata orang, ikatan batin antara anak dan orang tua itu sangat erat. Mungkin itulah yang terjadi antara Ella dan ayahnya. Baru saja memulai pelajaran pertama di kelasnya, bocah itu sudah dijemput kembali oleh Om Ganendra.
"Mama jahat! Kenapa Mama suruh aku pergi sekolah? Aku jadi nggak bisa ketemu Papa untuk terakhir kalinya." Ella berteriak histeris. Ayahnya telah pergi selamanya, tanpa menunggu kehadirannya.
__ADS_1
"Maafkan Mama, Nak. Mama nggak tahu kalau Papamu akan pergi secepat ini," ucap Ghina disela isak tangisnya.
"Papa jangan pergi. Papa jangan tinggalkan aku. Aku nanti bakal kesepian dan rindu dengan Papa." Bocah itu terus menerus berteriak histeris, di hadapan jasad ayahnya yang terbujur kaku.
"Nak, sini peluk Bibi. Doakan papamu, agar dia bisa pergi dengan tenang. Jangan menangis, Nak," Bibi Sri memeluk Ella kecil dengan erat.
Bola mata gadis cilik itu memandang tajam ke arah Ghina. Namun semua kemarahannya sirna, melihat ibundanya lebih menderita dari pada dirinya.
Sinar mata wanita itu meredup. Pandangannya kosong. Air mata Ghina tidak mampu lagi keluar, meski dia merintih pedih. Tubuhnya gemetar kuat. Tidak ada lagi sang suami yang akan menemaninya hingga hari tua. Kini dia harus berjuang sendirian, membesarkan buah hati mereka satu-satunya.
Srak! "Hah ... Hah ..." Ella terduduk di atas kasurnya. Tubuhnya dibasahi oleh peluh. Napasnya terasa berat dan sesak. "Kenapa aku memimpikan kepergian Papa? Apa karena aku belakangan ini terlalu banyak pikiran?"
...🥀🥀🥀...
"Hai... Kalian udah pada sarapan belum?" Ella meletakkan sekotak kue di atas mejanya.
"Tumben bawa kue, La. Ada perayaan apa, nih? Baru gajian, ya?" ucap tanya Naya dengan mata berbinar-binar.
__ADS_1
"Kayaknya kue mahal? Kamu di terima kerja di tempat yang bagus, ya?" timpal Maira dan Imelda.
"Nggak, kok. Aku masih kerja di warnet Daniel," kata Ella. "Ayo dong, dimakan kuenya," desak gadis itu.
"Jangan bilang ini kue dari cowok ganteng itu, ya?" celetuk Maira.
"Ssttt, Naya!" tegur Naya dengan mencolek siku temannya itu.
"Hmm... Ini emang dari dia. Makanya aku bawain untuk kalian. Aku nggak selera makannya," kata Ella.
"Kok gitu? Cicipin dikit aja, nih. Nanti nyesel, lho," bujuk Imelda.
"Nggak deh. Makasih. Mending aku makan nasi goreng ibu kantin," ucap Ella sambil ngeloyor pergi. Dia benar-benar ke kantin untuk mengisi perutnya yang masih kosong.
Sementara itu di rumah, Ghina melongo melihat meja makan. Ada lauk ikan teri tempe yang menggoda, sayur daun labu serta goreng tahu. Di dalam toples terdapat kerupuk udang yang mengeluarkan aroma menggoda. Tapi bukan cuma itu. Ella menyisihkan sekotak kue untuk dirinya.
"Ini semua untuk Mama. Kue nya dihabiskan, ya," tulis Ella pada secarik kertas.
"Kapan dia menyiapkan ini semua? Padahal dia tadi pergi ke sekolah pagi-pagi sekali. Apa ini bentuk protesnya, supaya aku menjauhi Albert?" gumam Ghina bingung. Dia tidak bisa menebak isi hati putrinya sendiri.
__ADS_1
(Bersambung)