
"Ternyata ini tempat mu mengais rezeki." Jova berkata sambil melihat-lihat ruangan kerja suami nya.
"Mulut mu itu, apa tidak ada kata-kata yang lebih bagus lagi?"
"Tidak ada, pemandangan lumayan indah ya." ujar gadis itu ketika membuka tirai yang menutup dinding kaca.
"Jika kau lelah, kau bisa beristirahat di kamar pribadi ku." kata Arzan sambil menunjuk salah satu pintu yang berada tak jauh dari gadis itu berdiri sekarang.
Namun, Jova teringat sesuatu dan dia selalu saja lupa untuk menanyakan nya. Gadis itu menghampiri Arzan, duduk di hadapan pria itu. "Hii...suami ku. Siapa orang yang menembaki kita malam kemarin?" tanya nya dengan penasaran. Arzan sedikit terkejut, pria itu tidak menyangka jika Jova akan menanyakan hal itu.
"Aku tidak tahu, mungkin saja perampok." Arzan berbohong.
Jovata menarik nafas dalam, "Bisa jadi, mengingat rumah mu berada di tengah hutan. Dasar Tarzan!" gadis itu mengejek suami nya lagi.
"Apa kau takut?" tanya Arzan.
"Takut sih, tapi kan ada kamu. Tidak mungkin kan, kau menumbalkan istri mu yang lucu ini untuk jadi boneka mu." gadis itu bergumam membuat Arzan hanya bisa bergeleng kepala.
"Va,...jika aku meminta mu untuk menjauhi Melvin bagai?" tanya pria itu dengan wajah serius.
"Memang nya siapa yang mau berteman dengan dia?" tanya gadis itu balik. "Aku sebenarnya risih, Melvin terus mengejar ku seperti anak bebek." seloroh gadis itu.
"Kau ini kalau bicara asal keluar aja!" seru Arzan.
"Dari pada bicara lemah lembut lalu munafik." sahut Jova di benarkan oleh Arzan.
Setengah hari ikut Arzan bekerja sangat membosankan untuk Jova. Gadis itu mendongakkan kepala nya keluar untuk melihat suami nya.
"Kakak ku, aku bosan!" rengek gadis itu membuat Arzan dan Sekretaris nya langsung menoleh ke arah gadis itu. "Aku bosan,....!" sekali lagi gadis itu merengek seperti anak kecil.
__ADS_1
"Kamu keluar dulu." perintah Arzan pada Sekretaris nya. Saat Sekretaris itu keluar, Jova menghampiri suami nya. "Apa kau mau pulang dulu?" tanya Arzan sambil melirik jam yang melingkar di tangan nya.
"tidak, aku takut pulang sendiri. Bagaimana jika ada yang menembak lagi? jika aku mati, kau akan jadi duda daun muda." racau Jova.
"Mulut mu itu, memang harus di sekolahkan." kata Arzan membuat gadis itu tertawa.
"Zan,...!" panggil gadis itu dengan suara lembut nya. Jika sudah begini, Arzan tahu jika Jova sedang meminta sesuatu.
"Ada apa?" tanya Arzan singkat.
"Aku ingin pergi ke makam ibu dan ayah ku. Aa aku boleh pergi sekarang?" tanya nya membuat Arzan terdiam sejenak.
"Kau tidak ingin pergi dengan ku?" tanya Arzan.
"Memang nya kau mau ikut?" tanya balik gadis itu.
"Lalu kau akan pergi dengan siapa?"
Ketika tiba di sebuah makam sederhana, Jova hanya menaburkan bunga yang sempat ia beli di jalan lagi. Arzan bingung, pria itu terus memandang ke arah istri nya yang sejak tadi diam saja. Wajah nya hanya menampakkan sebuah raut kesedihan namun tak mengeluarkan air mata. "Ayo pergi....!" ajak Jova kemudian berjalan terlebih dahulu.
Gadis itu tidak pergi ke makam ayah nya, entahlah, Arzan bingung akan sikap gadis itu. Matahari mulai condong ke barat, Jova mengajak Arzan maka di salah satu dari restoran sederhana yang ada di daerah perkampungan diri nya.
"Makanan di sini sangat enak, aku sangat merindukan makan di tempat ini." kata Jova sambil mendaratkan tubuh nya di kursi.
"Benarkah? aku akan membuktikan omongan mu." sahut Arzan.
Tiba-tiba, ada suara seseorang yang sangat Jova kenali. Ekspresi gadis langsung berubah sehingga membuat Arzan penasaran siapa orang yang sedang menyapa istri nya ini.
"Ku pikir kau sudah mati, ternyata masih hidup." kata nya kasar.
__ADS_1
"Jika aku sudah mati, orang yang akan aku hantui pertama kali adalah kau dan ibu mu itu." balas Jova santai.
Gadis itu menoleh ke Arzan,mata nya melotot dan terpesona dengan ketampanan Arzan. "Siapa dia?" tanya Mika tanpa mengalihkan pandangan nya dari wajah Arzan.
"Kenapa kau mau tahu? apa kau ingin merebut nya dari ku? apa kau dan ibu mu masih kurang sudah merebut ayah ku?" kata Jova membuat Mika langsung mati ucap. Gadis itu adalah saudara tiri Jova yang selalu di anak emaskan oleh ayah nya.
Arzan diam saja, pria itu tidak berniat untuk memperkenalkan diri nya kepada Mika. "Kau ini tampan, apa Jovata ini memikat mu sehingga kau mau dengan nya?" tanya Mika tidak sopan.
Jova memutar bola mata nya jengah, "Pergilah, aku ingin makan!" usir Jova.
"Ya, benar kata Jova. Pergilah, kami ingin makan." timpal Arzan membuat Mika geram.
Gadis itu akhirnya memutuskan untuk pergi, dengan mengepalkan ke dua tangan nya tidak terima atas penghinaan Jova tadi. Sesampai nya di rumah, Mika langsung mengadu pada ibunya. Rose berdecih, marah besar ketika mendengar keberuntungan Jova yang mendapatkan laki-laki tampan.
"Dia bahkan seperti orang kaya bu. Ibu harus mencari tahu siapa pria itu." rengek gadis yang tidak tahu diri itu.
"Kau tenang saja, ibu akan membantu mu merebut laki-laki itu dari anak sialan itu. Apa Jova masih berkuliah di tempat itu?" tanya Rose memastikan.
"Sepertinya iya...!" seru Mika.
"Gadis itu tidak boleh mendapatkan secuil kebahagiaan. Kalau perlu dia harus mati menyusul ibu nya yang terkutuk itu." Rose berkata dengan geram.
Rumah yang di tinggali Rose dan Mika sebenarnya adalah rumah peninggalan ibu Jova. Namun pada saat ayah Jova menikah lagi dengan Rose, ayah Jova terpaksa menempatkan Jova di rumah kontrakan sederhana. Sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, Jova sudah terbiasa hidup tanpa orang tua.
Masih di tempat makan tadi, Arzan merasa iba dengan nasib gadis yang sudah sah menjadi istri nya itu. Tak terbayangkan bagaimana susah nya hidup Jova sebelum mengenal diri nya sekarang.
"Jangan di pikirkan, aku tidak akan tertarik dengan gadis seperti saudara tiri mu itu." kata Arzan lalu tersenyum.
"Lalu, gadis seperti apa yang akan membuat mu tertarik?" tanya Jova penasaran.
__ADS_1
"Seperti diri mu...!" seru Arzan membuat gadis itu tersedak makanannya. Dengan cepat Arzan memberi minum istri nya. Jangan di tanya pula, sudah tentu Jova mengumpat pria yang membuat nya tersedak itu. Selesai makan, mereka langsung pulang karena hari mulai larut malam.