
Arzan panik ketika Jova hilang dari pandangan nya. Laki-laki itu secara tidak sengaja bertemu dengan rekan bisnis nya yang tiba-tiba mengajak nya mengobrol. Arzan mulai sibuk mencari Jova, terlebih lagi gadis itu tidak memegang ponsel sekarang.
Anak buah Arzan juga ikut mencari, seketika Arzan bisa bernafas lega saat Aarav memberitahu jika Jova sudah pulang ke apartemen. Bergegas pria itu menyusul istri nya, dan benar saja Jova sudah pulang.
Arzan menghela nafa dalam, niat nya untuk memberi kejutan ulang tahun istri nya kini telah sirna. Arzan masuk tanpa memencet bel, Jova yang sedang duduk di sofa ruang tamu terkejut dengan kehadiran suami nya.
"Mau apa kau?" tanya Jova dengan ekspresi wajah tidak bersahabat.
"Kenapa tidak bilang pada ku jika ingin pulang?" tanya balik Arzan.
"Jika kau tidak keluar, aku yang akan keluar!" ancam Jova tanpa menjawab pertanyaan suami nya.
"Bee,...maafkan aku! beri aku waktu untuk menjelaskan semua nya." kata Arzan namun tetap saja gadis itu keras kepala. Tiba-tiba Arzan berlutut, memohon pada istri nya, "Aku punya alasan tersendiri kenapa aku menjadi orang yang kejam seperti ini. Aku bisa menjelaskan nya bee!"
"Kau sudah membohongi ku Arzan! kau tidak jujur pada ku siapa diri mu yang sebenarnya. Terlebih lagi kematian ayah ku yang sangat tragis itu!" Jova berkata dengan mata yang berkaca-kaca.
"Soal kematian ayah mu, aku benar-benar tidak menembak ayah mu." Arzan masih menyakinkan istri nya. "Malam itu, Alex dan anak buah nya melakukan transaksi obat terlarang di gudang yang berada tak jauh dari kedai makanan milik ayah mu. Aku adanya Aarav berusaha menggagalkan nya, namun pada saat itu Alex dan Doris kabur. Mereka sengaja lari ke tempat yang ramai orang agar bisa menghindari kejaran ku. Dengan sengaja Alex menembak secara brutal, menyebabkan beberapa orang lari ketakutan. Tapi, ayah mu yang hendak menutup kedai nya malah menjadi sasaran Alex pada malam itu. Aku dan Aarav berhenti mengejar, kami berusaha menolong ayah mu. Bukan kah kau ada di sana saat tembakan itu selesai. Tapi aku benar-benar terkejut ketika ayah mu menyuruh kita untuk menikah saat itu. Bahkan, ketika di rumah sakit sekali pun aku tidak tahu jika ayah mu masih sempat membuat surat wasiat itu."Arzan menjelaskan panjang lebar.
__ADS_1
Memang Jova ada di sana pada saat itu, tapi gadis hanya berpikir jika Arzan dan Aarav adalah orang yang sudah menolong ayah nya.Pria itu tidak lelah nya berlutut di bawah kaki istri nya. Gadis itu tidak menangis dan hanya menunjukkan ekspresi datar.
Ternyata, Arzan sendiri tidak tahu apa alasan ayah nya menyuruh mereka menikah. Membingungkan bukan? Arzan merasa bersalah karena ayah Jova meninggal masih ada hubungan dengan nya.
"Aku benar-benar minta maaf. Jika aku tidak mengejar Alex mungkin ayah mu masih hidup sekarang." ucap Arzan sambil mengusap air mata yang sedari tadi jatuh.
Jova hanya menarik nafas dalam, memejamkan mata nya sejenak untuk sekedar menata hati. "Tapi tetap saja kau sudah berbohong tentang siapa kau yang sebenar. Kemarin kau dengan bebas membunuh orang, bisa jadi kau akan membunuh ku hari ini atau besok!" ucap Jova ketakutan.
Dengan cepat Arzan meraih tangan istri nya, mencoba menyakinkan isi hati nya, "Aku benar-benar mencintaimu bee. Aku tidak mungkin menyakiti mu bee, aku sangat mencintai mu. Sungguh bee!"
"Tapi kenapa kau membohongi ku?" gadis itu meninggikan suara nya, menghempaskan tangan suami nya kesal.
Dengan santai nya pria itu duduk di lantai bersandar pada sofa, sorot mata nya tajam menampakkan kebencian. Jova yang melihat sikap suami nya berubah langsung mundur ketakutan.
"Jika bukan karena mereka yang sudah membunuh keluarga ku, tidak mungkin aku menjadi laki-laki kejam seperti ini." Arzan mulai menceritakan masa lalu yang membuat hati nya sakit kembali. "Mereka menghabisi keluarga ku, membunuh ayah ku dan adik ku yang masih berumur tiga belas tahun. Mereka juga membunuh ibu ku bahkan tega memperkosa nya tanpa berperasaan." terlihat sekali mata pria itu menyala-nyala. Ke dua tangan nya mengepal menahan emosi.
Hati Jova melunak, gadis itu mulai mengikuti suami nya yang duduk di lantai. Menatap wajah pria itu, terlihat sekali jika pria itu sedang menahan emosi yang masih bisa di kontrol nya.
__ADS_1
"Sekarang terserah pada mu, jika hati mu masih keras juga dengan terpaksa aku membebaskan mu!" ucap Arzan membuat Jova terkejut. "Aku akan tetap menjadi diri ku sendiri, jika pembunuhan keluarga ku belum mati di tangan ku, aku tidak akan berhenti untuk mencari mereka!" pria itu berkata dengan penuh dendam.
"Lelaki jenis apa ku ini? kenapa tidak memperjuangkan ku?" tanya Jova yang tidak terima dengan perkataan Arzan untuk membebaskan nya.
Arzan langsung menoleh ke arah gadis itu, mengerutkan keningnya melihat wajah istri bya yang di tekuk, "Aku serius pada mu Jovata! jika kau sudah tidak mencintai ku dan kau takut jika aku membunuh mu, kau bisa pergi sejauh mungkin yang kau mau." sekali lagi, Arzan mengeluarkan kata-kata ancaman nya.
"Dasar Tarzan tidak berperasaan! kalau begitu ceraikan!" kata Jova langsung berdiri dari duduk nya menuju kamar. Apa yang sedang di rasakan Jova ini? apa kah dia sedang bercanda sekarang? Arzan yang bingung langsung mengejar istri nya, mengetuk pintu namun tetap saja Jova tidak membuka pintu.
"Apa ucapan ku ada yang salah?" tanya Arzan pada diri nya sendiri. "Aku rasa tidak, aku sudah benar!" timpal pria itu lagi.
Arzan masih mengetuk pintu sambil memanggil nama istri nya, "Jika kau keluar, aku akan membakar tempat ini...!" ancam Arzan. "Hitung saja berapa kerugian yang akan aku sebabkan termasuk nyawa orang." lelaki ini semakin membuat Jova takut. Mau tidak mau Jova membuka pintu kamar.
"Kalau begitu, bunuh aku sekarang juga!" gadis itu malah balik mengancam suami nya.
"Bee,...aku hanya bercanda. Ku mohon maafkan aku bee!" ucap Arzan ingin meraih tangan istri nya.
"Jangan menyentuh ku, aku takut!" tanpa sadar gadis itu refleks menepis tangan suami nya dan berucap yang membuat hati Arzan sedikit perih.
__ADS_1
"Maafkan aku Jova. Aku tidak bisa mengubah diri ku sekarang. Tapi, demi kau aku akan belajar mengubah sikap dan perilaku ku agar menjadi laki-laki yang lebih baik lagi, menjadi suami yang jauh lebih baik lagi untuk mu." Pria itu berkata dengan wajah serius, sedangkan Jova hanya terdiam di ambang pintu kamar.