
Malam ini Aira dan Aarav beserta anak nya menginap di rumah sakit. Malam sudah larut, namun Arzan dan Aarav masih belum tidur juga. Mereka duduk di ruangan depan, agar obrolan mereka tidak mengganggu anak dan istri mereka tidur.
"Sebelum Jova pulang, aku ingin membersihkan mereka." ujar Arzan.
"Em, seharusnya memang begitu. Aku sudah menyelidiki kembali tentang keluarga Miranda, selain dia sudah tidak ada lagi yang hidup." kata Aarav memberitahu.
"Di mana suami nya, kenapa aku tidak pernah melihat nya?" tanya Arzan penasaran.
"Suami Miranda sudah lama mati, Clovis sudah membunuh menantu nya itu."
"Kenapa?"
"Karena suami Miranda tidak ingin anak dan istri nya hidup dalam lingkungan gelap seperti Clovis. Dia menentang keras aturan Clovis." ujar Aarav menceritakan kembali apa yang dia tahu.
"Dari mana kau tahu?" tanya Arzan heran.
"Malam itu aku menangkap salah satu anak buah mereka yang sudah ikut keluarga mereka cukup lama."
"Apa kau yakin Miranda hanya satu-satunya?" tanya Arzan memastikan.
__ADS_1
"Ya, karena Miranda hanya mem satu orang anak. Yang anak nya sudah kau tembak mati dulu." jawab Aarav begitu yakin, "Miranda masih hidup tapi dia sekarat. Lalu, apa yang akan kau lakukan pada ibu dan anak itu?" tanya Aarav karena pria ini juga tidak berani mengambil keputusan tanpa perintah Arzan.
"Em, ular berkepala dua itu. Menurut mu, harus ku apakan mereka?" tanya Arzan balik.
"Tindakan mereka pada Jova sudah melewati batas. Jika membuat mereka sekarang maka itu akan jauh lebih cepat selesai. Tapi, jika kau menyiksa mereka terlebih dahulu aku yakin itu bisa membalas kesakitan yang di alami Jova. Ingat Arzan, ibu Jova meninggal karena ulah Rose, Rose juga merebut ayah nya bahkan merebut semua kasih sayang ayah nya." tutur Aarav panjang lebar.
"Aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan!" ujar Arzan dengan senyum licik nya.
Malam semakin larut, Arzan dan Aarav pada akhirnya tertidur di sofa.Pukul dua malam Jova terbangun, wanita ini merasa jika tubuh nya sangat lelah. Dengan menggerakkan tangan nya perlahan, Jova mencoba membangunkan anak nya yang tidur di samping nya.
"Kenapa mommy bangun, apa mommy butuh sesuatu?" tanya Aileen sambil mengucek mata nya.
Aileen bingung, gadis ini tidak kuat jika harus mengubah posisi duduk mommy nya. Mau tidak mau Aileen membangun kan daddy nya.
Arzan yang baru saja tidur sedikit terkejut ketika di bangunkan anak nya.
"Ada apa Ai?" tanya Arzan.
"Dad, mommy ingin duduk." ujar Aileen bergegas Arzan menghampiri istri nya.
__ADS_1
"Bee, apa kau ingin duduk?" tanya Arzan memastikan.
Jova hanya mengangguk, baru lah Arzan mengubah posisi istri nya. Aileen memberi minum pada mommy nya. Mata Jova cerah, kemungkinan dia tidak akan kembali tidur lagi.
Setengah jam berlalu, Aileen sudah sangat mengantuk namun mommy nya masih belum ingin tidur juga.
"Tidur lah Ai, mata mu sudah sangat merah." titah Arzan pada anak nya.
"Em.....!" ujar Aileen lalu merebahkan kepala nya berbantalkan kaki daddy nya. Arzan mengusap lembut rambut anak nya, tak butuh waktu lama Aileen langsung terlelap tidur.
Ingin sekali Jova bicara banyak, namun tenaga nya belum cukup terkumpul. Arzan hanya menemani istri nya meski dia sendiri sudah sangat mengantuk. Melihat wajah polos istri dan anak nya, Arzan merasa jika dia belum pernah memberikan kebahagiaan pada anak istri nya.
"Aku....ingin....pulang....!" ucap Jova pelan-pelan.
"Tapi kau masih sakit bee, setelah sembuh aku janji akan membawa mu pulang." ujar Arzan.
"Aku...ingin...pulang. Aku...merasa...bosan...di sini." kata Jova dengan sorot mata memohon.
Arzan menghembuskan nafas pelan, pria ini hanya mengiyakan permintaan istri nya. Mana mungkin Arzan berani menolak permintaan sang istri kesayangan nya.
__ADS_1