
Musuh langsung menodongkan senjata ketika Arzan datang sambil menyeret mayat Eron, anak buah nya yang berkhianat. Nyali Arzan cukup besar ternyata, Arzan hanya datang dengan membawa lima belas orang anak buah sudah termasuk Aarav.
"Perintahkan tuan kalian untuk keluar!" perintah Arzan dengan sorot mata tajam nya.
Tiba-tiba seseorang keluar dari dalam sambil bertepuk tangan. Sebatang rokok dengan asap yang mengepul membuat Arzan dapat mencium bau-bau tanaman terlarang dalam kandungan rokok tersebut.
"Selamat datang di markas kami. Tuan sudah menunggu mu!" ucap orang yang di kenali Arzan dan Aarav sebagai tangan Kanan Mr.Bram.
"Kalian membuat anak buah ku berkhianat hanya untuk mengetahui aku sudah menikah dan memiliki anak apa belum bukan?" tanya Arzan malah membuat Aarav terkejut. Laki-laki ini benar-benar tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran Arzan.
"Oh, ku dengar istri mu sudah melahirkan. Selamat untuk kelahiran keponakan ku itu...!" ucap pria yang lebih tua lima tahun dari Arzan.
Mata Arzan sedikit melebar ketika pria itu mengakui anak nya sebagai keponakan. "Siapa kau sebenarnya?" tanya Arzan mulai naik emosi.
"Coba kau lihat wajah ku dengan teliti lagi, kau pasti akan mengenali ku!" ujar pria yang bernama Abrar itu.
"Bajingan!" umpat Arzan. "Kalian sekeluarga memang bajingan yang pantas untuk mati." ucap Arzan masih bisa mengontrol kesabaran nya.
__ADS_1
Abrar tertawa keras, laki-laki itu menepuk-nepuk pundak Arzan namun dengan Arzan menepis tangan pria itu.
"Kami hanya menginginkan anak mu Arzan. Jika kau berlapang dada untuk menyerahkan nya, ayah ku akan membiarkan kau dan istri mu hidup dengan bahagia!" ucap Abrar membuat Arzan marah.
Arzan mencengkram leher Abrar, namun pria itu sama sekali tidak takut. "Katakan pada ayah mu, sampai titik darah penghabisan pun aku tidak akan menyerahkan anak ku pada kalian. Kalian hanya orang asing dalam hidup ku!" ucap Arzan penuh penekanan.
"Siapa bilang kami orang asing?" tanya suara yang sangat di kenali Arzan.
Semua orang langsung menoleh ke arah sumber suara termasuk Arzan dan Aarav. "Paman," lirih nya.
"Ya, aku lah paman mu Arzan. Clovis alias Mr.Bram." ujar pria yang kira-kira berusia sekitar lima puluh empat tahun.
"Apa yang sebenarnya kau ingin kan pak tua?" tanya Arzan yang sebenarnya hati nya sudah hancur.
"Serahkan anak mu. Aku akan membesarkan nya layaknya cucu ku." ucap Clovis dengan begitu santai nya.
"Dari kematian keluarga ku, kau adalah dalang nya. Mengatur ku agar aku menjadi orang baik yang memerangi kejahatan. Kau juga membantu ku mengungkapkan siapa yang sudah membunuh keluarga ku. Siapa kau sebenarnya?" tanya Arzan yang masih belum tahu ada hubungan apa antara Clovis dan ayah nya.
__ADS_1
"Kau sudah benar memanggil ku Paman, karena aku ini memang kakak ayah mu. Tapi kami saudara tiri." ujar Clovis memberitahu.
Arzan semakin syok mendengar nya, yang dia tahu ayah nya hanya seorang anak tunggal dari seorang konglomerat yang memiliki berbagai macam bisnis dan tabungan di sebuah bank dunia bahkan Arzan sendiri tidak tahu akan hal itu.
"Jangan banyak bertanya Arzan, aku hanya menginginkan anak mu!" ujar Clovis membuat Arzan semakin tidak mengerti kenapa mereka sangat menginginkan anak nya.
Aarav menghampiri Arzan, lalu berbisik pada pria itu. "Aku yakin jika anak mu adalah kunci dari sesuatu yang mereka rahasia kan. Jangan sampai kau terkecoh!"
"Pulanglah Arzan, pikir kan baik-baik permintaan ku. Hanya seorang anak, aku akan membiarkan kau dan istri mu bebas dengan bahagia. Lagian kau dan istri mu masih bisa membuat anak lagi." ucap Clovis membuat telinga Arzan merah.
"Bajingan busuk!" umpat Arzan. "Kenapa kau tidak menyuruh anak mu sendiri untuk membuat anak?"
"Jika bisa di tukar dengan anak orang lain, maka aku tidak akan sibuk-sibuk menyetel hidup mu seperti ini.Bahkan membiarkan mu hidup!" ujar Clovis.
"Sebaiknya kita pulang, kita harus menyelidiki tujuan mereka terlebih dahulu." bisik Aarav lalu menarik tangan Arzan.
Arzan membiarkan mayat Eron yang tergeletak. Pria ini kemudian mengikuti Aarav untuk pulang. Clovis juga membiarkan Arzan untuk pulang.
__ADS_1
"Pikiran yang baik Arzan, kau harus berterimakasih pada ku bahwa aku tidak membunuh mu dulu!" ujar Clovis membuat emosi Arzan terpancing. Ingin sekali pria itu menghantam pria tua itu namun di tahan oleh Aarav.