
Ketika Aarav mencari Aileen yang ternyata kamar tersebut memiliki lorong yang panjang. Pria ini terkejut ketika mendapati Aileen sudah berdiri di depan seorang laki-laki yang tak Berdaya. Aarav langsung memeluk Aileen, bukan main takut Aarav jika sampai Aileen kenapa-kenapa.
"Dia yang sudah menembak daddy." ucap Aileen pelan, "Tapi dia masih hidup!" ujar Aileen.
"Tutup mata dan telinga mu," titah Aarav langsung di turuti Aileen.
Aarav mengeluarkan senjata nya, pria ini menembak mati pria yang sudah tak berdaya di lantai itu.
"Ayo pulang!" ajak Aarav, "Daddy sudah menunggu di mobil." ujar Aarav.
"Daddy,....!" Aileen langsung khawatir ketika Aarav mengingat kan nya.
Mereka kemudian keluar, masih mendapati Miranda yang masih terkapar tak berdaya.
"Bawa perempuan ini dan dua perempuan tadi." perintah Aarav pada anak buah nya.
__ADS_1
Aarav dan Aileen buru-buru keluar dari rumah itu. Aileen langsung masuk ke dalam mobil dan mendapati daddy nya sudah lemas tak berdaya.
"Daddy,.....!" Aileen memeluk Arzan, gadis ini menangis dalam pelukan daddy nya, "Jangan tinggalkan Aileen dadd," ucap gadis itu.
"Dasar anak durhaka, kau mendoakan daddy mu ini cepat mati ya?" kata Arzan dengan suara pelan nya.
"Biar Ai punya Daddy baru yang lebih sayang sama Ai." sahut gadis itu membuat Arzan semakin geram mendengar nya.
"Berhenti bercanda, kalian ini sama saja!" tegur Aarav.
Cukup jauh perjalanan menuju rumah sakit, Arzan masih sadar namun wajah pria itu sudah pucat. Aileen sebenarnya khawatir, namun gadis ini hanya diam sepanjang perjalanan sambil memegang baju Arzan untuk menahan luka agar darah nya tidak keluar.
"Aunty, apa daddy akan selamat?" tanya Aileen dengan wajah sedih nya.
"Daddy mu orang hebat, dia tidak akan mati hanya karena tertembak." ujar Aira berusaha menghibur Aileen.
__ADS_1
"Ai takut kehilangan daddy, sedangkan mommy sampai sekarang belum sadar juga." ucap Aileen sambil menyisir rambut nya.
Aira terdiam, memandang ke arah Jova yang sampai detik ini masih belum sadar juga.
"Aunty, Ai ingin melihat daddy dulu." pamit gadis itu langsung di iyakan Aira.
Ruangan ini sepi, hanya ada Aira yang menjaga Jova. Aira menarik kursi, duduk di samping Jova.
"Sampai kapan kau akan tidur seperti ini Jova?" tanya Aira lesu, "Apa kau tidak kasihan pada anak mu? Aileen tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari kalian. Bangunlah Jova, anak mu butuh diri mu." kata Aira berusaha mengajak Jova berinteraksi. "Jika kau ingin mati, sebaiknya kau mati sekarang. Jangan seperti ini, kau sudah membuat anak dan suami mu merasa tersiksa dengan keadaan mu." ucap Aira yang sudah geram.
Sudahlah, Aira memutuskan untuk pergi melihat keadaan Arzan. Rasa nya percuma juga jika diri nya berbicara dengan Jova.
"Mau di bawa kemana Arzan?" tanya Aira pada suami nya.
"Ai meminta jika Arzan bisa satu ruangan dengan mommy nya." jawab Aarav.
__ADS_1
Mereka kemudian mengikuti perawat yang membawa Arzan pindah ke ruangan istri nya. Tiba-tiba Aileen menangis, bagaimana tidak menangis, gadis ini harus menyaksikan ke dua orang tua nya terbaring tak berdaya di rumah sakit.
Aira kembali memeluk Aileen, sedangkan Aarav dan David memilih untuk keluar karena merasa kasihan pada Aileen.