Menikah Dengan Mafia

Menikah Dengan Mafia
27.Hari Milik Arzan


__ADS_3

Du meja makan yang malu-malu, Apa pun yang di pegang Jova pasti akan terjatuh. Wajah nya juga menegang, sikap nya juga aneh bahkan cara bicara nya gugup. Arzan sudah memperhatikan gerak gerik seperti itu sejak tadi ketika istri nya keluar dari kamar.


"Apa anu mau masih sakit bee...?" tanya Arzan sontak membuat makanan yang ada di dalam mulut Jova tersembur keluar.


Jova langsung buru-buru membersihkan nya sambil berkata. "Maaf...maaf...aku tidak sengaja!"


Arzan hanya bisa menahan tawa nya, hari ini adalah hari milik nya dan lelaki itu akan mengerjai istri nya seharian ini. "Aku kan hanya bertanya, kenapa kau menjadi gugup seperti itu?"


Tatapan Jova langsung setajam silet dan sedalam sumur, "Dasar Tarzan tidak tahu malu...!" kata gadis itu kesal. "Apa kau tidak malu jika ada yang mendengar pertanyaan ku itu?" tanya Jova.


Arzan terkekeh lucu, pria itu menghentikan aktifitas makan nya lalu menghampiri istri nya yang mulai menekukan wajah itu. "Ini istana ku, mereka akan menutup mata dan telinga meski mereka melihat dan mendengar sesuatu tentang ku!" ujar Arzan membuat Jova semakin geram. Arzan mendekatkan mulut nya ke telinga istrinya lalu berbisik."Bee,...aku mau lagi...!"


Mata Jova terbelalak lebar, dengan sengaja gadis itu langsung meninju perut suami nya hingga membuat Arzan merintih kesakitan. Bukan nya menolong atau pun meminta maaf, Jova memutuskan untuk kembali ke kamar mereka. Arzan menyusul sambil memegang perut nya yang sakit.


"Kenapa menyakiti ku bee?" tanya Arzan menghampiri istri nya namun Jova berpindah tempat duduk.


"Aku malu....!" seru gadis itu.


"Kita suami istri, ngapain kamu malu bee?" tanya Arzan kembali menghampiri istri nya namun Jova berpindah lagi.


Jova menutup wajah nya, lalu berkata dengan suara datar. "Tadi malam itu khilaf, aku tidak mau lagi.Rasa nya perih dan sakit..."

__ADS_1


Perkataan Jova membuat suami nya langsung tertawa terbahak-bahak. Arzan bahkan sampai berguling-guling di atas tempat tidur. Membuat wajah istri nya langsung di tekuk marah. Arzan yang melihat ekspresi istri nya langsung berhenti tertawa lalu kambli menghampiri Jova.


"Kata orang, kalau pertama itu memang sakit.Tapi, kalau yang ke dua dan seterusnya akan terasa nikmat bee. Seperti makan es krim!" tutur Arzan.


"Perasaan dari tadi malam kata orang mulu! Jangan-jangan,.......!" Jova menunjuk wajah suami nya.


Arzan langsung mengangkat ke dua tangan nya, "Tidak bee,...hanya kau pertama. Aku laki-laki baik bee!" sanggah Arzan.


Jova membuang nafas kasar, gadis itu langsung memukul kepala nya sendiri lalu bertanya pada diri nya sendiri. "Kenapa otak ku jadi mesum gini ya? kenapa aku jadi membahas tentang itu ya?"


Ingin rasa nya Arzan kembali tertawa namun melihat sorot mata istri nya lelaki itu akhirnya menahan tawa nya. Arzan langsung memeluk istri nya, "Sudahlah, bee. Hal indah memang patut untuk di ingat. Terimakasih untuk segala nya, aku mencintaimu." ucap Arzan meluluhkan hati istri nya.


"Satu bulan lagi aku akan wisuda, aku ingin bekerja bee...!" rengek Jova ketika teringat jika diri nya sebentar lagi akan mengakhiri kuliah nya.


"Kenapa beee.....?" tanya gadis itu.


"Tugas mu cukup menghabiskan uang ku saja. Aku sebagai suami mu tidak rela jika istri ku bekerja apa lagi sampai kelelahan. Kau hanya boleh kelelahan jika sedang bersama ku di dalam kamar dan di atas tempat tidur."jawab Arzan dengan tegas membuat gadis itu kembali menekuk wajah nya.


"Kuliah berapa tahun ternyata tidak ada guna nya selain menjadi istri mu!" gerutu gadis itu.


Semakin erat pelukan Arzan, wangi tubuh istri nya seakan menjadi candu untuk pria itu. Hidung mancung itu menggelitik di leher jenjang milik Jova membuat gadis itu merasa geli. "Apaan sih...? geli aaah....!" ujar Jova namun tetap saja kelakuan Arzan semakin menjadi-jadi. "bee,...geli bee....!" sekali lagi, Jova berkata namun kali ini di iringi dengan gelak tawa nya.

__ADS_1


Tanpa sengaja, Jova menyentuh benda yang sangat keras di balik celana suami nya. "Bee,...kau memasukan kayu di celana mu kah?" tanya gadis itu polos membuat Arzan malu.


"Ini bukan kayu bee,...!" jawab Arzan malu-malu.


"Jadi apa? kenapa keras sekali tadi rasa nya?" gadis bodoh itu bertanya kembali.


"Ini adalah sumber benih untuk menghasilkan keturunan kita di masa depan." kata Arzan membuat Jova syok sekaligus malu karena kepolosannya. Arzan kembali memeluk istri nya, "Bee,...aku sudah tidak tahan. Kenapa kau membangunkan nya?" bisik Arzan.


"Membangunkan apa?" sekali lagi Jova tidak mengerti dengan kata-kata suami nya.


"Aku mau bee,...aku mau seperti tadi malam lagi...!" ujar Arzan langsung meraup bibir tipis nan manis milik istri nya. Tangan kekar itu juga mulai nakal, berkelana menyusuri setiap tempat yang sensitif. Lenguhan kecil yang keluar dari bibir manis itu membuat Arzan semakin berhasrat untuk membantai istri nya pagi ini.


Tidak peduli akan jam yang masih bermain di angka sembilan, Arzan yang sudah pernah merasakan kenikmatan duniawi mulai merasa kecanduan hingga membuat pria itu ingin dan ingin melakukan nya lagi.


Tanpa melepas pagutannya, Arzan menggendong istri nya menuju tempat tidur. Merebahkan dengan hati-hati lalu perlahan melepas pakaian istri nya. Ketika tubuh polos itu tidak mengenakan sehelai benang pun, Arzan kembali membuat stempel kepemilikan meski yang tadi malam saja masih utuh berwarna merah keunguan.


Pagi yang indah bukan, ke dua anak manusia itu kini sedang memadu kasih, mencangkul lebih dalam untuk menggemburkan lalu menanam benit untuk pembibitan. Seharian ini hanya di habiskan Arzan dan Jova di dalam kamar, mereka sedang di mabuk kepayang dengan yang nama nya kenikmatan.


Tak ada yang berani mengganggu, bahkan kepala pelayan sendiri tidak berani mengetuk pintu untuk sekedar mengingatkan makan siang. Hari ini memang benar-benar milik Arzan. Istri nya yang tengil dan polos itu hanya bisa pasrah di kala suami nya yang bergelar mafia itu menggagahi nya seharian ini. Tidak seharian, melakukan penanaman benih, hanya di waktu tertentu ketika adik Arzan terbangun ssja. Namun, meski begitu tetap saja Arzan sudah membuat istri nya kalah dalam peperangan tempat tidur hari ini.


"Aku lapar, tapi aku malu mau keluar kamar!" ujar Jova yang lebih memilih berbaring di atas tempat tidur yang sudah tidak beraturan itu.

__ADS_1


"Tunggu sebentar, mereka akan mengantar makanan untuk kita." kata Arzan.


Apa yang di lakukan lelaki ini, tanpa keluar kamar tiba-tiba kepala pelayan dan salah satu pelayan mengantar makanan ke dalam kamar. Syok tidak? sudah pasti syok ketika kepala pelayan melihat seisi kamar yang sudah seperti kapal pecah itu. Namun, tak ada yang berani bersuara. Setelah mereka keluar, barulah Arzan dan Jova makan. Sebagai suami yang baik, Arzan menyuapi istri nya makan.


__ADS_2