
Bangun pagi yang mengejutkan, entah sejak kapan segala perabotan di dapur dan di atas meja makan berubah menjadi warna warni seperti ini. Ingin protes? tidak, Arzan tidak berniat protes karena lelaki ini sadar jika seperauh kekayaan nya adalah milik istri nya.
Para pelayan dan koki di dapur pun tak berani protes, akhir-akhir ini sikap Jova yang berubah membuat Arzan bingung sendiri. Selesai sarapan, Arzan kembali ke kamar untuk sekedar mengambil pistol yang bisa ia bawa.
Jova yang melihat benda itu sedikit tertarik bahkan mengambil alih dari tangan suami nya. Biasa nya Jova akan sedikit bergetar jika menyentuh senjata api tersebut.
"Aku ingin bisa menembak seperti mu bee!" ujar Jova sambil mengacungkan senjata api tersebut tepat di depan wajah suami nya.
Arzan angkat tangan, takut jika istri nya ini asal tembak saja, "Turun bee, itu ada peluru nya!" seru Arzan dengan ke dua mata melebar.
"Gak mau!" rajuk Jova, "Jangan pergi bekerja. Ajari aku menembak!" sekali lagi gadis itu meminta.
"Tapi turunkan dulu, itu berbahaya." ucap Arzan namun tetap saja Jova masih mengangkat senjata itu dengan santai nya.
"Bilang iya dulu....!" kata Jova memaksa.
Mau tidak mau Arzan bilang iya dan kembali mengganti pakaian nya. Lelaki itu rela membatalkan meeting penting hanya demi sang istri.
Anak buah Arzan mendadak kikuk ketika melihat tuan nya mengajak istrinya masuk ke dalam tempat latihan. Mata Jova tekagum ketika melihat ruangan latihan milik suami nya. Dari yang modern hingga yang bersifat alam adalah semua di sini.
"Kenapa tidak pernah mengajak ku ke tempat ini?" tanya Jova sambil mengerucutkan bibir nya.
"Tempat ini berbahaya bee, mana mungkin aku mengajak mu ke sini." ujar Arzan sambil mengusap rambut istri.
Tiba-tiba mata Jova beralih pandang ke beberapa pohon tinggi yang bergelantungan tali untuk latihan memanjat para anak buah Arzan. "Wuaaah, aku tidak percaya ini." ucap Jova kagum.
__ADS_1
"Tidak percaya kenapa?" tanya Arzan bingung.
"Kau benar-benar Tarzan bee! lihat tali-tali di pohon itu, apa kau bisa melakukan nya?" tanya Jova.
Arzan membuang nafas kasar, lalu berkata, "Dasar tengil, kau suka sekali mengatai suami mu ini Tarzan!"
"Memang kenyataan nya seperti itu, kau marah malam tidak ada jatah!" ancam Jova dengan suara keras nya hingga membuat semua anak buat Arzan mendengar nya.
Sontak saja hal tersebut membuat Arzan malu setengah mati, rasa nya harga diri pria itu jatuh merosot di hadapan anak buah nya. "Jangan bicara masalah tempat tidur di sini. Aku malu!" bisik Arzan.
Jova tertawa, bahkan tawa nya keras sekali, "Ternyata kau sangat menjunjung tinggi harga diri mu ini." ejek gadis itu. "Ayo cepat bee, ajari aku menembak." rengek Jova kembali.
"Tolong ambilkan senjata api yang standar saja!" perintah Arzan pada anak buah nya dengan wajah dingin.
Bergegas salah satu anak buah Arzan mengambil senjata api atas perintah. Dengan perasaan senang Jova memegang pistol tersebut. Membuat para anak buah Arzan bergidik ngeri karena takut jika Jova salah menarik pelatuk.
Seakan tidak ada lelahnya, Jova sangat senang belajar menembak hari ini. Gadis itu tidak tertarik pada senjata yang lain selain pistol dan laras panjang beserta teman-teman sejenis nya.
Menjelang makan siang, Arzan mengajak istri nya untuk beristirahat dan mengajak nya kembali mansion. "Bee, gendong! aku lelah." ucap Jova dengan nada manja nya.
"Ayo, naik ke punggung ku!" ujar Arzan sambil membungkuk.
Pria itu dengan senang hati menggendong istri nya. Sebelum makan siang, Arzan dan Jova mandi terlebih dahulu karena tubuh mereka sangat lengket. Selesai makan siang, Jova yang masih lelah memilih tidur sedangkan Arzan pergi ke ruang kerja nya.
"Apa kau sudah masuk dalam jenis suami takut istri?" tanya Aarav yang bingung ketika masuk ke dalam mansion.
__ADS_1
"Jika aku melawan, istri ku selalu mengancam tidak ada jatah!" jawab Arzan jujur membuat Aarav tertawa terpingkal-pingkal. "Diam kau!" bentak Arzan seketika tawa itu menjadi hening. "Akhir-akhir ini Jova bersikap aneh. Entahlah, mungkin dia sedang beradaptasi dengan kebiasaan ku."
"Kalian harus secepatnya memiliki anak, Jova mungkin kesepian. Secara di mansion ini tidak ada perempuan dan dia adalah ratu di mansion ini." kata Aarav. "Emmm, jika kalian memiliki anak, akan seperti apa sikap dan sifat nya nanti ya?" Aarav mencoba membayangkan nya.
"Jangan coba-coba membayangkan keunturunan ku!" seru Arzan kesal. "Informasi apa yang kau dapat?" tanya Arzan.
"Selama ini kita hanya terfokus pada Alex saja, ternyata uncle Rasyad benar. Di belakang Alex masih ada ayah dan paman nya. Penculikan Jova dan kemarahan mu berhasil memancing mereka untuk keluar." Aarav memberitahu.
"Di mana mereka?" tanya Arzan penasaran.
"Tuan Afkar ada di luar negeri kemungkinan akan kembali minggu depan sesuai permintaan Alex. Sedangkan tuan Lucas ada di kota M karena memang markas nya ada di sana." tutur Aarav membuat dendam Arzan kembali mencuat. "Uncle Rasyad ada benar nya, seharusnya kau bekerjasama dengan melvin. Misi mu dan dia sama saja, sama-sama membalas dendam." kata Aarav.
"Melvin menyukai istri ku, mana mungkin aku akan bekerja sama dengan orang yang menyukai istri ku." ucap Arzan kesal.
"Kau ini, masih saja cemburu dengan bocah ingusan itu!" cibir Aarav semakin membuat hati Arzan panas.
"Diam kau!" bentak Arzan kesal, "Umur mereka sama, lihat lah kita yang lebih tua beberapa tahun dari mereka. Melvin masih muda, sudah pasti dia tangguh dan gesit!"
Aarav terkekeh, lalu berkata dengan nada mengejek, "Biasa nya yang tua jauh lebih gesit di atas tempat tidur. Kau tenang saja, perempuan seperti Jova adalah tipe setia."
"Dari mana kau tahu?" tanya Arzan penasaran.
"Terkadang, orang yang humoris akan mencintai kita dengan serius dari pada orang yang serius tapi tidak pernah tulus." kata-kata bijak Aarav mampu membuat Arzan tersenyum senang mendengar nya.
Arzan menepuk pundak Aarav lalu berkata, "Cepatlah cari pasangan, kau butuh pendamping hidup."
__ADS_1
Setelah mengatakan hal tersebut Arzan langsung berlari pergi untuk menghindari sumpah serapah Aarav. Meskipun Aarav adalah bawahan Arzan, namun mereka tidak saling sungkan jika sedang di luar pekerjaan kantor. Beda lagi jika mereka di kantor, masing-masing dari mereka akan menunjukan wajah tegas dab dingin mereka.