Menikah Dengan Mafia

Menikah Dengan Mafia
98.Penembakan Lagi


__ADS_3

"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Aarav penasaran.


"Apa kau ingat ketika kita menyerang markas Abrar dulu?" tanya Arzan tentu saja membuat Aarav langsung ingat.


"Tentu saja aku ingat, ada apa?" tanya Aarav semakin penasaran.


"Saat aku menembak mati Abrar, ada seorang pemuda yang mengejar kearah Abrar memanggil nya dengan nama paman. Lalu aku menembak nya dan dia langsung mati." ujar Arzan yang ingat dengan kejadian hari itu. "Aarav, kita telah melupakan satu orang dalam kejadian itu...!"


"Siapa yang kau maksud?" tanya Aarav bingung.


"Clovis masih memiliki satu anak perempuan, yang jadi pertanyaan ku adalah siapa pemuda yang dulu aku tembak sampai mati saat dia hendak menolong Abrar?" tanya Arzan membuat Aarav langsung berpikir keras.


Sementara itu Aileen yang menguping sejak tadi dapat mendengar jelas obrolan tersebut. "Siapa yang daddy maksud?" batin Aileen langsung penuh dengan tanda tanya.


"Cari tahu siapa anak perempuan Clovis, aku yakin pasti semua ini ada hubungan nya." titah Arzan.


"Kenapa kau baru ingat sekarang?" tanya Aarav.


Sejenak Arzan terdiam, pria itu memandang ke arah istri nya, "Bagaimana bisa aku mengingat hal seperti itu sementara yang ada di pikiran ku hanya Jova." ucap Arzan pelan.


"Aku mengerti, semoga apa yang kau yakini ini semua nya benar." ujar Aarav.


"Apa salah nya mencari tahu, setidaknya kita sudah berusaha mencari." kata Arzan.


"Arzan, sesekali perhatikan lah anak mu, lihat tubuh nya yang sudah menjulang tinggi. Dia tidak seperti teman-teman lain nya, Aileen hanya sibuk berlatih untuk mengisi waktu nya." ujar Aarav memberitahu meski Arzan sudah tahu akan hal itu.

__ADS_1


"Em, suruh dia masuk!" kata Arzan.


Aarav kemudian mengajak Aileen masuk, tak betapa lama mereka pulang. Sebelum pulang Aarav mengajak Aileen untuk pergi ke minimarket terdekat karena Aksa meminta mainan baru pada daddy nya.


Namun, baru saja Aileen hendak masuk ke dalam mobil setelah berbelanja tiba-tiba suara tembakan terdengar begitu keras. Aileen yang sudah biasa dengan suara seperti ini buru-buru menghindar lalu langsung ke dalam mobil. Aarav yang terkejut juga ikut masuk.


"Siapa itu paman?" tanya Aileen terkejut.


"Paman tidak tahu, pegang ini...!" ujar Aarav melempar satu senjata api yang selalu dia bawa di mobil nya. Aarav kemudian menghubungi Arzan untuk memberitahukan kejadian ini.


Arzan tiba di minimarket yang menjual segala jenis barang. Pria itu langsung menghampiri mobil Aarav dengan membawa beberapa anak buah. Tidak lupa Arzan juga menyuruh anak buah nya untuk menjaga istri nya di rumah sakit.


"Siapa yang sudah menembak Aileen?" tanya Arzan.


"Arah nya dari sana!" tunjuk Aileen pada gedung tinggi yang masih dalam masa pembangun di sebrang jalan. "Tapi orang nya sudah tidak ada!" ucap gadis itu membuat Arzan menatap wajah anak nya.


"Jangan main-main kau Aileen!" seru Arzan.


"Ai tidak bohong Dad, Ai bisa mendengar dan mencari arah sumber tembakan itu." tegas Aileen.


"Jangan meremehkan anak mu, kau tidak tahu apa yang di lalui selama ini." ujar Aarav membuat Arzan terdiam.


Mata gadis itu liar memandang gedung tersebut, tiba-tiba Aileen menarik daddy dan paman nya untuk menunduk.


Door......satu tembakan menghantam aspal karena target lebih dulu menghindar.

__ADS_1


"Cepat cari bajingan itu...!" perintah Arzan langsung membuat anak buah nya pergi ke gedung tersebut.


Aarav ikut mengejar, suasana siang itu tidak cukup ramai namun berhasil membuat semua orang panik. Arzan langsung mendorong anak nya masuk ke dalam mobil.


"Pulanglah, di sini berbahaya." ujar Arzan langsung melajukan mobil nya mengantar anak nya pulang ke mansion.


Sejak Aileen kecil hingga sekarang, baru sekarang gadis ini duduk di samping daddy nya. Aileen hanya diam saja, gadis ini tidak banyak bertanya.


"Apa yang kau pegang?" tanya Arzan ketika melihat tangan nya yang sejak tadi tidak diam.


"Tidak ada, bukan apa-apa." ujar Aileen langsung menyembunyikan apa yang dia pegang.


Setibanya di mansion, Arzan langsung turun begitu juga dengan Aileen.


"Masuklah, jangan pergi ke sekolah dulu atau kemana pun. Di luar sedang berbahaya!" ujar Arzan mengingat kan anak nya.


"Daddy mau kemana?" tanya gadis itu.


Arzan hanya menatap namun tidak menjawab, pria itu buru-buru pergi untuk menyusul Aarav. Aileen tersenyum, secuil perhatian dari daddy nya sudah bisa membuat nya bahagia. Aileen kemudian masuk, menceritakan semua nya pada Aira hingga membuat wanita itu terkejut.


Arzan dan Aarav bertemu di rumah sakit, lagi-lagi mereka tidak bisa menangkap penembak tersebut. Yang membuat Arzan dan Aarav heran, kenapa penembak tersebut tahu jika Aarav dan Aileen pergi ke minimarket tersebut.


Aileen Lateshia Arzana


__ADS_1


__ADS_2