
Haaaa.....haaa.....haaaa.....gadis itu memacu kuda nya dengan lincah. Sejak gadis itu menyatakan ingin mencari siapa penembak mommy nya, Aileen jadi rajin berlatih.
Untung saja semua orang yang ada di mansion ini sangat sayang dan peduli dengan Aileen, setiap hari mereka menemani Aileen berlatih ilmu bela diri atau memainkan senjata tajam lain nya. Dari mulai memanah,menembak atau senjata tajam yang lain nya Aileen sudah sangat menguasai nya.
Di umur nya yang ke empat belas tahun ini, itu arti nya sudah sembilan tahun mommy nya koma dan daddy nya tidak pernah peduli pada nya. Gadis ini sangat suka menembak, bahkan di umur nya yang masih dini, Aileen bisa menembak dengan jarak jauh.
Doooor,....gadis ini berhasil menembak kelinci yang sengaja di letakkan dengan jarak yang sangat jauh.
"Wah, kakak Ai, kau sangat hebat." puji Aksa yang kagum dengan keterampilan Aileen.
"Semua yang ada pada daddy mu menurun pada mu Ai," ujar Aarav bangga.
"Tapi sayang nya Daddy tidak pernah melihat nya!" ucap Aileen dengan memaksakan senyum nya.
__ADS_1
"Jika mommy mu sadar nanti, dia akan sangat bangga pada mu." timpal Aira.
"Ai rindu mommy. Paman, bisakah ajak Aileen pergi besok?" tanya gadis itu dengan sinaran mata yang membuat Aarav tak tega untuk menolak nya.
"Paman akan mengantar mu besok." ujar Aarav membuat senyum gadis itu melebar.
"Paman David, tolong minta pada kepala pelayan untuk memasak makanan kesukaan Daddy. Aku akan pergi besok!" titah gadis itu tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan nya.
"Baik nona!" ucap David yang sampai sekarang masih setia dengan Arzan. Laki-laki ini juga sudah memiliki anak dan istri, jika senin sampai jum'at dia akan menjaga dan mengawal Aileen pergi sekolah atau kemana pun dan jika sabtu minggu David akan libur dan berkumpul bersama keluarga nya.
"Ini ada makanan kesukaan daddy. Makan lah nanti dadd," ucap gadis itu sambil meletakan apa yang dia bawa.
Aileen kemudian melihat mommy nya, memeluk dan mencium Jova dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Sapa lah sedikit anak mu," bisik Aarav namun tidak di perdulikan oleh Arzan.
"Paman, bukan kah kita tadi membawa pakaian ganti untuk Daddy?" tanya Aileen yang tidak melihat tas yang sudah di bawa tadi.
"Astaga, Paman lupa Ai." ujar Aarav.
"Paman,....!" lirih Arzan seakan mengingatkan sesuatu.
"Siapa yang kau maksud?" tanya Aarav bingung.
"Aku seperti mengingat sesuatu!" ujar Arzan mencoba mengingat hal yang samar-samar di kepala nya. "Aileen, kau keluar lah. Daddy ingin bicara pada paman Aarav!" perintah Arzan membuat Ai juga ikut bingung.
"Tapi dadd,?" gadis ini berat untuk keluar.
__ADS_1
"Kau ingin melihat daddy marah lagi?" tanya Arzan membuat nyali gadis itu ciut. Mau tidak mau Aileen keluar, namun gadis itu sangat penasaran apa yang di bicara kan daddy nya bersama Aarav hingga membuat Aileen memberanikan diri tidak menutup pintu terlalu dapat agar bisa menguping pembicaraan antara Daddy dan Aarav yang seperti nya sangat serius.