
Doooor,....satu tembakan untung saja tidak mengenai Arzan ketika pria itu hendak masuk ke dalam mansion. Arzan yang panik langsung mengeluarkan senjata api nya menodong ke segala arah.
Mata pria itu melebar ketika melihat istri nya yang berada di atas tangga sambil mengacungkan senjata api nya. Tiga bulan menjalani terapi membuat Jova sekarang sudah bisa berjalan kembali.
"Ada apa dengan mu bee, kenapa kau menembak ku?" tanya Arzan langsung menyimpan kembali senjata nya.
"Untung saja kau suami ku, jika mengikuti apa kata hati ku, sudah pasti kau mati sejak tadi...!" ucap Jova membuat suami nya bingung. Sedangkan kepala pelayan dan beberapa anak buah Arzan yang melihat kejadian ini hanya bisa menonton dari jauh.
"Heh, kau ini kenapa?" tanya Arzan sekali lagi, pria ini bingung di mana letak kesalahan nya, "Turunkan senjata mu!" pinta Arzan pada istri nya.
Jova membuang nafas nya kasar, Arzan mencoba meraih tangan istri nya namun Jova malah mempelintir tangan suami nya.
"Ternyata, ketika aku sakit kau sama sekali tidak pernah mengurus anak ku. Kau malah membenci dan sibuk menyalahkan nya, di mana letak hati mu...?" ujar Jova yang sudah emosi.
Mati lah Arzan, pikir nya selama ini dia akan baik-baik saja karena sudah memperlakukan anak nya dengan sangat buruk.
__ADS_1
"Benar aunty, paman Arzan suka memarahi kakak Ai. Aska sering melihat kak Ai menangis, bahkan Aksa suka bantu kak Ai biar bisa jenguk aunty di rumah sakit." ucap Aksa yang sudah mengadukan semua nya pada Jova.
"Anak jangkrik, awas saja kau!" ucap Arzan geram.
Di saat itu hanya ada Aksa dan Jova, karena Aira dan Aarav sibuk dengan pekerjaan mereka begitu juga dengan Arzan sedangkan Aileen sedang berada di sekolah nya. Sejak Jova sembuh, Jova meminta anak nya untuk pergi ke sekolah. Jadi, di saat berdua seperti ini lah Aksa mengadu semua nya pada Jova.
"Semua nya hanya salah paham bee, aku bisa menjelaskan nya." ujar Arzan mencoba membujuk istri nya.
"Kau menyakiti anak ku sama saja kau menyakiti ku. Di mana perasaan mu Tarzan?"
Arzan melirik ke arah Aksa, bocah itu hanya menjulurkan lidah nya mengejek Arzan. Arzan mengepalkan tinju nya lalu menunjukan nya pada Aksa.
"Aunty, paman mengancam ku!" adu Aksa lagi membuat Jova langsung menendang kaki suami nya.
Di dalam kamar, Arzan berusaha menjelaskan yang sebenarnya. Pria ini juga mengakui kesalahan nya dan meminta maaf pada Jova. Namun, tetap saja Jova tidak terima dengan sikap Arzan yang di anggap nya sudah sangat keterlaluan.
__ADS_1
Menjelang sore baru lah semua orang pulang, Arzan sudah geram dan ingin menghajar Aarav karena anak nya sudah mengadu yang bukan-bukan. Di ruang tamu, Arzan marah-marah. Aira dan Aarav hanya tertawa hingga membuat Arzan semakin geram.
"Anak dan orang tua sama saja. Menyebalkan!" ucap Arzan kesal.
"Sudah ku bilang berapa kali, Jova pasti akan sangat marah besar jika dia tahu kau sudah berlaku buruk pada anak nya." kata Aira lalu kembali tertawa.
"Jangan menyalahkan anak ku, dia melihat dan mendengar apa yang sudah kau lakukan pada anak mu sendiri." timpal Aarav.
Arzan meraih tangan anak nya, memohon agar Aileen mau membantu nya, "Bantu daddy Ai, mommy mu marah besar di kamar. Mati lah daddy malam ini, apa kau ingin menjadi anak yatim?"
"Gimana ya dad, Ai juga bingung. Masalah kita yang dulu Ai sudah melupakan nya, lagian semua itu ada sebab nya." ujar Aileen ikutan bingung.
"Em, daddy mohon beri pengertian pada mommy mu sekarang. Jika tidak, mommy akan mengusir dan menceraikan daddy." kata Arzan masih memohon pada anak nya.
"Ya sudah, Ai menemui mommy dulu." ujar Aileen kemudian pergi ke kamar mommy nya.
__ADS_1
Arzan memandang suami istri di depan nya secara bergantian. Hati nya masih dongkol dengan Aira dan Aarav yang terus memojokkan nya.