
Sudah satu minggu sejak kejadian yang membuat separuh hidup Arzan rapuh. Pria itu tidak sekali pun pergi dari sisi istri nya. Arzan dengan setia menunggu dan merawat Jova yang kini sedang koma.
Sudah satu minggu pula Arzan tidak pulang, bahkan pria itu tidak mengingat anak nya yang kini berada di bawah asuhan Aira dan Aarav. Tentu berat bagi Arzan,sehari saja tidak mendengar ocehan istri nya dia pasti sudah rindu.
"Daddy,...!" lirih gadis kecil yang sangat merindukan orang tua nya itu.
Dengan lesu Arzan menoleh, tidak ada senyum di wajah nya, lingkar hitam menghiasi pinggiran mata nya.
"Mau apa kau ke sini?" tanya Arzan dengan wajah dingin nya.
"Ai rindu dengan mommy, Ai rindu dengan daddy," ucap gadis itu dengan mata berkaca-kaca.
"Biarkan dia melihat mommy nya Arzan." ujar Aarav yang merasa iba pada Aileen.
Arzan tidak bergeming, pria itu hanya diam dan membiarkan anak nya menghampiri mommy nya.
__ADS_1
"Mommy kenapa tidur terus?" tanya gadis itu masih tidak mengerti.
"Mommy mu tidak akan tidur jika saat itu kau tidak merengek minta makan pizza!" ujar Arzan membuat gadis itu tertunduk.
"Jangan menyalahkan Aileen, dia tidak tahu apa-apa!" seru Aira tidak terima karena Arzan terus menyalahkan anak nya.
"Bawa dia pulang, aku sangat malas melihat nya!" titah Arzan membuat Aarav geram dan langsung menarik kerah kemeja Arzan.
"Apa kau sudah gila?" tanya Aarav dengan mata melotot, "Aileen anak mu, dia tidak ada hubungan nya dengan masalah yang belum ada titik terang ini...!" ujar Aarav namun tetap saja Arzan hanya diam tak membalas.
"Tapi Ai ingin bersama daddy dan mommy." ucap gadis itu dengan sudut mata berair.
"Ai, apa kau ingin melihat daddy marah?" tanya Arzan dengan mata melotot hingga membuat anaknya takut.
Aileen langsung meraih tangan Aira, menatap wajah wanita itu, "Aunty,ayo pulang!" lirih gadis itu.
__ADS_1
Aira langsung mengajak Aira keluar, sedangkan Aarav hanya bergeleng kepala melihat sikap Arzan, "Kau benar-benar keterlaluan!" ucap Aarav sebelum keluar.
Di mansion, Aira berusaha menyuruh Aileen untuk istirahat. Sungguh sedih melihat keadaan gadis kecil ini sekarang. Melihat Aileen sudah tidur siang, Aira kemudian keluar menghampiri suami nya yang sedang duduk berramai-ramai dengan yang lain nya.
"Apa kalian benar-benar tidak mendapatkan petunjuk apa pun?" tanya Aarav lesu.
"Maaf tuan, kami sudah berulang kali mencari petunjuk di tempat kejadian namun semua bersih. Kami yakin jika pelaku sudah merencanakan semua nya dengan sangat matang bahkan secuil rekaman saja tidak ada." tutur David panjang lebar.
"Coba kau ingat lagi, akhir-akhir ini siapa yang sudah tersinggung dengan kalian?" ujar Aira.
"Tidak ada sayang, urusan bisnis pun berjalan seperti biasa. Kami juga sudah lama tidak melakukan hal-hal penggagalan seperti dulu." ucap Aarav begitu yakin.
"Kalau begitu ini ada hubungan nya dengan dendam pribadi atau apa lah, aku yakin yang di incar sebenarnya adalah Arzan bukan Jova." kata Aira yang sangat yakin.
"Lagian siapa, tidak mungkin Alex atau Lucas atau Afkar, mereka semua sudah mati di penjara dua tahun yang lalu, Clovis juga sudah mati." ujar Aarav berusaha mengingat.
__ADS_1
Semua terdiam hening, David dan Aarav mencoba mengingat satu persatu musuh mereka namun semua nya nihil. Di kota ini semua gangster atau kelompok apa pun itu nama nya semua berada di bawah naungan Arzan dan Aarav.