
Semakin panas hati Mika ketika melihat Jova menggandeng tangan Arzan masuk ke dalam kantor. Tidak untuk bekerja, seperti biasa Jova akan mengekor di belakang suami nya. Meskipun Arzan sudah menyerahkan sebagian kekayaan nya untuk Jova, namun lelaki itu tetap saja melarang istri nya untuk bekerja.
Arzan meeting, Jova yang suntuk memutuskan untuk berkeliling sebentar untuk melihat cara kerja karyawan. Ketika melihat Jova sendirian, Mika langsung menghampiri saudara tiri nya itu untuk melampiaskan amarah nya.
"Wuuuah,...enak sekali kau ya!" Mika berkata sambil melipat kedua tangan nya di dada.
"Apa maksud mu?" tanya Jova acuh.
"Kau jual berapa tubuh mu untuk mengikat lelaki kaya?" tanya Mika yang sangat iri dengan keberuntungan Jova.
"Aku di nikahi suami ku kerena kami saling cinta. Jadi tolong jaga bicara mu Mika." bentak Jova masih dengan wajah santai nya.
"Sombong sekali kau!" cibir Mika "Kalau Arzan sudah bosan kau juga akan di campakan dan ngemis di jalanan." ejek nya sambil tertawa.
Jova membalas tawa Mika lalu berkata, "Meskipun Arzan menceraikan aku atau meninggalkan ku, aku tidak akan kelaparan apalagi mengemis di jalanan. Kenapa? karena separuh kekayaan nya sudah atas nama ku."
Bukan nya percaya dengan ucapan Jova, tawa Mika malah semakin keras. Gadis itu malah mengejek Jova dengan kata-kata Kasar nya yang membuat Jova mulai geram. Namun, suara berat yang di kenali Jova mengurungkan niatnya untuk melawan Mika.
"Dimana etika mu? berani sekali kau berkata kasar pada atasan mu hah....!" bentak Arzan dengan suara dingin nya. Bahkan, suara lelaki itu menggema di lorong lantai lima hingga membuat para karyawan lain datang untuk melihat.
Wajah Mika langsung gugup, gadis ini kehabisan kata-kata. Apa lagi ketika melihat sorot tajam ke dua mata Arzan sangat menakutkan bagi Mika. "A-aku, aku hanya menyapa Jova!" kilah gadis itu namun sayang Arzan sama sekali tidak percaya.
"Silahkan angkat kaki dari kantor ku." usir Arzan "Aku tidak membutuhkan karyawan yang tidak bisa menghormati orang lain terutama atasan mereka!"
Mika langsung memohon pada Arzan, gadis itu berusaha meraih tangan Arzan namun lelaki itu dengan cepat menepis nya. Mika beralih pada Jova, menggenggam tangan nya untuk memohon agar diri nya tidak di pecat.
"Jova, bilang pada Arzan untuk tidak memecat ku. Bantu aku Jova, aku saudara mu!"mohon Mika dengan memasang wajah melas nya.
__ADS_1
"Kita tidak ada hubungan saudara Mika. Bukan kah kalian sudah merebut ayah ku? jadi, aku tidak pernah menganggap kau dan ibu mu keluarga ku!" ucap Jova dengan tegas nya.
"Jangan seperti ini Jova. Ibu akan memarahi ku jika aku di pecat. Demi ayah kita, Jova ku mohon bilang pada suami mu jangan pecat aku ."
Jova menghempas tangan Mika, rasa nya sudah muak melihat Mika merengek seperti ini. Mika memang pintar memasang wajah sedih, pandai menipu orang dan mendapatkan perhatian. Bahkan, demi membela Mika, Jova terpaksa hidup sendiri di jauhi oleh ayah nya.
"Cukup Mika....!" bentak Jova "Kita bukan saudara!" tegas nya sekali lagi kemudian pergi. Arzan merasa ada yang aneh pada istri nya, sejak kemarin Jova terlihat sangat cengeng.
"Seret dia keluar!" perintah Arzan pada Aarav kemudian lelaki itu bergegas menyusul istrinya.
Melihat lirikan tajam Arzan, semua karyawan kembali ke kursi mereka masing-masing. Sedangkan Jova, gadis cengeng ini sedang menangis di ruangan pribadi milik suami nya.
"Apa yang membuat mu sedih bee?" tanya Arzan ketika masuk ke dalam.
Jova mengusap air mata nya kasar, "Apa mereka tidak puas? mereka sudah merebut kasih sayang ayah ku, apa Mika akan mengambil mu dari ku juga?" tanya nya dengan isak tangis pilu.
"Pasti Mika sengaja bekerja di perusahaan ini agar bisa menarik perhatian mu. Aku sudah tahu gerak mereka." kata Jova sangat geram.
"Aku sudah memecat nya, kau jangan khawatir bee." bujuk Arzan.
"Aku ingin mengomel, tapi aku lapar!" ujar Jova membuat suami nya tertawa.
"Kalau lapar, cuci wajah dulu setelah itu kita cari makan." pria itu menuruti keinginan istri nya untuk makan padahal jam masih berada di angka sepuluh.
Jova sudah rapi, meskipun mata nya masih merah, gadis ini menutupi nya menggunakan kacamata. Arzan menggenggam tangan istri nya erat, tentu saja Jova tidak akan melepaskan nya.
"Mau kemana kalian?" tanya Aarav ketika mereka berpapasan.
__ADS_1
"Pergi....!" sahut Arzan sambil melambaikan tangan nya.
Setiba nya di restoran, Arzan kembali bingung dengan menu yang di pesan istri nya, sangat banyak membuat pria itu menelan ludahnya kasar. "Kau bisa makan semuanya bee?" tanya Arzan bingung.
"Kenapa? apa kau tidak sanggup membayar nya?" tanya gadis itu sinis.
"Bukan begitu bee, aku takut ini akan menjadi mubazir jika tidak kau habiskan." ucap Arzan masuk akal. Namun, bukan nya mengerti ucapan suami nya lagi-lagi mata Jova kembali berkaca-kaca seperti hendak menumpahkan tangis nya. Wajah nya juga berubah menjadi sedih, membuat Arzan bingung dengan perubahan sikap istrinya ini. Arzan menggaruk kepala nya tak gatal, "Jangan menangis lagi sayang, aku hanya bercanda. Ayo makan lah!" ucap Arzan mulai takut dengan sikap istrinya.
Lelaki yang terlihat sangar di luar ini hanya bisa tunduk di depan istri nya, jika ada musuh yang melihat sudah tentu Arzan akan menjadi bahan olokan sang musuh.
Lagi-lagi, Arzan hanya bisa menelan ludah nya kasar ketika melihat istrinya makan dengan begitu lahap nya. Ada lima piring dengan menu yang berbeda kini satu persatu di lahap habis gadis itu.
"Bee, setelah makan aku ingin membeli camilan. Apa kau sibuk?" tanya Jova membuat Arzan syok.
"Kau masih lapar bee?" tanya pria itu hati-hati.
"Ya, aku masih ingin makan es krim dan camilan yang lain. Setelah membeli nya, kita langsung pulang. Aku sudah tidak berselera kembali ke kantor mu." ucap nya ketus.
"Iya, terserah kau saja bee!" Arzan pasrah. "Bee,...malam ini aku izin pergi ya. Aku dan Aarav sudah tahu dalang dari pembunuhan keluarga ku. Jadi, aku ingin mengintai karena aku tidak tahu wajah mereka." Arzan memberitahu.
"Apa itu berbahaya?" tanya Jova khawatir.
Arzan menggelengkan kepala nya, "Tidak, jika aku memberitahu mu. Kau pasti akan terkejut siapa dalang." ucap Arzan dengan wajah terlihat sedih.
"Beritahu aku setelah kau pulang mengintai bee. Jangan bicara di sini, mana tahu ada yang dengar nanti...!" kata Jova sambil memandang ke sekeliling mereka.
Selesai makan, Arzan dan Jova mampir sebentar ke minimarket untuk membeli camilan yang di inginkan Jova. Setelah itu mereka langsung pulang sesuai permintaan Jova.
__ADS_1