Menikah Dengan Mafia

Menikah Dengan Mafia
20.Jaga Bicara Mu!


__ADS_3

Makan malam yang membuat Jova kembali terkagum-kagum. Arzan memang pandai menarik perhatian Jova. Apakah lelaki ini memang pandai bermain cinta? begitu sekelumit pertanyaan yang ada di dalam benak Jova. Gadis ini sangat cantik, mengenakan dress selutut berwarna merah maroon kontras dengan warna kulit nya yang putih.


Arzan saja selalu memandang istri kecil nya, meski mereka berselisih usia enam tahun tapi nyata nya mereka sangat pantas menjadi pasangan. "Terimakasih Arzan, kau sudah membuat ku bahagia belakangan ini." ucap Jova dengan suara lembut nya. Arzan suka gadis ini, pandai membawa diri.


"Apa pun untuk mu, aku akan berusaha membuat bahagia." kata Arzan membuat Jova terharu.


Selesai makan malam, mereka kembali ke kamar, rasa nya bingung ingin pergi ke mana karena semua pemandangan di sini sangat bagus meski pun di malam hari. Jova duduk tepat di tepi kolam renang, baju yang terbuka membuat hembusan angin pantai dengan mudah masuk menusuk kulit nya.


Tiba-tiba Arzan datang menghampiri nya, menyelimuti gadis itu lalu ikut duduk di samping Jova. "Jangan lama-lama duduk di sini. Angin laut sangat kencang, nanti kau masuk angin." kata Arzan yang sangat perhatian dengan istri nya.


Sejak sore tadi, sikap Arzan sangat berubah. Pria itu jauh lebih lembut dan juga perlakukan nya pada Jova membuat gadis itu semakin yakin jika Arzan sungguh mencintai nya.Kali ini, Arzan tidak sungkan lagi untuk memeluk istri nya. Masih terasa canggung namun Jova bisa bersikap biasa saja di depan suami nya.


"Apa yang kau suka dari pantai Bee?" tanya Arzan yang penasaran.


"Laut nya, ombak nya, angin dan pasir nya. Semua menyatu dalam satu wadah yang membuat ku bisa menikmati nya dalam satu waktu." jawab Jova dengan jujur.


"Lain kali, aku akan mengajak mu ke pantai yang jauh lebih indah lagi." kata Arzan berjanji. "Ayo masuk,angin nya semakin dingin." ajak Arzan kemudian mereka masuk ke dalam kamar.


Jova sudah siap dengan pakaian tidur nya dan hendak merebahkan diri di atas tempat tidur yang mewah itu. Namun, Arzan sudah duluan berada di sana hingga membuat Jova memilih duduk di sofa. "Kau tidak mengantuk? kenapa malah duduk di situ?" tanya Arzan heran.


"Aku tidak di sini saja...!" seru Jova membuat Arzan langsung tertawa. Pria itu menghampiri istri nya lalu duduk berjongkok sambil menggenggam ke dua tangan istri nya.


"Bee,...kita ini suami istri yang sah. Sudah sewajarnya jika kita tidur bersama." kata Arzan kemudian pria itu menggendong Jova naik ke atas tempat tidur. Jova yang syok langsung menyembunyikan wajah nya yang merona malu itu. "Jangan menutupi wajah mu." ujar Arzan menyingkirkan tangan istri nya.


"Aku malu...!" gumam gadis itu.


"Tidur lah, sudah malam. Kita akan pulang besok pagi." kata Arzan lalu memeluk istri nya. Gadis itu tidur berbantal lengan suami nya, rasa nya nyaman dan juga hangat hingga membuat Jova langsung terlelap. Arzan juga sama seperti istri nya, pria itu memeluk istri nya dengan erat seakan takut kehilangan.

__ADS_1


Malam berganti pagi, rasa nya enggan sekali untuk membuka mata. Kehangatan pagi ini membuat Jova dan Arzan betah berlama-lama berada di dalam satu selimut yang sama. Arzan terbangun lebih dulu, pergi mandi dan membiarkan istri nya tidur sedikit lebih lama.


"Bangun,...!" Arzan membangunkan istri nya sambil memainkan anak rambut yang menutupi wajah nya. "Bee,...bangun bee...." sekali lagi Arzan membangunkan istrinya.


Jova menggeliat, membuka mata sambil menggosok nya. Sungguh, pemandangan pagi ini sangat indah. Sebuah ciptaan Tuhan yang berbentuk manusia yang memiliki garis wajah yang sangat sempurna.


"Sudah mandi?" tanya Jova dengan suara serak khas bangun tidur.


"Bangun lah, mandi lalu sarapan setelah itu kita pulang." ujar Arzan membuat istri nya bergegas pergi mandi.


Selesai mandi dan sudah tapi, Jova menghampiri suami nya yang sudah duduk mengahdap sarapan. "Kenapa cuma sepiring? apa kau sudah makan?" tanya Jova bingung.


"Duduklah, kita makan bersama-sama." kata Arzan membuat istri nya semakin bingung.


"Kita makan satu piring berdua kah?" tanya Jova.


"Ya,...aku akan menyuapi mu." sahut Arzan.


"Kau ini memang tidak ada romantis-romantis nya!" celetuk Arzan.


Gadis ini mengerucutkan bibir nya, "Bercanda saja tidak boleh. Cepat tua nanti...!" kata Jova geram.


"Cepat makan, aaaaaa....." ujar Arzan.


Sarapan selesai, mereka pulang. Sepanjang perjalanan yang melelahkan untuk kembali ke mansion. "Besok kau sudah mulai kuliah lagi. Teman-teman sudah kembali." kata Arzan membuat Jova menghembuskan nafas kasar nya.


"Aku sangat malas untuk kuliah." ujar gadis itu.

__ADS_1


"Kenapa? apa karena ada saudara tiri mu?" tanya Arzan.


"Entahlah,...inti nya aku malas."


"Hanya beberapa bulan lagi. Bersabarlah sebentar saja." Arzan memberi semangat.


"Enak sekali kalau ngomong!" seru Jova.


Tiba-tiba, dua mobil dengan sengaja menghadang mobil Arzan. Jova mulai panik, gadis itu ketakutan. "Siapa mereka?" tanya Jova panik.


"Aku tidak tahu,...jangan panik dan jangan khawatir. Aku akan keluar." kata Arzan menenangkan.


Jova langsung menarik tangan suami nya, "Jangan bee,...jangan keluar nanti kau kenapa-kenapa." ujar gadis itu.


"Tenanglah, aku bisa mengatasi ini." kata Arzan kemudian pria itu secara terangan mengambil senjata api yang sengaja ia sembunyikan di mobil nya.


"K-kau,...kau membawa pistol?" tanya Jova takut.


"Hanya untuk jaga-jaga bee,...tenang lah. Jika kau takut, menunduklah. Aku akan baik-baik saja." kata Arzan kemudian pria itu keluar dari dalam mobil.


Gadis itu benar-benar ketakutan hingga membuat diri nya langsung menunduk. Sedangkan Arzan dengan santai nya menghadapi sepuluh orang anak buah Alex yang sengaja menghadang nya sejak tadi.


"Mau apa kalian?" tanya Arzan dengan suara dingin nya.


"Kau harus mati...." kata salah seorang dari mereka.


Arzan tertawa, tawa pria itu sangat mengerikan. "Katakan pada Alex untuk tidak bermimpi terlalu tinggi ingin membunuh ku."

__ADS_1


"Cuiiih....jangan sombong kau. Jika kau ingin selamat, maka serahkan pada kami gadis yang kau bawa itu. Dan aku akan memohon pada Alex untuk membebaskan mu kali ini." ujar pria itu membuat Arzan mengepalkan ke dua tangan nya emosi.


"Jaga bicara mu...brengsek!" umpat Arzan langsung menyerang orang tersebut. Perkelahian pun terjadi, sepuluh lawan satu namun tidak membuat nyali Arzan ciut. Sedangkan Jova yang mendengar perkelahian tersebut hanya bisa berdoa agar suami nya baik-baik saja. Tak butuh waktu lama, sepuluh orang tersebut tumbang. Tidak lupa Arzan menghadiahi mereka dengan satu tembakan di kaki masing-masing.


__ADS_2