
"Kenapa kau mengajak ku bertemu?" tanya Melvin dengan tatapan tajam nya.
"Aku sengaja mengajak mu bertemu karena aku ingin bekerjasama dengan mu." ujar Mika lalu menyilang kan ke dua kaki nya.
"Bekerja sama dalam bisnis apa?" tanya Melvin membuat Mika langsung tertawa.
"Kau lihat wajah ku, apa aku memiliki tampang seorang pebisnis?" tanya Mika membuat wajah Melvin semakin dingin.
"Cepat katakan tujuan mu karena aku tidak memiliki banyak waktu!" kata Melvin dengan suara datar.
"Baiklah, langsung saja ya, aku ingin bekerjasama dengan mu untuk menghancurkan rumah tangga Arzan." ujar Mika mulai mengatakan niat nya.
Melvin langsung menatap tajam ke arah Mika, laki-laki yang dia kenal culun kini nampak berbeda sekarang. "Sebenarnya, apa kau belum puas merebut semua kebahagiaan Jova?" tanya Melvin merasa heran dengan Mika.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? bukan kah kau sangat menyukai Jova?" tanya Mika balik.
"Tau apa kau soal perasaan ku? kau dengar baik-baik dengan dua telinga mu itu, aku tidak pernah berkhianat dengan Arzan. Selama ini aku hanya menganggap Jova teman baik ku karena dia adalah satu-satunya orang yang mau berteman dengan ku." ucap Melvin dengan tegas.
"Tapi Mel, jika kau mencintai Jova kau bisa merebut nya dari Arzan!" Mika mulai menghasut Melvin.
Tiba-tiba, Melvin bangkit dari duduk nya, pria itu kemudian meraih segelas jus yang belum di minum nya sama sekali. Sejenak Melvin menatap Mika, kemudian pria itu menyiram wajah Mika dengan jus yang ada di tangan nya.
Mika menjerit, gadis ini langsung berdiri, "Kenapa kau menyiram ku?" tanya Mika.
"Sudah ku bilang pada mu, aku tidak akan berkhianat dari Arzan. Mereka orang baik, jadi jangan sekali-kali datang untuk menghasut ku lagi." kata Melvin dengan tegas kemudian pria itu pergi.
Mika hanya bisa mengusap wajah nya yang basah menggunakan tisu, gadis ini menjadi bahan tontonan pengunjung cafe yang lain nya. Mika yang merasa malu kemudian memutuskan untuk pulang.
"Apa......?" suara Rose melengking di sudut ruangan. "Apa hebat nya anak sialan itu sampai Melvin itu membela nya?" tanya Rose dengan nada tinggi.
"Bagaimana bu, apa yang harus kita lakukan sekarang. Bu, aku sudah lama tidak berbelanja." rengek gadis itu membuat kepala Rose pusing.
Rose memijat kepala nya yang tak sakit, bayangan hidup mewah terus menari-nari dalam kepala nya.
__ADS_1
Di perusahan, Anna merasa senang karena berkat bantuan teman ayah nya Anna bisa bekerja di perusahaan milik Arzan. Anna celingukan mencari Arzan namun wanita ini tidak menemukan nya sejak pagi.
"Aku ingin bertanya, apa Arzan ada datang ke kantor hari ini?" tanya Anna pada resepsionis.
"Bos jarang masuk ke kantor karena lebih mementingkan istri nya yang sedang hamil." jawab resepsionis.
Hati Anna langsung panas mendengar nya, "Kalau boleh tahu, di mana alamat rumah Arzan?" tanya Anna.
"Kau ini karyawan baru tapi sudah ingin tahu urusan pribadi bos. APa kau mau aku laporkan?" ancam resepsionis yang tidak menyukai Anna seolah-olah diri nya sangat dekat dengan Arzan.
"Apa kau tidak tahu jika aku ini teman dekat Arzan? kami bahkan pernah berpacaran!" ujar Anna membuat resepsionis itu tertawa. "Kenapa kau tertawa?" tanya Anna kesal.
"Apa kau tahu, sebelum kau juga ada yang seperti mu ini. Tapi mereka langsung di pecat." ujar resepsionis sambil tertawa.
Anna yang kesal langsung pergi karena beberapa orang karyawan sedang mentertawakan nya.
"Apa yang kalian tertawa kan?" tanya Aarav yang baru saja datang.
"Itu pak, ada karyawan baru yang ingin tahu tentang bos kita. Bahkan dia bertanya alamat rumah bos." ujar resepsionis.
"Seperti nya baru masuk pak. Bagian keuangan pak." jawab nya.
Aarav yang penasaran langsung pergi ke ruangan bagian keuangan karena laki-laki ini penasaran siapa yang sudah ingin tahu mengenai Arzan. Aarav hanya takut jika ada musuh yang mengirim mata-mata kedalam perusahan.
"Anna...." ucap Aarav pelan kemudian lali-laki itu tidak jadi untuk masuk. "Ngapain dia bekerja di kantor Arzan? Emmm, aku yakin jika dia ingin merebut Arzan dari Jova." batin Aarav menebak.
Pada akhirnya, Aarav pergi ke mansion untuk memberitahu Arzan dan Jova. Jova yang sedang minum susu langsung tersembur keluar ketika Aarav memberitahu jika Anna bekerja di kantor suami nya.
"Jika kau ingin memecatnya, kau berhak bee. Lagian, jenis-jenis seperti Anna itu sudah bisa di tebak." ujar Arzan.
"Tapi dia mantan mu bee." kata Jova.
"Masa lalu tetap lah masa lalu, mereka tidak akan pernah berada di masa depan." sahut Arzan begitu santai nya.
__ADS_1
"Yang aku tahu, kepala HRD itu berteman baik dengan tuan Farhan, pasti dia sudah memasukan Anna di perusahaan itu." kata Aarav begitu yakin.
"Dari mana kau tahu?" tanya Arzan.
"Beberapa kali aku pernah satu acara sama mereka. Tuan Farhan dan kepala HRD sangat akrab." jawab Aarav.
"Kalau begitu, aku akan ikut ke kantor besok." ujar Jova.
"Jangan bee, kau harus banyak beristirahat." kat Arzan.
"Bilang saja mau nostalgia sama mantan. Gitu aja repot!" seru Jova kemudian pergi meninggalkan Arzan dan Aarav.
"Mati lah kau, sudah tahu kalau ibu hamil itu sensitif masih saja suka membuat Jova kesal." ujar Aarav. "Aku tidak mau tanggung jawab, aku pulang dulu!" Aarav memilih pulang dari pada diri nya ikut dalam masalah rumah tangga Arzan dan Jova.
Arzan menyusul istri nya ke kamar, ketika pria ini hendak menyentuh istri nya, Jova langsung menepis tangan suami nya.
"Bee, aku minta maaf. Aku tidak ingin kau kelelahan harus ikut aku bekerja." ucap Arzan membujuk istri nya namun Jova masih setia dengan diam nya. Arzan menarik nafas panjang, lalu berkata dengan pasrah. "Kau boleh ikut ke kantor. Aku tidak ada niatan untuk menduakan mu bee, Anna hanya masa lalu ku."
Tetap saja Jova masih diam sambil membolak balik buku bacaan nya. "Bee, jangan diam seperti ini. Aku bisa gila bee!" kata Arzan merengek.
"Minta maaf dulu!" ujar Jova.
"Kan tadi sudah minta maaf." kata Arzan.
"Kapan, mana ada. Aku tidak dengar, ulangi...!" perintah Jova.
Lagi-lagi Arzan hanya bisa menarik nafas panjang nya, pria ini geram sekali ingin menarik kuping istri nya namun Arzan masih bisa sabar mengingat istri nya sedang hamil.
"Bee, cinta ku, istri ku, bunga hati dan belahan jiwa ku, aku minta maaf ya." ucap Arzan meraih tangan istri nya.
"Aku akan memaafkan mu jika kau mau menuruti satu permintaan ku bee." ujar Jova langsung membuat Arzan was-was karena selama ini permintaan Jova sangat mengerikan.
"Katakan lah bee, aku akan menuruti semua permintaan mu." ujar Arzan.
__ADS_1
Jova kemudian mengambil buah apel lalu meletakan nya di atas kepala suami nya kemudian berkata. "Ayo pergi ruang tembak, aku ingin menembak apel yang ada di atas kepala mu."
Mata Arzan langsung melebar, pria ini juga menelan ludah nya kasar. Tebakan Aran tidak meleset, permintaan Jova pasti akan membuat nya bisa berhenti bernafas.