
Mobil melaju membelah jalanan yang cukup mengguncang isi perut. Jova meminta Arzan untuk membuka atap mobil nya, gadis itu sangat menikmati hembusan angin dengan hamparan padang rumput yang luas. Gadis ini cukup pintar untuk mencari tempat yang indah seperti ini. Ternyata, bukit-bukit itu menghadap langsung ke hamparan laut luas yang mereka datangi tadi.
"Cepat turun...." kata gadis itu tidak sabaran.
"Apa kau sering pergi ke tempat ini?" tanya Arzan cukup penasaran.
"Tidak juga, aku hanya beberapa kali pergi ke tempat ini. Bagaimana, apa tempat nya bagus?"
"Lumayan lah, aku tidak tahu jika negara kita memiliki tempat seindah ini." ujar Arzan.
Mereka duduk di atas aspal menghadap lautan, matahari mulai condcng kebarat. Warna jingga keemasan menambah indah petang ini. "Va,...apa rencana mu selanjutnya?" tanya Arzan sembarang.
"Rencana apa yang kau maksud?" tanya gadis itu.
"Satu atau dua tahun yang akan datang!" Arzan memperjelas.
"Aku tidak tahu!" seru Jova membuat ke dua alis Arzan mengkerut.
"Kau ini manusia atau apa sih? kenapa tidak merencanakan masa depan mu dari sekarang?" tanya Arzan membuat senyum gadis itu memudar.
Jova menoleh ke arah suami nya, gadis itu menapat lekat ke dua mata elang milik Arzan. "Bagaimana bisa aku merencanakan masa depan ku jika di masa muda ku sudah menikah seperti ini? tidak masalah jika sudah menikah, lalu bagaimana dengan keadaan pernikahan ini yang membuat ku bingung ingin mengambil jalan yang mana." tutur gadis itu membuat Arzan terdiam. Mata mereka saling menatap, bicara lewat mata tanpa mendapatkan jawaban. "Aku bertanya pada mu, apa kau ingin seumur hidup mu menikah dan hidup dengan orang yang tidak kau cintai?" tanya gadis itu serius.
Untuk pertama kali nya, Arzan tidak menemukan wajah gurauan istrinya. "Lalu bagaimana dengan mu?" tanya balik Arzan.
"Kau laki-laki, kau yang harus memutuskan nya terlebih dahulu." kata Jova dengan tegas nya.
__ADS_1
Masing-masing dari mereka terdiam, hanya ada bunyi hembusan angin yang berteriak meminta jawaban. Matahari nyaris menghilang, namun jingga nya masih jelas terlihat. "Aku tidak ingin bermain-main soal pernikahan!" tiba-tiba Rasa mengatakan hal yang membuat Jova melebarkan mata nya. Gadis itu membuang pandangan, gugup tak dapat bicara.
"Ayo pulang, sudah hampir gelap!" ajak Jova bangkit dari duduk nya.
"Apa kau ingin makan malam di luar?" tanya Arzan mencairkan suasana nya.
"Aku rindu masakan pelayan mu!" gumam Jova membuat Arzan tertawa.
Perjalanan pulang cukup jauh, jalanan gelap juga sepi membuat Jova merasa sangat bosan. Ketika memasuki kawasan hutan pinus, tiba-tiba sebuah peluru menghantam kaca spion. Jova tersentak kaget, wajah gadis itu langsung memucat.
Doooor....
Arzan langsung menghentikan mobil nya, menarik Jova kedalam pelukan nya. "Arzan,...aku takut....aku takut...!" gadis itu berkata dengan suara bergetar.
Dengan cepat, Jova memakai baju anti peluru itu, gadis itu membukukan tubuh nya. Arzan keluar dari dalam mobil, pria itu mengeluarkan senjata api yang sengaja dia simpan di belakang mobil. Mata Arzan liar, mencari penembak yang sedang bersembunyi, jika di lihat penembak itu bersembunyi di hutan sebelah kiri.
Sekali lagi, penembak itu menembak mobil Arzan hingga membuat Jova semakin panik dan memucat. Arzan, dengan segala kelebihan nya mampu mencium di mana posisi musuh sekarang. Pria itu tanpa ragu menemebak ke arah hutan sebelah kiri sebanyak dua kali, terdengar suara jeritan seorang pria, membuat Arzan langsung menghampiri nya.
Arzan tersenyum puas, karena musuh sudah tewas. "Alex,...kau sengaja menyelinapkan anak buah mu!" ujar Arzan geram. Pria itu teringat istri nya, bergegas Arzan kembali ke mobil.
"Jovata,...!" pria itu memanggil nama istri nya yang ternyata sudah tidak sadarkan diri sekarang.
Arzan membuang nafas kasar, pria itu kemudian melajukan kembali mobil nya menuju mansion. Selang beberapa menit, Arzan keluar dari mobil dan langsung mengumpulkan anak buah nya.
"Ada mayat musuh di hutan sebelah kiri. Aku sudah memberi tanda. Bersihkan!" perintah Arzan langsung semua anak buah nya bergerak.
__ADS_1
Pria itu kemudian membuka pintu mobil, menggendong Jova yang masih belum sadar. Semua pelayan langsung berbaris rapi, mereka tahu jika sekarang ada musuh yang sedang mengganggu.
"Paman, siapkan makan malam. Istri ku pingsan!" perintah Arzan langsung di kerjakan oleh semua pelayan.
Pria itu membaringkan istri nya di atas tempat tidur, ketika Arzan hendak menarik tangan nya, Jova kembali menarik tangan suami nya. "Aku takut,...teman aku...!" pinta gadis itu masih dengan suara bergetar nya. Bukan kali pertama Jova mendengar suara tembakan, namun malam ini yang terbanyak yang ia dengar.
"Tidak, aku tidak akan pergi kemana-mana." ujar pria itu sambil mengusap lembut kepala istri nya. "Jangan takut, ada aku!" ucap nya kembali.
"Aku lapar." ujar gadis itu seakan membuat lelucun.
"Paman sedang menyiapkan makan malam mu. " sahut Arzan. Gadis itu masih memeluk erat tangan suami nya. Wajah nya masih pucat bahkan deru nafas nya masih tidak beraturan.
Ketika makan malam di antar ke kamar, Arzan menyuapi istri nya karena Jova tidak bisa makan sendiri. Tangan gadis itu lemas, bahkan masih bergetar. Arzan merasa bersalah melihat istri nya sekarang.
"Sudah habis, sebaik kau istirahat." ujar Arzan.
"Tidak,...aku tidak ingin tidur sendiri. Bagaimana jika ada yang menembak ku lagi? tidak, aku tidak mau. Umur ku masih muda, aku belum mau mati, aku belum pernah merasakan kebahagiaan bersama orang yang ku sayangi. Aku tidak mau mati." kata gadis itu membuat Arzan semakin merasa bersalah. Jova menarik tangan suami nya, gadis itu seperti anak kecil sekarang. Arzan duduk di tepi tempat tidur, Jova masih memeluk tangan pria itu.
"Tidur lah, aku ada di sini." kata Arzan lembut.
"Janji jangan pergi. Janji, jangan tinggalkan aku sendiri." pinta gadis itu dengan nada memohon.
"Hmmm...tidur lah." ujar Arzan. "Aku janji tidak akan meninggalkan mu. Aku janji akan membahagiakan mu. Aku janji akan selalu ada untuk mu." batin Arzan mengatakan dengan ketulusan.
Tak butuh waktu lama, gadis itu sudah terlelap, namun tangan nya masih erat menggenggam lengan suami nya. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, duduk berdiam sendiri membuat Arzan mengantuk. Pria itu, pada akhirnya naik ke atas tempat tidur istri nya. Lebih mengejutkan untuk Arzan, tiba-tiba wajah nya dan wajah istri nya saling berhadapan tanpa jarak. Arzan dapat merasakan hembusan nafas hangat istri nya. Jova kembali meraba, mencari lengan suami nya. Arzan dengan cepat mengulurkan tangan lalu di peluk oleh istri nya. Arzan tersenyum, tanpa sadar pria itu memainkan anak rambut yang menutupi wajah istri nya. Hingga pada akhirnya, Arzan ikut terlelap begitu saja.
__ADS_1