Menikah Dengan Mafia

Menikah Dengan Mafia
51.Mau Apa Kau?


__ADS_3

"Bee,...maafkan aku. Bukan maksud ku membentak mu seperti ini." kata Arzan hendak meraih tangan istrinya namun langsung di tepis oleh Jova.


"Mundur,....!" ujar Jova namun Arzan malah maju "Mundur ku bilang....!" Jova meninggikan suara nya.


"Aku minta maaf bee, aku hanya khawatir pada mu dan anak kita." ujar Arzan menenangkan istri nya.


"Kau membentak ku!" gumam gadis itu dengan isak tangis nya. Biasa nya Jova tidak akan takut jika di bentak oleh Arzan, gadis ini akan melawan bahkan mengeluarkan kata-kata aneh nya untuk Arzan. Namun kali ini berbeda, Arzan membentak nya dengan ekspresi wajah yang mengerikan.


"Iya aku minta maaf bee, aku salah bee. Aku minta maaf." bujuk Arzan lalu perlahan meraih tangan istrinya kemudian memeluk nya. "Jangan membuat ku khawatir lagi bee, kau sedang mengandung anak kita sekarang." ucap Arzan merasa lega ketika istri nya berada di dalam pelukan nya.


"Aku lapar....!" ujar Jova yang mengalihkan perkataan suami nya.


"Maafkan aku bee, maaf untuk kejadian hari ini. Ayo kita makan sayang." ajak Arzan lalu mereka pergi ke ruang makan bersama-sama.


Dengan penuh kasih, Arzan menyuapi istri nya makan. Namun, ketika baru lima suapan Jova memuntahkan makanan yang baru saja dia makan hingga membuat Arzan panik dan khawatir. Tidak hanya Arzan, para pelayan dan koki langsung tegang karena takut jika makanan nya tidak enak bisa-bisa mereka semua di panggang oleh Arzan.


"Aku mual...!" lirih Jova. "Aku mau ke kamar saja!" ujar gadis itu.


Sebelum menyusul istrinya, Arzan meminta pada kepala pelayan untuk mengikuti nya ke kamar.


"Bee, kau ingin makan apa katakan pada ku?" tanya Arzan.


"Aku tidak suka bau dapur dan bau ruang makan." keluh Jova membuat kepala pelayan bingung karena diri nya belum tahu jika majikan nya ini sedang hamil.


"Nona ingin makan apa?" tanya kepala pelayan membuka suara.


"Aku ingin makan biskuit ibu hamil bee. Jus alpukat di campur madu juga buah peer." pinta Jova.


"Paman, tolong bawakan semua nya ke kamar!" perintah Arzan.


"Maaf tuan, nona meminta biskut ibu hamil. Apa tidak salah?" tanya Kepala pelayan.


"Tidak salah, karena istri ku sedang hamil." jawab Arzan dengan bangga nya, tentu saja bangga karena Arzan telah membuktikan jika sekarang dia adalah laki-laki yang handal dalam segala nya.


Kepala pelayan terkejut, pria itu langsung memberi ucapan selamat kepada Arzan dan Jova. Bergegas diri nya pergi ke dapur, meminta salah seorang untuk pergi mencari biskuit ibu hamil. Kabar tentang kehamilan Jova sudah tersebar seluruh mansion. Anak buah Arzan yang belum tahu merasa senang karena sebentar lagi mereka akan kehadiran bos baru.


Sambil menunggu pesanan nya, Jova hanya sibuk berbaring. Arzan dengan setia menemani istri nya sambil mengusap perut sang istri.

__ADS_1


"Kapan dia akan lahir bee?" tanya Arzan penasaran.


"Sembilan bulan lagi bee. Dia baru berumur beberapa minggu." jawab Jova.


"Aku tidak sabar menunggu dia lahir bee. Dia laki-laki atau perempuan ya?" tanya Arzan penasaran.


"Bisakah jangan banyak bertanya? kepala ku pusing!" ujar Jova kesal.


Arzan terdiam, mengalah dengan istri nya, tak berapa lama pesanan Jova akhir di antar ke kamar. Gadis itu mulai melahap biskuit ibu hamil, Arzan merasa lega ketika melihat istri senang.


"Kau belum makan nasi sejak pagi bee, kau ingin makan apa?" tanya Arzan.


"Ingin memakan mu!" canda Jova membuat kepala pelayan langsung menunduk. Arzan melirik ke arah kepala pelayan, hanya bergeleng kepala.


"Aku serius bee!" seru Arzan.


"Aku ingin makan ikan bakar yang di tangkap langsung dari sungai." ujar Jova membuat mata Arzan langsung terbelalak mendengarnya.


"Kau ini, suka sekali bercanda!" sahut Arzan yang menganggap permintaan istri nya sebuah candaan.


"Aku serius!" seru Jova "Paman, bisakan kau mencarikan nya?"


"Kemana kita akan mencari ikan itu paman?" tanya Arzan bingung.


"Kemana pun yang ada sungai tuan. Nona Jova sedang hamil jadi wajib tuan mengabulkan semua permintaan nya." ujar Kepala pelayan.


"Jika tidak?" tanya Arzan penasaran.


"Jika tidak, anak tuan akan lahir dengan air liur yang terus menetes." kepala pelayan malah menakuti Arzan.


"Berani berbohong ku penggal kepala mu!" kata Arzan kesal.


"Saya tidak bohong tuan. Tuan tahu sendiri saya punya lima anak...!" sahut nya dengan mengakat lima jari.


"Ternyata, kau ganas juga di tempat tidur!" kata Arzan membuat kepala pelayan merasa malu. "Kalau begitu, cepat perintah anak buah ku untuk menangkap ikan. Jangan buat istri ku menunggu terlalu lama kalau tidak akan ku cabut kuku kaki mereka satu persatu." ancam Arzan bergegas kepala pelayan mengeluarkan perintah.


Arzan tidak kembali ke kamar, karena ada Aarav yang baru saja datang. Pria itu memberi kabar, jika tuan Lucas ingin bertemu dengan nya.

__ADS_1


"Punya nyali juga mereka mengajak ku untuk bertemu!" ucap Arzan dengan sorot mata tajam.


"Apa kau ingin menemui nya?" tanya Aarav merasa khawatir.


"Kenapa tidak? dia akan melihat bayangan Daddy yang ada pada ku!" ujar Arzan.


"Aku hanya takut ini semua hanya siasat mereka saja. Secara Alex memiliki dendam besar pada mu." Aarav khawatir.


"Kenapa kau jadi khawatir seperti ini, apa kau takut?" tanya Arzan pada Aarav.


"Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa Zan, Jova sedang hamil. Ingat itu....!" ujar Aarav mengingatkan.


"Istri dan anak ku adalah sumber kekuatan untuk ku. Aku tidak akan mati di tangan orang yang sudah merenggut keluarga ku!" kata Arzan dengan mengepalkan ke dua tangan nya.


"Kalau begitu, jangan beritahu Jova jika kau ingin pergi menemui tuan Lucas, dia pasti akan mengkhawatirkan mu." Aarav mengingatkan.


"Perketat penjagaan mansion, jangan biarkan musuh menyentuh tempat ini apa lagi menyentuh istri dan calon anak ku." perintah Arzan lalu pria itu kembali ke kamar.


Arzan mendapati istrinya sedang tidur, pria ini merasa bersalah karena diri nya tidak sempat meminta obat atau vitamin untuk istri nya saat di rumah sakit tadi.


Arzan keluar kamar lagi, menemui Aarav yang sedang latihan bersama anak buah nya. "Besok aku akan mengantar Jova kerumah sakit lagi. Siapkan anak buah untuk mengawal." perintah Arzan.


"Baiklah, aku akan memilih yang terbaik untuk mengawal Jova. Secara, aku juga tidak sabar ingin melihat kelahiran keponakan ku itu." ujar Aarav. "Aku menyandera salah satu dari mereka tadi. Ingin kau apa kan?" tanya Aarav.


"Di mana dia?" tanya Arzan yang tangan nya sudah gatal.


"Di ruang eksekusi." jawab Aarav.


ke dua pria itu pergi ke ruang eksekusi, melihat seorang pria yang sedang tergeletak tak berdaya. Ketika Arzan hendak mencabut kuku pria itu langsung di halangi salah satu anak buah nya.


"Mau apa kau? minggir...!" bentak Arzan marah.


"Nona Jova sedang mengandung tuan, jangan melakukan hal mengerikan ini. Biar kami saja!" ujar nya lalu mengambil alih tang yang ada di tangan Arzan.


"Dia benar, biarkan mereka saja." ujar Aarav.


"Tapi dia kaum nya sudah membuat istri ku kacau hari ini." kata Arzan merampas balik tang tersebut.

__ADS_1


"Jangan membuat anak mu menjadi kejam seperti mu. Biar mereka saja!" sekali lagi Aarav menasehati.


Arzan membuang nafas kasar, menyerahkan kembali tang itu pada anak buah nya. "Kirim mayat nya pada Alex!" perintah Arzan kemudian pria itu pergi.


__ADS_2