
"Tutupi wajah mu. Aku tidak ingin dia melihat siapa kita sebenarnya." perintah Arzan pada Aarav.
"Ya,...ya...aku tahu kau ingin melindungi istri mu." kata Aarav tertawa.
"Lihatlah,...!" tunjuk Arzan "Mereka bahkan membawa kontainer." ujar Arzan.
"Kau perlu menyelidiki latar belakang nya. Aku takut jika dia sebenarnya sudah mengetahui hubungan mu dengan Jova."
"Itu tugas mu. Kau ku gaji besar untuk apa?" tanya Arzan membuat Aarav kesal.
Arzan kemudian memberi perintah untuk menembak ban kontainer yang memuat barang haram tersebut. Semua orang yang melakukan transaksi mulai gaduh dan saling adu tembak. Setelah anak buah Arzan bisa melumpuhkan semua orang yang melakukan transaksi, pria itu kemudian keluar.
"Di mana dia....?" tanya Arzan yang kehilangan seseorang.
"Siapa?" tanya Aarav bingung.
"Bos mereka?" ujar Arzan kesal. "Brengsek...! dia kabur...!"
Tak berapa lama polisi datang namun Arzan tetap berada di tempat. Para pelaku transaksi kemudian di tangkap.
"Maafkan aku, bos mereka berhasil kabur." kata Arzan pada kepala kepolisian.
"Tidak masalah, kita bisa menangkap nya lain waktu. Terimakasih sudah membantu kami menggagalkan transaksi ini." ucap kepala kepolisian tersebut.
Ya, meski pun Arzan seorang mafia, namun pria itu adalah mafia baik-baik. Mafia yang sengaja membantu pihak kepolisian untuk menumpas kejahatan yang berskala besar contoh nya seperti malam ini. Kini tinggallah Arzan dan Aarav dengan beberapa anak buah nya.
__ADS_1
"Sebenarnya, aku bisa menangkap nya dengan mudah. Tapi, aku ingin menunjukkan siapa dia sebenarnya kepada Jova." ujar Arzan.
"Sudahlah, mungkin belum saat nya di tertangkap." kata Aarav.
Arzan dan Aarav kemudian pergi, mereka kembali ke apartemen untuk sekedar membersihkan diri. Berita malam ini langsung muncul di semua stasiun televisi dan jagat maya. Arzan tersenyum puas meski pun dia tidak bisa menangkap seseorang yang sudah di incar nya itu.
"Apa kau ingin kembali ke Villa?" tanya Aarav.
"Ya,...kasihan Jova sudah ku tinggal sejak siang." kata Arzan.
Setelah itu barulah Arzan pergi ke Villa menyusul istri nya. Perjalanan cukup jauh, namun Arzan sudah biasa akan hal itu. Pria itu tiba di Villa pukul dua malam. Arzan langsung masuk ke dalam kamar,mendapati istri nya tertidur sangat nyenyak. Pria itu, mengusap pucuk kepala istri nya.
Jova yang merasa jika ada seseorang yang mengusap kepala nya langsung bangun. "Arzan....!" lirih nya mengejutkan lelaki itu. "Kau baru pulang?" tanya nya kemudian mengubah posisi nya menjadi duduk.
"Ya,...aku baru saja pulang. Maaf sudah mengganggu tidur mu." kata lelaki itu kemudian naik ke atas tempat tidur.
"Aku lelah,biarkan aku tidur di sini. Sekarang tidurlah,...!" seru Arzan kemudian menarik Jova kedalam pelukan nya.
"Arzan lepaskan...." berontak gadis itu. "Tidurlah, biarkan aku memeluk mu." bisik Arzan di telinga istri nya kemudian pria itu memejamkan mata. Jova yang semula menggerutu pada akhirnya terlelap juga di dalam pelukan suami nya. Sungguh hangat malam ini, Arzan yang belum tidur kembali membuka mata mengecup pucuk kepala istri nya. "Mimpi indah istri ku...!" ucap pelan pria itu.
Malam seakan singkat, pukul delapan pagi Jova mulai mengerjapkan mata nya. Pemandangan pagi ini sangat indah, sebuah ciptaan Tuhan dengan ukiran wajah yang sangat sempurna. Tanpa sadar, Jova mengusap lembut pipi suami nya. Bibir tipis itu tiba-tiba tersenyum tipis, rasa nya hangat sekali hati Jova pagi ini.
"Kenapa? apa kau mulai jatuh cinta pada suami mu ini?" tanya Arzan tiba-tiba tanpa membuka mata nya.
Jova yang terkejut langsung salah tingkah kemudian hendak turun dari atas tempat tidur namun dengan cepat Arzan menarik Jova kedalam pelukan nya lagi. Hembusan nafas saling beradu, ke dua mata mereka juga saling pandang. Deru jantung berpacu sangat kencang. "Jika aku bilang aku telah jatuh cinta pada mu bagaimana?" tanya Arzan dengan serius.
__ADS_1
Jova terperangah, gadis itu mencoba berontak namun tenaga nya kalah kuat. Arzan malah membalikkan posisi tubuh mereka dengan posisi Arzan yang lagi-lagi ada di atas Jova. "Masih pagi, jangan bercanda." ujar gadis itu.
"Aku serius Jovata Lateshia." suara tegas itu membuat hati Jova berkecamuk.
"A-aku,...aku mau ke kamar mandi." kata gadis itu gugup.
"Jawab aku dulu, bagaimana jika aku telah jatuh cinta pada mu?" sekali lagi Arzan bertanya hal yang sama.
"Kita bahas nanti, aku lapar...!" gadis itu mencoba mencari alasan.
Arzan memutar bola mata nya malas, pria itu kemudian menurunkan wajah nya dan semakin mendekat ke wajah istri nya. "Mau apa kau?" tanya Jova mulai panik namun pria itu tidak menjawab. Lagi-lagi, Arzan mencium bibir Jova tanpa izin. Membungkam mulut yang banyak alasan itu. Sungguh, Jova di buat mati kutu oleh lelaki itu. Bibir Arzan ******* lembut meski istri nya belum bisa membalas ciuman nya. Cukup lama Arzan memagut bibir istri nya, pada akhirnya Jova yang mulai nyaman membalas ciuman suami nya. Mata Arzan melebar, pria itu semakin memeluk erat tubuh istri nya. Mereka saling berciuman pagi ini, sungguh bahagia hati Arzan ketika Jova membalas ciuman yang ketiga nya ini.
Arzan, melepas ciuman mereka. Memandang lekat wajah yang sudah merona merah itu. Jari kekar nya, menyingkirkan anak rambut yang menutup wajah istri nya. "Mandilah, setelah itu kita sarapan." ujar Arzan kemudian pria itu turun dari atas tubuh istri nya.
Jova mengigit bibir nya, mengusap pipi yang merah sambil berkaca di kamar mandi. "Astaga Jovata,....kau mesum...kau mesum Jova..." gadis itu menggerutuki diri nya sendiri.
Di meja makan, gadis itu makan dengan wajah menunduk, rasa nya malu sekali untuk melihat wajah suami nya. Arzan hanya bisa menahan tawa nya, pria itu juga tidak mengungkit masalah ciuman mereka.
"Dekat sini ada tempat wisata yang berkelas. Hanya kaum sultan yang bisa masuk. Apa kau mau pergi ke sana?" tanya Arzan.
"Benarkah? jadi, orang miskin seperti ku ini tidak bisa masuk ya?" seloroh gadis itu.
"Jangan berkata jika kau miskin. Aku tidak suka! kartu yang kau pegang saja bisa membeli tempat wisata itu." ujar Arzan dengan sombong nya. "Kau mau kuliah atau tidak pun, aku sebagai suami mu masih sanggup memberi makan seumur hidup mu."
"Kau ini sombong sekali...! dasar tukang pamer!" cibir Jova.
__ADS_1
"Pamer lah agar kau bahagia dan biarkan orang yang membenci mu semakin kebakaran jenggot." ujar Arzan membuat istri nya tertawa terbahak-bahak. Arzan juga ikut tertawa, rasa nya sangat senang jika dia bisa melihat Jova bisa tertawa lepas tanpa beban seperti ini.