
Ketika Arzan melihat wajah istri nya yang pucat, mau tidak mau pria tersebut memenuhi keinginan anak nya. Arzan hanya ingin tahu siapa yang sudah membuat istri nya terbaring lemah seperti ini.
"Ai, daddy setuju!" ucap Arzan.
"Em, ok!" seru gadis itu, "Aku yakin daddy pasti tahu tentang orang ini." ujar Aileen membuat Arzan mulai menebak-nebak.
"Apakah Melvin yang melakukan nya, atau anak perempuan Clovis, atau adik perempuan Alex?" batin Arzan penuh tanya karena selama ini Arzan belum pernah melihat dua di antara tiga orang tersebut.
"Apa yang daddy pikirkan?" tanya Aileen, "Sedang menebak-nebak ya?"
"Kau ini, sama seperti mommy mu. Menyebalkan!" ucap Arzan gemas dengan anak nya sendiri.
Ternyata Aarav dan Aira juga datang ke rumah sakit. Aileen langsung mengangkat ke dua alis nya lalu memandang tiga orang dewasa yang ada di depan nya.
"Jangan mencoba membujuk Ai.Apa pun itu, semua sudah menjadi keputusan Aileen!" ucap gadis itu membuat semua orang terdiam.
"Dasar keras kepala!" ucap Arzan pelan.
"Lalu apa beda nya dengan kau?" tanya Aarav mengejek Arzan.
"Ai, apa yang kau lakukan ini sangat berbahaya. Aunty tidak mau kau kenapa-kenapa." ujar Aira menasehati Aileen.
"Em, aku tidak peduli." kata Aira, "Lihat mommy, mungkin mommy akan sadar jika aku sendiri yang menghabisi mereka!" ujar Aileen membuat Arzan bergeleng kepala.
__ADS_1
"Memang ya, buah jatuh tidak jauh dari pohon nya!" gumam Aarav langsung membuang nafas kasar.
"Ya kalau jatuh melewati pagar berarti Ai anak tetangga dong!" seru Aileen lalu terkekeh sendiri.
Gadis ini kemudian menghampiri mommy nya, tidak tertarik dengan pembicaraan orang dewasa yang ada di ruang depan.
"Dari mana Ai menemukan siapa dalang dari penembakan selama ini, apa dia ada memberitahu mu?" tanya Aarav.
Arzan bergeleng kepala lalu berkata, "Tidak, aku juga penasaran dari mana dia tahu tentang semua ini."
"Aileen adalah anak yang pintar, selama bertahun-tahun kau sudah melewatkan tumbuh perkembangan nya." ujar Aira membuat Arzan terdiam.
"Jika Jova sadar nanti, bersiaplah jika kepala mu akan di mangsa oleh istri mu. Aileen pasti akan mengadu semua tentang mu." kata Aarav menakuti Arzan.
Telinga Arzan langsung memerah, ingatan tentang Jova yang suka mengomel kembali terngiang-ngiang di kepala nya.
Tangan Aileen jauh lebih gesit dari daddy nya, mata gadis itu langsung menatap Arzan dengan sorot mata tajam.
"Daddy sudah tua, kecepatan daddy sudah berkurang!" ucap Aileen mengejek daddy nya.
"Berikan pada Daddy, itu berbahaya!" ujar Arzan.
"Jangan coba-coba mengingkari janji. Kalau tidak kita putar balik saja!" ancam Aileen.
__ADS_1
"Kau ini, menyebalkan!" kata Arzan kesal.
Aarav dan tiga orang anak buah yang ada di dalam mobil hanya bisa menahan tawa mereka. Melihat Aileen seperti ini mengingatkan mereka pada Jova dulu.
"Kau yakin ini jalan nya?" tanya Arzan pada anak nya.
"Em, mereka tinggal jauh dari pusat kota." ujar Aileen membuat Arzan bimbang pada anak nya sendiri, "Paman, di depan belok kiri. Sekitar dua kilo perjalanan kita akan menemukan sebuah rumah besar di pinggir pantai." kata Aileen memberitahu.
"Sejak kapan tempat sejauh ini ada yang tinggal?" tanya Arzan pada Aarav.
"Aku juga tidak tahu, sudah sangat lama kita tidak berkeliling." jawab Aarav juga heran.
"Tapi ini ada beberapa rumah, apa ada orang yang menempati nya?" tanya Arzan semakin bingung.
"Tentu saja ada, ini adalah perkampungan!" seru Aileen.
"Apa rumah ini yang nona maksud?" tanya sang supir karena hanya rumah itu paling besar dan terlihat mewah.
"Bagaimana cara nya kita masuk?" tanya Aileen sambil menatap pagar yang menjulang tinggi itu.
"Ai, coba jujur pada daddy, ini rumah siapa sebenarnya?" bujuk Arzan.
"Ai tidak tahu dia siapa sebenarnya, tapi dia adalah salah satu orang yang memiliki dendam terbesar pada Daddy." lirih Aileen berusaha menyembunyikan kesedihan nya.
__ADS_1
"Mundur, kita harus mengatur strategi dulu untuk masuk. Karena tidak mungkin kita datang sebagai tamu!" ujar Arzan lalu mobil mereka putar balik.
Sudah lama sekali rasa nya Arzan dan Aarav berdiskusi seperti ini. Sejak kejadian tentang Clovis mereka tidak pernah lagi melakukan hal seperti ini. Aileen mengikut saja, jantung nya berdegub kencang karena sudah tidak sabar untuk menyelesaikan masalah ini.