
Arzan benar-benar sudah murka, kebodohan nya selama ini membuat laki-laki ini kehilangan akal untuk berpikir mencari jalan keluar atas permasalahan nya ini.
Dengan membawa semua anak buah nya, Arzan datang menuntut balas untuk semua yang sudah dia lewati terutama Jova. Gedung tersebut pun sudah di kelilingi anak buah Arzan.
Kini Arzan berdiri tepat di depan pintu, laki-laki ini langsung menendang pintu tersebut hingga terbuka lebar. Semua orang yang berada di dalam terkejut, mereka saling menodongkan senjata.
"Siapa kau?" tanya seorang dengan suara berat.
"Siapa pun aku, malam ini aku akan mencabut nyawa kalian semua!" ucap Arzan dengan sorot mata tajam.
"Jangan sok jagoan, bisa saja kepala mu pecah malam ini." ucap pria yang ada di depan Arzan.
"Selagi aku bicara baik-baik, katakan pada ku siapa dalang dari penembakan anak dan istri ku?" tanya Arzan dengan wajah dingin nya.
"Siapa yang kau maksud?" tanya Pria itu bingung.
"Jangan pura-pura bodoh!" umpat Arzan, "Kau pasti mengenal siapa aku. Beberapa waktu lalu, siapa yang sudah berani menembak anak ku di depan minimarket?" tanya Arzan dengan nada tinggi.
__ADS_1
Mata pria itu melebar, apa lagi di saat anak buah Arzan beramai-ramai masuk ke dalam gedung yang tak seberapa besar itu.
"Keluar dari sini...!" usir pria itu mulai menembakan senjata nya keatas namun dengan cepat Arzan menendang pria itu hingga jatuh tersungkur.
Anak buah Arzan yang sudah benar-benar terlatih bisa menjatuhkan semua senjata yang di todong kan musuh. Adu fisik pun tidak bisa di hindarkan lagi, Arzan mengejar pria yang bertubuh besar itu hingga ke lantai dua. Namun langkah Arzan terhenti ketika beberapa orang bertubuh tegap menghadang nya.
"Kau hanya mengantar nyawa mu ke sini, lebih baik kau pulang!" ucap seorang pria yang lebih tua dari Arzan.
"Di antara kalian, siapa yang sudah menembak anak dan istri ku?" tanya Arzan dengan tatapan tajam nya.
Tidak ada yang mengaku, beberapa orang tersebut malah menertawakan Arzan hingga membuat Arzan emosi namun pria tersebut masih bisa menahan nya.
"Oh, apa kalian mengenal Clovis?" tanya Arzan membuat mata beberapa orang tersebut melebar.
"Katakan, siapa kau sebenarnya?" tanya pria brewok tadi.
"Sudah ku bilang, siapa pun aku kalian tidak perlu tahu. Kalian sudah berurusan dengan orang yang salah. Tapi, ku akui kerja kalian sangat rapi. Sekian tahun aku mencari siapa penembak istri ku, pada akhirnya aku menemukan kalian." ujar Arzan langsung menyerang beberapa orang tersebut dengan tangan kosong.
__ADS_1
Tak berapa lama Aarav ikut naik, sedangkan David tidak ikut karena pria itu menjaga Jova yang masih belum sadarkan diri.Sedangkan Aileen juga ada di rumah sakit atas perintah daddy nya.
"Paman, apa daddy memiliki masalah, kenapa dia meminta kita untuk menjaga mommy?" tanya gadis itu yang masih belum tahu jika daddy nya sudah tahu yang sebenarnya.
"Paman juga tidak tahu, paman hanya menjalankan perintah!" jawab David terpaksa berbohong, "Sebaiknya nona beristirahat." ujar David mau tidak mau Aileen memutuskan tidur di tempat tidur yang selama ini di tempati daddy nya.
Cukup kuat beberapa pria ini, namun Arzan tidak mau kalah. Arzan menyeret satu orang lalu melempar nya dari lantai dua. Masih ada lima orang, beberapa anak buah Arzan mulai naik ke lantai dua membantu tuan nya sedangkan anak buah yang lain sengaja berada di luar untuk berjaga-jaga.
Tentu saja mereka kalah, Arzan mencekik satu orang yang sejak tadi di panggil bos itu, "Kalian adalah penembak handal, pasti kalian memiliki data-data dari pesuruh kalian. Cepat berikan pada ku!" ujar Arzan dengan nada tinggi nya.
"B-beri tahu aku dulu, siapa kau sebenarnya. Kami hanya menjalankan perintah lalu di bayar." ucap pria itu.
"Arzan menarik satu anak buah nya, lalu menunjukkan tatto kebanggaan nya. Mata pria tersebut melotot, mereka berurusan dengan orang yang salah.
"Maafkan saya tuan, kami hanya di bayar!" ucap pria itu ketakutan ketika melihat anak buah Arzan menunjukkan tatto nya. Arzan dan Aarav sendiri tidak memiliki tatto dengan alasan tertentu.
"Sekarang tunjukan pada ku, siapa yang sudah menembak istri ku sembilan tahun yang lalu, dan siapa yang sudah menembak anak ku beberapa waktu yang lalu?" tanya Arzan menurunkan nada bicara nya.
__ADS_1
Pria tersebut menunjuk sebuah ruangan, dengan refleks Arzan menoleh ke arah ruang tersebut. Aarav kemudian masuk, mengecek ruangan tersebut lalu keluar.