
"Apa kau memiliki keluarga?" tanya Aarav mulai penasaran dengan kehidupan pribadi Aira.
"Tidak ada, aku tumbuh besar di panti asuhan. Ketika aku berumur empat belas tahun, ada seseorang yang mengadopsi ku lalu mereka mendidik ku sangat keras." Aira yang sangat terbuka mulai menceritakan kehidupan nya.
"Lalu, di mana mereka sekarang?" tanya Aarav, "Kenapa mereka mengizinkan mu bekerja seperti ini?"
"Aku di adopsi oleh sepasang suami istri yang memiliki bar. Ternyata mereka mengadopsi ku hanya untuk menjadikan ku perempuan jalang. Mereka berdua sudah mati ketika ada seseorang yang sudah menolong ku tapi dengan imbalan aku harus bekerja dengan nya." tutur Aira mengingat masa lalu yang sangat menyakitkan bagi nya. "Ya, jadilah pekerjaan seperti ini. dulu aku suka ikut mereka melakukan transaksi obat terlarang, menjual organ manusia bahkan merusak pekerjaan orang yang tidak bersalah. Asal kau tahu saja, sekelas Lucas dan Afkar itu mereka sama dengan orang yang aku ikuti kemarin. Mr. Brams adalah tuan mereka."
"Arzan memiliki dendam masa lalu dengan mereka. Jika melihat mereka yang sampai sekarang menderita di dalam penjara, semua itu perbuatan Arzan." ujar Aarav memberitahu.
"Mereka memang suka membunuh seseorang yang mereka anggap pengganggu!" seru Aira tidak membuat Aarav terkejut.
"Jangan coba-coba berkhianat dari aku dan Arzan, dia bisa saja menghancurkan mu apa lagi jika dia tahu kau berasal dari panti asuhan." ujar Aarav, "Kau tahu kan apa maksud ku?" tanya laki-laki itu.
"Aku tahu, lagian aku sudah lelah menjadi orang jatah. Kodrat ku seorang perempuan, aku juga ingin menikah dan membentuk keluarga ku sendiri. Maka nya aku berkhianat dari mereka agar mereka bisa membebaskan ku." kata Aira memberitahu alasan yang sebenarnya.
Aarav merasa jika ini adalah peluang terbesar untuk nya karena selama ini diri nya juga tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun selain Jova.
Di kamar, Jova yang sedang rebahan manja di pangkuan suami nya merasa sangat bahagia karena sekarang diri nya memiliki teman. Arzan mengusap rambut istri nya, laki-laki ini terus memantau pergerakan perut buncit istri nya yang terkadang suka bergerak sendiri.
"Bee, apa kau ingat saat pertama kali kita kenal?" tanya Jova.
"Tentu saja ingat, dulu ingin sekali rasa nya aku mencincang daging mu." ucap Arzan.
Jova yang tidak terima langsung duduk lalu menatap tajam suami nya dan menarik bulu kaki suami nya hingga laki-laki itu berlari ke sana kemari di dalam kamar sambil menahan rasa sakit nya.
__ADS_1
"Apa itu sakit?" tanya Jova sambil berkacak pinggang.
"Tentu saja sakit, dasar istri gila!" umpat Arzan.
"Sakit kata mu, bagaimana jika aku mencincang burung mu saja?" ujar Jova membuat suami nya langsung meminta ampun.
"Jangan Bee, aku hanya bercanda." ucap Arzan, "Tapi kau yang dulu benar-benar membuat ku jengkel."
"Kau pikir kau tidak menjengkelkan?" tanya Jova dengan mata melotot nya. "Tidak ada jatah untuk malam ini...!" seru Jova mengancam suami nya.
"Heleeeh, paling juga nanti kau sendiri yang membuka celana ku!" cibir Arzan membuat wajah istri nya merah padam.
"Laki-laki tidak tahu diri....!" teriak Jova kesal. "Keluar dari kamar ini,...!" usir Jova namun Arzan malah melompat keatas tempat tidur mereka.
"Jangan suka berteriak bee, apa kau tidak kasihan pada anak mu nanti?" tanya Arzan membuat Jova langsung mengusap perut nya.
"Lagi-lagi, suami yang salah, suami yang harus mengalah." ucap Arzan pelan namun masih bisa di dengar oleh istri nya.
"Coba kau pergi bercermin, lalu renungkan perkataan itu di depan cermin." ujar Jova namun suami nya hanya tersenyum cengir.
Meskipun sikap istri nya yang terkadang masih seperti anak kecil, namun Arzan tidak peduli malah membuat laki-laki itu semakin mencintai Jova. Perbedaan usia mereka terkadang membuat Arzan harus belajar memahami sifat istri nya.
Suasana kembali tenang, kali ini gantian Arzan yang rebahan manja di pangkuan istri nya. Sesekali Jova memainkan hidung mancung suami nya.
"Bee, menurut mu mana yang lebih kau cintai antara istri dan anak mu?" tanya Jova.
__ADS_1
"Tentu saja istri...!" ucap Arzan tegas.
"Kenapa tidak anak? bukankah pasangan itu hanya orang asing sedangkan anak adalah darah daging mu?"
"Memang benar begitu, tapi aku lebih mencintai mu bee." ujar Arzan.
"Beri aku alasan nya!" pinta Jova.
"Jika aku tua nanti, sudah pasti istri yang akan menemani ku bukan anak. Anak-anak akan tumbuh besar lalu menikah dan memiliki keluarga masing-masing." tutur Arzan mulai merasa sedih jika harus membayangkan kehidupan di masa depan.
"Sudahlah, aku tidak bisa menjawab perkataan mu." ujar Jova yang merasa bahagia jika suami nya sangat mencintai diri nya.
Beda lagi dengan Aira dan Aarav yang masih mengobrol tentang masa lalu mereka. Aira adalah tipe perempuan yang nyaman di jika di ajak mengobrol, membuat Aarav betah berlama-lama berada di samping wanita itu. Meskipun pendidikan Aira tidak setara dengan Aarav atau Jova, namun wanita cukup pintar.
Meksi baru bertemu dan saling mengenal, Aarav langsung jatuh hati pada Aira. Pria ini sedang di mabuk cinta pada pandangan pertama.
"Apa kau pernah pacaran?" tanya Aarav mulai menyelidik ke wilayah percintaan Aira.
"Bagaimana dengan kau, apa kau pernah pacaran?" tanya Aira balik.
"Pernah tapi zaman kuliah dulu. Dulu aku melihat perempuan sangat ribet, maka nya aku tidak mau pacaran." jawab Aarav jujur. "Apa lagi ketika melihat Jova dan Arzan, bikin pusing. Tapi, lama kelamaan aku menjadi iri melihat kebahagiaan mereka. Arzan sangat Mencintai Jova meski pernikahan mereka hanya sebuah kebetulan." ujar Aarav lagi-lagi memberitahu tentang Arzan dan Jova.
"Aku ingin seperti perempuan normal lain nya, menikah dan memiliki keluarga. Bekerja dengan mereka tidak ada istirahat nya, bikin lelah saja!" keluh Aira yang sudah muak dengan masa lalu nya.
"Bekerja dengan Arzan sangatlah santai, kau lihat sendiri mereka semua. Di hari tertentu mereka akan latihan, di hari tertentu mereka akan berkumpul dengan keluarga masing-masing. Lagian, Arzan adalah orang baik, dia akan menjamin semua kehidupan anak buah nya terlebih lagi yang memiliki keluarga."
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Aira merasa senang dengan pekerjaan baru nya. "Kalau begitu aku akan melakukan apa pun untuk melindungi Jova. Mereka memang terlihat baik." ujar Aira.
Aira dan Aarav kemudian melanjutkan acara keliling mereka. Kali ini Aarav membawa Aira pergi ke kebun binatang yang isi nya hanya binatang buas saja. Aira tidak merasa takut karena hal seperti ini sudah biasa bagi nya.