
"Apa kata mu? mereka merencanakan untuk menculik Jova lagi?" tanya Arzan dengan nada tinggi nya.
"Aku mendapatkan sumber yang terpercaya. Alex telah memberitahu mereka tentang titik lemah mu." kata Melvin menambah panas hati Arzan.
"Sebaiknya kau harus segera menyembunyikan istri mu. Aku yakin sekarang Lucas dan Afkar tidak hanya mengincar mu tapi orang-orang yang berhubungan dengan mu juga." Rasyad menasehati Arzan.
"Mansion adalah tempat terbaik untuk Jova. Tidak akan ada orang yang berani menyentuh nya di sini." ujar Arzan namun tiba-tiba terdengar suara adu tembakan yang membuat mereka langsung ambil tindakan. Entah dari mana lima orang itu berani menginjakan kaki di mansion ini? biasa nya Arzan akan menghabisi musuh yang datang ke tempat ini.
Arzan hanya memerintah Aarav untuk melihat anak buah nya di luar, sedang lelaki itu memilih menemui istri nya di dalam kamar. Kamar yang kedap suara membuat Jova tidak mendengar suara tembakan. Gadis ini langsung bergelayut manja di leher suami nya ketika melihat Arzan masuk ke dalam kamar.
"Ada apa sayang?" tanya Arzan seketika lunak hati nya.
"Jangan jauh-jauh, nanti aku rindu." ujar gadis itu dengan suara manja nya.
"Aku tidak akan jauh-jauh bee, aku akan selalu ada untuk mu dan anak kita." pria itu memeluk istri nya, mengecup kening dengan penuh kasih sayang. "Bee,...mansion ini tidak aman sekarang. Untuk sementara, mau kan kau tinggal di suatu tempat?" Arzan mulai memberitahu istri nya.
"Di mana?" tanya Jova singkat.
"Ada, jika kau mau sore ini juga kita akan berangkat." kata Arzan.
"Asal tetap bersama dengan suami ku, aku akan ikut kemana pun dia pergi." ujar Jova dengan senyum lebar nya.
Sedangkan di luar, lima mayat musuh tergeletak begitu saja. Melvin dan Rasyad sangat mengenali mereka dari tatto yang terukir di lengan. Sejenak Araav berpikir, namun pria itu langsung membuang pikiran kotor nya jauh-jauh. Lelaki ini tidak mau seuzdon terlebih dahulu.
Arzan keluar, menghampiri mereka bertiga. "Kalian, beresan mayat-mayat ini!" perintah Arzan. "Kau pulanglah Mel, dan paman istirahat lah." ujar Arzan.
Pria itu kembali masuk ke dalam, di ikuti oleh Aarav yang sejak tadi memasang wajah bingung. "Ada apa dengan wajah mu?" tanya Arzan.
__ADS_1
"Dari mana mereka tahu tempat ini?" tanya Aarav.
"Entahlah, aku rasa ada yang mengikuti mu atau Melvin ketika kalian pergi ke sini." jawab Arzan masuk akal.
Entahlah, hati Aarav seakan menolak dengan jawaban Arzan. "Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Aarav.
"Setidaknya, aku sudah bertemu dengan pembantai keluarga ku. Bahkan, mereka tidak merasa bersalah sedikitpun. Sudah tentu aku akan membalas nya." ujar Arzan geram. "Sore ini aku akan memindahkan Jova ke salah satu Villa milik ku. Persiapkan anak buah!" perintah Arzan langsung di laksanakan oleh Aarav.
Sore itu juga, Arzan langsung membawa Jova pergi yang kata nya ke tempat lebih aman. Jova terlihat sangat senang sekali ketika melihat pemandangan yang sangat indah. Melintasi hutan perbukitan dan juga danau-danau indah membuat mata nya menjadi lebih segar.
"Dekat danau itu ada air terjun bee. Sangat indah." ujar Arzan memberitahu.
"Benarkah? kapan kita pergi ke situ?" tanya Jova.
"Setelah semua nya aman. Aku akan membawa mu pergi ke mana pun yang kau mau." kata Arzan membuat istri nya senang.
"Di sana ada kepala pelayan dan Dokter yang akan menjaga mu. Satu orang koki dan sisa nya anak buah ku yang akan berjaga." Arzan menjelaskan. "Tempat ini hanya aku dan Aarav yang tahu. Termasuk kepala pelayan yang selalu setia pada ku."
Tidak masalah, Jova senang ada kepala pelayan yang selalu mengikuti nya.
Tak berapa lama, mereka akhirnya tiba di sebuah Villa yang berada di atas bukit. Yang membuat Jova senang adalah bisa melihat perkampungan penduduk dari atas Villa. Udara yang sedikit dingin menambah segar tempat ini. Arzan mengajak istri masuk ke dalam sedangkan Aarav menjelaskan tugas para anak buah.
Tubuh yang lelah membuat Jova langsung berguling-guling di atas tempat tidur yang sangat empuk. "Bee, jangan seperti itu. Kasihan anak kita." tegur Arzan yang melihat istrinya seperti cacing kepanasan.
"Eeeh,...iya. Aku lupa jika sedang hamil!" seru Jova baru ingat.
Arzan duduk di tepi tempat tidur, sejenak laki-laki ini terdiam lalu menarik istrinya masuk ke dalam pelukan nya. "Maafkan aku bee!" ucap Arzan dengan nada sedih nya.
__ADS_1
"Maaf untuk apa bee?" tanya Jova tidak mengerti.
"Maaf karena aku tidak bisa memberi mu hidup yang aman. Maaf karena aku tidak bisa memberi mu hidup yang bebas dan normal seperti orang pada umum nya." Arzan menggenggam tangan istri nya. Jauh dari lubuk hati nya pria ini ingin sekali menikmati kehidupan layak nya kebanyakan orang.
Jova terdiam, gadis ini juga merasakan jika kehidupan nya sangat terbatas. kemana pun dia pergi harus di kawal, bahkan Jova tidak bisa pergi dengan sesuka hati nya.
"Aku mengerti bee, untuk sekarang kau selesaikan saja dulu masalah mu." gadis ini tersenyum.
"Terimakasih sudah mengerti atas diri ku bee." ucap Arzan lalu mereka saling berpelukan.
Untuk malam ini Arzan akan tinggal di sini, kemungkinan besok pria ini akan pergi untuk menyelesaikan balasan dendam nya. Malam ini, Jova sangat manja sekali, untuk makan saja gadis ini minta di suapi.
"Kau harus makan yang banyak bee, biar anak kita tetap sehat." ujar Arzan padahal Jova saat ini tidak menyukai makan nasi.
"Tapi kau memaksa ku untuk makan bee. Aku tidak suka!" keluh gadis itu.
"Suka tidak suka mulai sekarang kau harus suka. Biasa nya juga makan mu satu panci...!" kata Arzan langsung mendapatkan serangan dari istri nya. Cubitan yang di berikan Jova bagai gigitan nyamuk untuk Arzan.
"Suka sekali mengatai ku!" gumam gadis itu kesal.
"Aku belajar dari mu bee. Apa kau lupa jika awal kita menikah kau selalu mengejek dan mengatai ku?" Arzan mengingatkan istri nya.
"Tapi aku bicara kenyataan. Hidup mu aneh, tidak normal bahkan suka hidup di hutan." kata Jova geram.
"Dan sekarang kau juga ikutan aneh bee. Kau juga mengikuti ku tinggal di hutan." balas Arzan lalu pria itu tertawa.
Selesai makan Arzan mengajak istri nya ke kamar. Tidak lupa selesai makan Arzan menyuruh istri nya untuk minum vitamin. Pria ini juga menyiapkan segelas susu untuk di minum Jova sebelum tidur nanti.
__ADS_1