Menikah Dengan Mafia

Menikah Dengan Mafia
35.Sama-Sama Keras Kepala


__ADS_3

Seharusnya besok adalah hari yang paling membahagiakan untuk Jova. Karena gadis itu akan melakukan wisuda tepat di hari ulang tahun nya.Namun, gadis itu tidak ingin melakukan apa pun termasuk bertemu dengan suami nya.


Arzan kembali di buat panik ketika mengetahui jika Jova tidak ada di dalam ruangan nya. Pria itu langsung mencari istri nya bahkan mengerahkan anak buah nya untuk mencari Jova. Pada akhirnya, Arzan menemukan istri nya di taman rumah sakit. Jova duduk di saung paling pojok, kelihatan sekali jika wajah nya sangat sedih sekarang.


"Bee,...ternyata kau di sini. Aku sudah mencari ku kemana-mana." kata Arzan bernafas lega.


"Pergi lah, aku tidak ingin melihat pembohong seperti mu." sahut Jova dengan dingin nya.


Arzan berusaha menyentuh tangan istri nya namun dengan cepat Jova menepis tangan pria itu, "Bee,...jangan seperti ini. Sumpah demi apa pun bukan aku yang menembak ayah mu." kata Arzan.


Jova menoleh, menatap wajah suami nya dengan penuh rasa benci, "Memang bukan kau, tapi kenapa kau tega merahasiakan kebenaran nya dari ku?" tanya Jova dengan mata berkaca-kaca. "Aku memang tidak menyukai ayah ku, tapi dia adalah satu-satunya keluarga yang aku punya." kata Jova yang sudah tidak bisa membendung air mata nya.


"Maafkan aku bee, aku terlalu takut untuk berkata jujur. Perihal tentang diri ku, akan ku ceritakan siapa aku sebenarnya." ujar Arzan masih mencoba menyakinkan istri nya.


"Tidak ada yang perlu di jelaskan lagi. Cinta mu hanya permainan Arzan. Jika kau mencintai ku, saat dimana kau menyatakan cinta pada ku, seharusnya kau bisa menjelaskan siapa diri mu pada ku." kata-kata Jova membuat Arzan semakin merasa bersalah.


"Aku sungguh-sungguh mencintaimu bee. Aku cemburu ketika melihat mu dekat-dekat dengan Melvin. Aku sangat mencintai mu bee." Arzan memohon pada istri nya namun tetap saja Jova yang keras kepala tidak mau mendengarkan penjelasan suami nya.


Ketika Arzan masih sibuk menyakinkan istri nya, tiba-tiba Arvana muncul di hadapan mereka. Jova yang melihat hal itu langsung memilih pergi, Arzan berusaha mengejar namun Anna dengan cepat menarik tangan pria itu.


"Lepaskan aku....!" bentak Arzan.


"Arzan,...ku mohon beri aku waktu sebentar saja." ujar Anna namun pria itu acuh. Arzan meninggalkan Anna sendiri, pria itu kembali mencari istri nya.


Bagaimana keadaan Melvin, pria itu sudah sadar sekarang. Melvin juga bukan anak orang miskin atau sembarangan, papah Melvin dan Alex adalah saudara kandung. Namun papah Alex yang sangat licik tega membunuh adik nya sendiri demi harta warisan peninggalan orang tua mereka.

__ADS_1


"Aku ingin pulang paman!" kata Melvin pada pria paruh baya itu. Nama nya Haris, dia adalah kakak laki-laki dari mamah Melvin yang selama ini sudah merawat Melvin sejak papah dan mamah nya meninggal.


"Tapi kau masih sakit Vin." Haris nampak khawatir pada keponakan nya itu.


"Apa bajingan itu sudah mati paman?" tanya Melvin geram.


"Ku dengar, Alex dan Doris juga di rawat di rumah sakit lain. Arzan sengaja tidak membunuh nya." jawab paman Haris.


"Kenapa? apa dia takut? jika Alex tidak mati di tangan Arzan, dia harus mati di tangan ku." ucap Melvin penuh dendam. "Kematian orang tua ku harus di bayar malah oleh Alex dan papah nya."


"Paman mengerti, untuk sekarang kau harus banyak istirahat." ujar paman Haris.


"Apa kabar gadis itu? apa Jova baik-baik saja?" tanya Melvin yang tiba-tiba teringat akan Jova.


Melvin menghembuskan nafas pelan, lalu berkata, "Jika Arzan sendiri tidak di maafkan oleh Jova, bagaimana dengan ku selama beberapa tahun membohongi nya."


"Sudah lah Melvin, jangan pikirkan hal ini dulu. Jika kau ingin pulang, mari pulang. Adik mu pasti sedang gelisah karena kau tidak pulang sejak kemarin." ujar paman Haris.


Meski pun Melvin masih merasakan sakit di bahu belakang nya, namun pria itu tidak ingin membuat adik nya khawatir.


Jova berdiri di parkiran gerbang rumah sakit, gadis ini bingung ingin pergi kemana sedangkan diri nya tidak ingin pulang ke mansion. Jangankan ponsel, uang saja Jova tidak punya.


Lagi-lagi, Arzan bernafas lega ketika melihat istri nya yang sejak tadi di cari nya berada di gerbang rumah sakit, Arzan langsung menghampiri istri nya. "Bee, kau mau pergi kemana? ayo pulang...!" ajak Arzan.


"Biarkan aku sendiri Arzan! aku butuh waktu." gumam Jova.

__ADS_1


"Ayo pulang ke mansion? kau masih sakit." kata Arzan masih membujuk istri nya.


"Aku tidak mau, aku tidak mau ikut pulang bersama mu." gadis itu kembali menangis. "Kau pembohong Arzan kau pembohong!" teriak gadis itu menjadi pusat perhatian orang.


"Jangan seperti ini bee, masuk lah ke mobil. Kita bicara baik-baik." mohon Arzan dengan wajah yang melas.


"Aku tidak mau!" seru Jova.


"Ku mohon bee. Jika kau tidak mau pulang ke mansion, aku akan mengantar mu ke hotel atau apartemen. Kau bisa tinggal di sana sesuka hati mu." sekali lagi, Arzan membujuk istrinya.


Tak berapa lama Aarav juga menghampiri mereka, membantu Arzan untuk menyakinkan Jova. Gadis itu pada akhirnya luluh, Jova masuk ke dalam mobil dan memilih duduk di kursi belakang.


Arzan membawa Jova ke salah satu unit Apartemen yang di miliki nya. Sangat mewah bahkan tempat ini hanya di huni oleh orang-orang yang beruang saja.


Tidak lupa Arzan juga menyiapkan segala kebutuhan istri nya selama tinggal di apartemen. Arzan berniat tinggal di apartemen, namun Jova langsung mengusir suami nya.


"jika kau kenapa-kenapa bagaimana bee?" Arzan sangat khawatir meninggalkan istri nya seorang diri.


"Aku lebih baik seorang diri dari pada harus dengan pembohong seperti mu!" ucap Jova dengan dingin nya.


Aarav menarik Arzan keluar, pria itu hanya bisa bersandar dengan pasrah. "Jangan memaksa nya dalam situasi seperti ini, Jova butuh waktu untuk menerima siapa diri mu yang sebenarnya." nasehat Aarav.


"Emmm,...aku mengerti. Aku akan tinggal di lantai atas. Aku tidak ingin menjaga istri ku, jangan lupa pasang cctv di sekitar sini lalu hubungkan dengan ponsel ku." perintah Arzan kemudian pria itu naik ke lantai atas karena Arzan akan tinggal di apartemen selama Jova tinggal di apartemen.


Aarav memijat pelipis nya yang pusing, mau marah dengan Arzan pun percuma karena apa yang di takutkan nya selama ini sudah benar-benar terjadi. "Sama-sama keras kepala!" ucap Aarav kesal.

__ADS_1


__ADS_2