
"Bukan seperti itu bee! Alex lah yang sudah menembak ayah mu dengan membabi buta." Arzan mencoba membela diri.
"Tidak, aku tidak percaya! di mansion, aku melihat banyak senjata yang sengaja kau simpan. Katakan ada ku Arzan, siapa kau sebenarnya? apa tujuan mu menikahi ku?" tanya gadis itu membuat lidah Arzan kelu.
"Dia mencoba memfitnah ku!" seru Alex.
"Jangan percaya dengan mulut kotor Alex Jova.Dia adalah orang yang sudah membunuh papah ku!" ucap Melvin dengan sangat lantang membuat Arzan dan Jova langsung beralih pandang ke arah pria itu.
"Diam kau bajingan!" bentak Alex lalu menodongkan senjata nya ke arah Melvin.
Tanpa rasa takut, Melvin melangkah maju lalu berdiri tepat di depan Alex, "Kau dan aku adalah sepupu. Tapi kau dan papah mu tega membuat aku dan adik ku menjadi seorang yatim piatu!" kata Melvin dengan sorot mata penuh dendam.
Sedangkan Aarav, pria itu sejak tadi sedang bersiap untuk menembak Doris agar Arzan bisa menyelamatkan Jova. Kali ini, anak buah Alex tinggal tersisa beberapa orang saja karena sudah di babat habis oleh anak buah Arzan. Sedangkan Melvin, pria itu dengan gagah nya datang seorang diri setelah mengetahui Alex lah yang menculik Jova. Dari mana Melvin tahu? dari lambang tato yang ada di leher sang penculik. Melvin bahkan selama ini tahu aktifitas Alex dan di mana letak beberapa markas nya.
Dooorrrr,....satu tembakan mengenai tangan Doris yang memegang senjata api. Alex yang melihat hal itu berniat ingin membalas tembakan namun dengan cepat di to dong senjata oleh David. Arzan dengan cepat menarik istri nya ke dalam pelukan sedangkan Doris sudah terkapar di lantai manahan panas nya peluru yang bersarang di otot lengan nya.
"Berani bergerak, kepala mu pacah!" ancam David "Letakan senjata mu!" bentak David tak kalah sangar nya.
Perlahan Alex meletakan senjata nya kelantai namun pria itu tetap mengawasi pergerakan semua orang. Senyum Alex mekar ketika melihat salah satu anak buah nya sedang berancang-ancang menembak. Melvin yang melihat pandangan mata Alex, langsung mengekori mata pria itu.
Melvin tercengang, pria itu melihat arah senjata tertuju pada Jova dan Arzan. Dengan cepat Melvin berlari lalu memeluk Jova hingga pada akhirnya,
Dooooor......peluru panas itu bersarang di bahu bagian belakang Melvin. Jova yang melihat hal itu langsung berteriak histeris apa lagi kini Melvin perlahan jatuh ke lantai dengan darah segar nya. Alex langsung menggunakan kesempatan itu untuk mengangkat senjata nya kembali namun dengan cepat Aarav menembak pria itu tepat di bagian tangan nya.
__ADS_1
Sedangkan penembak itu, langsung di kejar oleh anak buah Arzan. Anak buah Alex yang tinggal beberapa orang itu hanya bisa terdiam di sudut ruangan karena saat ini mereka juga berada di bawah ancanam senjata anak buah Arzan yang lain.
Jova yang melihat Melvin menggelepar di lantai, langsung merangkul Melvin, "Melvin jangan mati, kau teman ku. Jangan mati Melvin...!" ucap Jova ketakutan.
"Dia tidak akan mati," sahut Arzan namun tidak di dengar oleh Jova. "Bawa dia kerumah sakit!" perintah Arzan pada anak buah nya. "Aarav, bawa Jova pergi dari sini. Aku akan membereskan Alex." kata Arzan.
Sepi, ruangan ini hanya tersisa Arzan dan David juga Alex dan Doris yang sedang menahan sakit nya peluru yang bersarang. Sedangkan anak buah Alex sudah di bawa sebagai tawanan.
Wajah Arzan semakin terlihat dingin, mata nya memerah menahan amarah, tanpa ragu, Arzan menghahar Alex untuk menumpahkan semua amarah nya, "Kau sudah menghasut istri ku, bajingan!" kata Arzan yang sudah tidak terkontrol lagi.
Bukan nya takut, Alex malah tertawa dengan gigi dan gusi berdarah bahkan wajah nya sudah sangat babak belur, "Aku memang sengaja menghasut istri mu. Dia harus tahu jika kau adalah bajingan sama seperti ku." sahut Alex semakin membuat Arzan emosi.
Doris yang sejak tadi manahan sakit di tangan nya perlahan mengesot untuk mengambil senajata api yang berada di bawa kaki nya. Ketika pria itu hendak menembak Arzan yang sekarang duduk di atas tubuh Alex, David langsung menembak tangan Doris yang masih sehat.
"Kita harus pergi tuan," ujar David mengingatkan.
"Biarkan ke dua bajingan ini hidup, jika mereka mati nanti aku tidak memiliki mainan lagi." kata Arzan kemudian mereka meninggalkan Alex dan Doris yang sudah sekarat.
Sedangkan di rumah sakit, Jova yang masih bergetar sedang menunggu Melvin yang saat ini sudah mendapatkan perawatan. Aarav berusaha membujuk gadis itu sambil menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, Jova yang keras kepala tidak mau mendengarkan dan tetap saja gadis itu menganggap Arzan dan Alex yang sudah membunuh ayah nya.
Beberapa waktu kemudian, Arzan tiba di rumah sakit. Pria itu langsung menghampiri istri nya dan hendak memeluk namun dengan cepat Jova langsung menghindar.
"Jangan mendekati ku!" seru Jova dengan tatapan jijik.
__ADS_1
"Bee,...aku bisa menjelaskan kejadian malam itu." kata Arzan.
"Tidak, aku tidak mau mendengarkan nya. Kau, Aarav, Melvin dan penculik itu sama saja. Kalian adalah manusia keji yang berlindung di balik topeng." ujar Jova dengan sorot mata penuh kebencian.
Arzan mengulurkan tangan nya lagi hendak menyentuh Jova, namun lagi-lagi gadis itu menepis tangan suami nya. "Jangan menyentuh ku,....!" ucap Jova sambil menutup ke dua telinga nya, gadis itu histeris hingga pada akhirnya tidak sadarkan diri.
Dengan cepat Arzan merangkul tubuh istri nya yang sekarang tidak sadarkan diri itu. Kini, Jova terbaring lemas di ruang rawat ruang sakit. Arzan juga masih setia menemani istri nya.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, namun ke dua mata Arzan belum juga terlelap karena pria itu msih memikirkan keadaan istri nya.
Jova terbangun, tubuh nya masih lemas, "Bee,...kau sudah sadar?" Arzan terlihat sangat senang sekali. Namun Jova langsung mengalihkan pandangan nya acuh.
"Jangan ganggu aku, pergilah!" kata Jova membuka suara.
"Bee,...jangan keras kepala seperti ini. Dengarkan penjelasan ku dulu." ujar Arzan namun Jova langsung menutup ke dua telinga nya.
"Keluar..........!" teriak Jova menggema di sudut ruangan. Aarav yang mendengar hal itu langsung mengajak Arzan untuk keluar agar Jova bisa tenang.
Di luar ruangan, Arzan mangacak rambutnya frustasi, tanpa terasa air mata nya mengalir di sudut mata, "Malam itu, jika aku tidak mengejar Alex, mungkin hal itu tidak akan terjadi." kata Arzan penuh sesal.
"Semua bukan salah mu, Jova butuh waktu untuk menerima kenyataan ini." gumam Aarav mencoba menenangkan Arzan.
"Tidak Rav,...aku yang salah. Jika malam itu aku tidak menembak lebih dulu, maka Alex tidak akan membalas tembakan ku." Arzan masih menyalahkan diri nya sendiri. Bahkan jauh lebih menyesal ketika diri nya tidak bisa mendengarkan nasihat dari Aarav untuk berkata jujur pada Jova.
__ADS_1