Menikah Dengan Mafia

Menikah Dengan Mafia
48.Di Mana Arzan


__ADS_3

Jova dan Arzan menginap di Villa, jika membawa Jova kembali ke mansion sudah tentu bisa membahayakan istri nya. Arzan memandang wajah Jova, pria itu mengusap lembut kepala istri nya, perasaan takut kehilangan kini mulai menyelimuti benak pria itu.


"Pekerjaan ku sangat berbahaya, aku sangat takut kehilangan mu." lirih Arzan semakin sedih. Pria itu bangun, turun dari atas tempat tidur lalu berjalan ke balkon kamar.


Angin malam sudah biasa menembus kulit Arzan, pria itu memandang langit gelap bertabur bintang tanpa batas itu. Arzan menghela nafas dalam, memejamkan mata nya untuk meresapi kesunyian malam ini.


Arzan kembali masuk, rasa nya enggan meninggalkan gadis yang dulu selalu membuat kepala nya pusing.


"Dari mana bee?" tanya Jova mengejutkan Arzan.


"Dari luar, cari angin...!" jawab pria itu sambil naik ke atas tempat tidur.


"Aku mencari mu bee!" kata Jova manja.


Arzan mengerti, pria itu lalu membentangkan lengan nya lalu tanpa di perintah Jova mendaratkan kepala nya di lengan suami nya. "Tidurlah bee, aku akan menjaga mu." ucap Arzan lalu mencium kening istrinya.


Tidak menyahut, Jova kembali lelap dalam tidur nya begitu juga dengan Arzan. Namun, baru setengah jam Arzan tidur tiba-tiba ponsel nya berdering. Arzan langsung mengangkat telpon dari anak buah nya, lelaki itu mengerti kemudian membangunkan istrinya.


"Maaf jika aku membangunkan mu bee." ucap Arzan merasa bersalah.


"Ada apa bee?" tanya Jova panik.


"Kita harus segera pergi dari sini, musuh mengetahui jika aku menginap di sini." kata Arzan semakin membuat Jova panik.


Arzan menarik tangan istrinya menuju mobil, menancap gas sekencang mungkin untuk menghindari musuh. Arzan lewat di jalan yang bisa mengecoh para musuh.


"Musuh siapa yang kau maksud bee?" tanya Jova penasaran.


"Alex, kekuatan nya sekarang jauh lebih kuat. Aku tidak ingin kau celaka atau terluka bee." ujar Arzan tetap fokus pada kemudi nya.


Jalanan yang di lewati Arzan cukup jauh karena harus memutar, musuh yang tiba di Villa tidak menemukan siapa pun. Entahlah, di mana anak buah Arzan yang banyak itu tiba-tiba menghilang.

__ADS_1


Dooorrr......satu tembakan mengenai satu orang, hingga membuat suasana tengah malam itu menjadi mencekam. Adu tembak mulai menggema, bagai alunana nada pada malam yang gelap gulita. Untung saja anak buah Arzan sangat terlatih, jadi mereka bisa melumpuhkan beberapa anak buah Alex yang sengaja di kirim nya.


Arzan merasa lega ketika membaca notifikasi pesan jika suasana sudah aman. "Kita kembali ke mansion bee," kata Arzan.


"Apa jalanan nya sudah aman bee?" tanya Jova.


"Entahlah, tapi aku yakin jika anak buah ku bisa mengatasi semua nya." ujar Arzan yakin.


"Bee, jika ketemu musuh di jalan, aku ingin menembak nya sesekali." kata Jova membuah Arzan tercengang.


"Jangan bercanda bee, mereka orang jahat ang bisa membunuh tanpa ampun." sahut Arzan.


"Aku gak peduli, intinya jika ketemu musuh aku ingin menembak mereka." kata Jova tegas.


"Kau ini, kau pikir itu main tembak-tembakan biasa?"


"Sepertinya kau meremehkan kemampuan ku bee!" seru Jova kesal. "Jika aku bisa menembak musuh mu, kau ingin memberi ku apa?* tanya Jova menantang suami nya.


"Aku akan memberikan segala yang kau minta. Tapi, jika kau tidak bisa menembak, kau harus memberi ku seorang anak secepatnya." Arzan kembali memberi tantangan yang sangat menguntungkan bagi nya.


"Bisa saja memaksanya bee, kita harus melakukan hubungan suami istri banyak-banyak." ujar Arzan tanpa rasa malu.


"Dasar otak mesum!" umpat Jova kesal.


Mereka tiba di mansion menjelang pagi, Jova dan Arzan kembali beristirahat. Mereka tidur dengan nyenyak, terutama Arzan yang tidak tidur semalaman.


Di lain tempat, ketika makan siang Aarav makan siang bersama dengan karyawan lain di kantor. Pria ini lebih sering menghabiskan makan siang bersama karyawan dari pada mengekor di belakang Arzan.


"Aarav.....!"sapa seorang wanita. "Di mana Arzan?" tanya nya celingukan.


Arzan membuang nafas nya kasar, lalu berkata dengan sangat malam, "Jangan suaka menanyakan suami orang. Itu tidak baik!"

__ADS_1


Senyum Arvana langsung berubah masam, "Kenapa sih, kau sangat membenci ku?" tanya nya kesal.


Aarav tertawa, pria itu menyeruput jus nya lalu bertanya dengan suara dingin. "Apa kau lupa bagaimana kau menghancurkan Arzan dulu?" .


Sontak saja itu membuat Anna terdiam, membuang pandangan nya seperti menahan malu karena beberapa karyawan Arzan memandang enggan pada nya.


Arvana melenggang pergi dengan mimik wajah yang penuh emosi, dari dulu Aarav terus saja bersikap tidak baik nya. Tentu saja hal itu membuat Anna penasaran.


"Sialan itu masih tetap sama, aku tidak bisa mengambil hati Aarav demi mendapatkan Arzan kembali." kata Arvana geram.


Entah apa yang membuat Aarav menaruh kebencian yang begitu dalam pada Anna? pria itu tidak pernah mengungkapkan nya pada siapa pun termasuk Arzan sendiri. Arzan bahkan tahu jika Aarav sejak dulu tidak menyukai Anna. Lelaki itu sudah pernah bertanya penyebab kebencian itu namun Aarav hanya mengatakan jika Anna bukan perempuan baik-baik.


Di sebuah kamar besar yang mendominasi warna abu-abu, Jova terbangun dengan keadaan perut yang terus berbunyi karena lapar. Melihat suami nya yang masih tidur dengan pulas nya tidak tega untuk membangun kan suami nya.


Jova turun, mencari kepala pelayan untuk meminta sesuatu, "Aku ingin makan salmon bakar dan salmon kukus. Jangan lupa beri sedikit sambal." pinta Jova pada kepala pelayan.


"Baik nona, jika sudah masak saya akan memanggil nona." kata nya sopan.


"Paman, aku juga mau kentang goreng dan Jus alpukat. Nanti makanan nya semua di antar ke kamar saja ya." kata Jova kemudian gadis itu kembali ke kamar nya.


Ketika Jova kembali ke kamar, Arzan ternyata sudah bangun, "Dari mana sayang?" tanya Arzan.


"Aku lapar bee, jadi aku meminta mereka untuk memasak." jawab Jova dengan nada manja nya. Jova kemudian duduk di pangkuan suami nya, mengalungkan ke dua tangan nya di leher sang suami, "Bee,...usap perut ku ini bee." kata nya manja.


"Kau sudah sangat lapar ya? maaf untuk kekacauan tadi malam bee." ucap Arzan merasa bersalah.


"Tidak bee,...aku malah senang." ujar Jova menyakinkan suami nya.


Tak berapa lama makanan sudah di antar ke kamar, Arzan tercengang ketika melihat menu makanan istrinya yang hanya dari keluarga ikan-ikanan.


"Paman, tidak ada menu lain?" tanya Arzan.

__ADS_1


"Ini sudah sesuai dengan permintaan nona Jova tuan." jawab kepala pelayan sedikit takut.


Mendengar itu permintaan sang istri nya, Arzan hanya bisa tersenyum. Semua demi kesenangan dan kebahagiaan Jova.


__ADS_2