Menikah Dengan Mafia

Menikah Dengan Mafia
78.Pengkhianat


__ADS_3

Sepulang nya dari rumah sakit, Jova langsung bisa beristirahat karena baby Ai terlelap tidur. Melihat istri nya yang sangat lelah, Arzan mulai menimbang diri untuk mempekerjakan seorang pelayan perempuan.


"Huh...!" keluh Arzan, "Aku ingin minta pendapat kalian berdua." ujar nya.


"Pendapat apa?" tanya Aira penasaran.


"Bagaimana jika aku menambah seorang pelayan perempuan di mansion ini?" tanya Arzan.


"Jika kau dan Jova masih bisa menangani semua nya, kenapa harus mencari orang baru?" tanya Aarav, "Lagian, belum tentu orang yang kau pekerjaan bisa menutup telinga dan mulut nya tentang apa yang ada di dalam sini."


"Aku setuju dengan Aarav, lagian masih ada aku. Kalau hanya untuk menjaga seorang bayi aku juga bisa membantu Jova." timpal Aira yang setuju dengan pendapat Aarav.


"Aku juga awal nya berpikir begitu, kasihan saja melihat Jova harus bangun tengah malam untuk mengurus anak nya." ujar Arzan.


"Kau ini memang bodoh!" umpat Aarav, "Hal seperti itu memang wajar. Seharusnya kau sebagai ayah dan suami ikut membantu, bukan malah menyuruh orang lain untuk menjaga anak mu di tengah malam."


Mata Arzan langsung melotot merah ketika Aarav mengatai nya bodoh. "Kalian berdua sama saja!" seru Arzan memilih masuk ke dalam kamar.


"Heh, jangan mengatai nya bodoh, hal seperti itu wajar saja. Mereka kan orang tua baru!" ujar Aira membela Arzan.


"Biarkan saja, biar mata nya terbuka lebar." sahut Aarav tidak peduli.


Arzan menghampiri anak yang sedang minum asi dari mommy nya, pria ini gemas sendiri ketika melihat anak nya yang tertidur begitu pulas.


"Hih, sekarang tempat di situ jadi milik mu. Daddy mu ini dapat apa?" ujar Arzan merasa tidak terima ketika melihat bukit istri nya yang sekarang jadi milik anak nya.


"Jangan kan ini, selama satu bulan lebih kau harus berpuasa!" ucap Jova dengan mata terpejam hingga membuat suami nya terkejut.


"Apa maksud dari kata-kata mu itu bee?" tanya Azan bingung. Jova kemudian menjelaskan masa-masa larangan setelah melahirkan hingga membuat suami nya terduduk lemas di lantai dengan menirukan gaya menangis. "Kenapa harus seperti itu, kalian menyiksa ku!" ucap Arzan tidak terima.


"Terima saja resiko nya bee. Kau harus mengalah dengan anak mu!" seru Jova sambil mengejek suami nya.


"Untung saja dia anak ku, jika anak tetangga akan ku usir dia!" ujar Arzan geram.

__ADS_1


"Heh, anak tenaga dari mana? apa kau lupa jika kau tidak memiliki tetangga!" kata Jova mengingat kan suami nya.


Arzan menggaruk kepala nya tak gatal, pria itu hanya bisa terkekeh. Melihat anak nya menggeliat, Arzan dan Jova semakin gemas melihat nya. "Dia mirip dengan ku!" ucap Jova gemas.


"Aku kan Daddy nya, sudah seharusnya dia mirip dengan ku." sahut Arzan.


"Aku yang mengandung dan melahirkan nya, seharusnya dia mirip dengan ku!" Jova masih tidak terima.


Namun, kebahagiaan itu mendadak pudar ketika Aarav yang mendapatkan kabar dari David jika salah satu anak buah Arzan tertangkap oleh seseorang.


"Bagaimana bisa tertangkap? apa yang dia kerjakan?" tanya Arzan dengan ekspresi wajah dingin.


"Berkhianat dari kita lalu di manfaatkan oleh mereka tuan. kami yakin sekarang jika dia sekarang sedang di introgasi oleh anak buah Mr.Bram. Hanya satu orang yang berkhianat, tapi dia sengaja membawa anak buah kita yang lain lalu di serahkan kepada mereka. Yang di serahkan kepala penjaga adalah salah satu bawahan nya yang selalu menjaga di pintu mansion." ujar David memperjelas.


Arzan mengepalkan ke dua tangan nya, jika sampai informasi tentang diri nya terdengar sampai ke telinga Mr.Bram, Arzan tidak akan segan-segan membunuh anak buah nya yang berkhianat tersebut.


"Berapa lama dia bekerja dengan ku?" tanya Arzan.


"Masih hidup atau sudah mati?" tanya Arzan.


"Menurut informasi, masih hidup." jawab David.


"Pantas saja dia meminta cuti dua minggu," ujar Aarav yang baru sadar.


Arzan meminta Aira dan David untuk menjaga Jova di mansion. Bersama Aarav dan anak buah yang lain, Arzan sudah berniat untuk menghabisi orang yang sudah berani berkhianat dari nya.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, Arzan tidak ingin musuh tahu seluk beluk tentang mansion nya. Pantas saja selama beberapa bulan ini tidak ada pergerakan, ternyata mereka sedang menyusun rencana.


"Lagian, kepala penjaga selama ini berkeliaran hanya seputaran halaman mansion. Dia tidak pernah masu," ujar Aarav memberitahu Arzan.


"Cepat pergi rumah nya!" perintah Arzan.


Hanya butuh waktu empat puluh menit Arzan dan Aarav sudah tiba di dekat rumah kepala penjaga nya. "Perintahkan dia untuk keluar, bawa dia ke ruangan bawah tanah yang ada di kantor ku!" perintah Arzan pada Aarav kemudian Arzan berganti mobil untuk pergi ke kantor nya.

__ADS_1


Aarav dan empat orang anak buah nya masuk ke halaman rumah kepala penjaga dan mendapati kepala penjaga yang bernama Eron itu sedang duduk santai di teras samping rumah nya.


"T-tuan, ada masalah apa yang membawa tuan datang ke rumah saya ini?" tanya Eron dengan senyum gugup nya.


"Ikut dengan ku, ada pekerjaan sedikit!" titah Aarav.


"Kalau begitu, saya berganti pakaian dulu." ujar Eron, pria berusia sekitar empat puluh lima tahun itu.


"Tidak perlu, hanya sebentar saja!" kata Aarav membuat Eron mau tidak mau ikut bersama Aarav.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, tidak ada pembicaraan di dalam mobil membuat Eron sedikit curiga.


"Bukankah ini arah ke perusahaan, ada pekerjaan apa di sana?" tanya Eron penasaran.


"Jangan banyak tanya, sudah ku bilang hanya pekerjaan sedikit!" ujar Aarav.


Semakin panik Eron ketika mobil mulai memasuki ruangan bawah tanah yang ada di perusahaan Arzan. Namun rasa panik nya bisa dia tutupi dengan senyum palsu nya.


"Keluar!" pernah Aarav dengan suara dingin nya.


Eron menurut saja, pria ini sudah tahu apa yang akan terjadi. Benar saja, ketika Eron baru saja masuk Arzan langsung menghajar pria itu hingga babak belur.


Arzan mencekik leher Eron, membuat pria itu mulai kehabisan nafas. "Katakan pada ku, apa gaji yang ku berikan pada mu itu kurang sampai kau berani berkhianat dari ku?" tanya Arzan dengan sorot mata tajam.


"M-maafkan s-saya tuan. S-saya khilaf!" ucap Eron terbata-bata.


"Kau sengaja menjual informasi hanya untuk kepentingan mu. Kau masuk terlalu dalam dari masalah ku." kata Arzan lalu menghajar Eron kembali. "Katakan, di mana markas mereka?" tanya Arzan karena markas yang di beritahu oleh Aira sudah kosong.


"S-saya tidak tahu tuan!" ujar Eron membuat Arzan naik pitam. Pria itu kembali menghajar Eron sampai tak berdaya.


"Bukankah sebelum kau bekerjasama dengan ku, baik kau atau pun anak buah lain nya harus melakukan perjanjian. Apa kau ingat perjanjian itu?" tanya Arzan dengan tawa licik nya.


Eron yang sudah tak berdaya langsung merangkak memohon di bawah kaki Arzan. "Jangan sentuh anak dan istri saya tuan. Bunuh saja saya!" mohon Eron namun sudah terlambat. Ternyata anak buah Arzan yang lain datang membawa istri dan ke dua anak Eron.

__ADS_1


__ADS_2