Menikah Dengan Mafia

Menikah Dengan Mafia
23.Marah


__ADS_3

Malam yang mencekam untuk Jova, gadis itu teringat kembali dengan obrolan nya bersama Viana tenteng anak keturunan. Merinding rasa nya, Jova belum siap untuk menyerahkan kehormatan nya kepada suami nya sendiri meski pernikahan mereka sudah baik-baik saja.


Gadis itu gelisah, membuat Arzan tidak bisa tidur. Pria itu kemudian mengubah posisi menjadi duduk lalu bertanya pada istri nya. "Ada apa bee? kenapa kau gelisah seperti ini?"


Jova tersenyum cengir, "A-aku,...aku baik-baik saja bee!" jawab gadis itu semakin gugup.


"Tidurlah, apa kau mau aku peluk?" goda Arzan membuat istri nya langsung menarik selimut hingga menutupi kepala nya. Arzan terkekeh geli melihat kelakuan istri nya, pria itu kembali merebahkan diri lalu memeluk Jova membuat tubuh gadis itu menegang. "Tidurlah,....!" ucap Arzan. Dasar Arzan yang nakal, tangan kekar nya masuk ke dalam selimut lalu mencari tangan istri nya untuk di genggam. Awal nya Jova sudah merasa jika malam ini adalah akhirnya, namun ternyata suami nya ini hanya ingin tidur dengan memeluk sambil menggenggam tangan nya.


Pagi sekali, Jova bangun tidak mendapati suami nya. Gadis itu sudah mencari ke sana ke mari namun tetap saja tidak menemukannya. Jova mulai kesal, ponsel Arzan juga mati bahkan mobil nya tidak ada.


"Paman, di mana suami ku?" tanya Jova kepada kepala pelayan.


"Tuan sudah pergi pagi sekali nona. Mungkin ada pekerjaan mendadak." jawab pria paruh baya itu. "Nona harus segera mandi lalu sarapan. Supir akan mengantar nona pergi kuliah." ujar kepala pelayan.


"Hmmm...terimakasih paman." ucap gadis itu sopan.


Sepi sekali rasa nya, pagi ini Jova sarapan sendiri di meja makan. Rasa nya juga beda ketika supir yang mengantarnya ke kampus karena biasa nya Jova akan di antar jemput oleh suami nya sendiri.


Baru juga turun dari mobil, Mika sudah menarik kasar tangan Jova menuju tempat sepi. Melvin yang melihat sikap kasar Mika langsung mengikuti mereka. Mike melipat ke dua tangan nya di dada, mengangkat wajah nya dengan angkuh.


"Sebenarnya kau ini tinggal di mana sih? aku heran dengan gaya mu yang sekarang di antar jemput dengan mobil mewah!" kata Mika kesal.


"Kenapa? apa kau mulai penasaran dengan hidup ku?" tanya Jova dengan nada mencibir.


Ketika Mima hendak melayangkan tangan nya ke wajah Jova, Melvin dengan sigap menangkap dan langsung mendorong Mika hingga gadis itu terjungkal kebelakang.

__ADS_1


"Berani kau menyentuh Jova, aku akan membuat mu hancur!" ujar Melvin dengan sorot mata tajam.


Mika yang tidak terima dengan perlakuan Melvin. Gadis itu berdiri lalu menunjuk wajah Melvin. "Siapa kau hah? dasar cupu! jangan ikut campur urusan ku brengsek!" ujar Mika dengan suara keras.


Melvin menyunggingkan senyum nya, melepas kacamatanya lalu menarik tangan Mika kemudian menatap mata Mika dengan tajam nya. "Siapa pun aku, hanya aku yang berhak tahu. Jangan menyentuh Jova jika kau masih ingin tetap hidup!" kata-kata Melvin terdengar mengerikan di telinga Mika maupun Jova.


Pria lugu dan kutu buku ini ternyata bisa marah juga. Mika yang ketakutan langsung pergi dari sana. Melvin kembali memasang kacamata nya. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Melvin.


"Ya, aku baik-baik saja. Terimakasih Melvin...!" ucap Jova kemudian mereka pergi ke kelas bersama.


Jova masih memikirkan perubah sikap Melvin tadi. Sejak awal kenal hingga sekarang, baru sekarang Jova melihat sikap Melvin yang mrmbuatnya merasa aneh.


Seharian berada di kampus membuat Jova bosan,terlebih lagi ponsel Arzan seharian mati. Melvin menyadari jika wajah Jova sejak pagi murung. "Apa kau masih memikirkan saudara tiri mu itu?" tanya Melvin yang khawatir.


"Lalu, kenapa wajah mu cemberut?" tanya pria itu kembali membuat suasana hati Jova semakin kacau. Perjalanan menuju tempat parkir rasa nya sangat jauh. Tiba-tiba, mata Jova menangkap sosok yang seharian membuat nya galau. Bukan nya senang Jova malah mendalamkan ekspresi cemberut di wajah nya.


Arzan yang sejak tadi menunggu istri nya di parkiran membuat heboh seisi kampus karena ketampanan nya. Belum juga Jova menghampiri suami nya terlebih dahulu, Mika sudah melajukan langkah nya menghampiri Arzan.


"Hii.... Arzan...!" sapa Mika sok kenal hingga membuat semua gadis yang melihat nya merasa iri kepada Mika.


"Oh,. .hallo Mika." balas Arzan dengan senyum lebar membuat Mika semakin melayang. Jova yang melihat dari kejauhan menghentikan langkah nya untuk melihat kelakuan saudara tiri nya itu. Melvin juga ikut berhenti, pria itu seperti ekor bagi Jova.


"Kamu jemput Jovata ya...?" tanya Mika.


"Ya,...!" jawab Arzan singkat.

__ADS_1


"Emmm,...boleh aku ikut dengan kalian? aku sudah lama tidak mengobrol dengan saudara ku itu..." Mika bertanya dengan wajah yang di buat sedih.


Arzan paham maksud Mika, pria itu tidak bodoh gadis ini berusaha menarik perhatian nya, "Itu Jova...!" tunjuk Arzan, "Aku ke sana dulu!'' ujar Arzan kemudian pergi tanpa menghiraukan Mika. Semua orang yang melihat Mika di acuhnya langsung mentertawakan diri nya. Rasa nya malu sekali, namun Mika yang sudah biasa hanya menanggapi dengan acuh.


"Ngapain ke sini?" tanya Jova ketika melihat suami nya menghampiri diri nya.


"Menjemput mu apa lagi...!" jawab Arzan yang menyadari jika istri nya ini sedang marah.


"Kak, tadi pagi Jova hampir di tampar dengan saudara tiri nya." Melvin mengadukan kelakuan Mika hingga membuat ekspresi Arzan langsung berubah.


Pria itu tanpa sadar menarik tangan istri nya, "Apa yang sakit?" tanya Arzan dengan suara dingin nya.


"Tidak ada. Melvin menolong ku tadi...!" kata Mika kemudian melepas paksa tangan suami nya. Gadis itu kemudian berjalan menuju mobil dan langsung masuk begitu saja.


"Terimakasih sudah membantu Jova." ucap Arzan tersenyum pada Melvin.


"Sama-sama kak." balas Melvin.


Arzan menyusul istri nya, Mika terlihat panas sekali ketika melihat Jova masuk ke dalam mobil dengan begitu santai nya. Arzan melajukan mobil nya, mereka langsung pulang. Jova hanya diam dengan wajah di tekuk.


Setiba nya di mansion, gadis itu bukan nya masuk ke kamar suami nya malaikan masuk ke kamar nya dulu. Arzan mengikuti namun gadis itu terlebih dulu mengunci nya dari dalam.


"Aku minta maaf jika aku punya salah." ujar Arzan sambil mengetuk pintu kamar. "Keluar lah, di sini bukan kamar mu lagi. Jangan diamkan aku seperti ini." ucap pria itu kembali.


Masih sama, Jova tidak menyahut apa lagi membuka pintu kamar. Sebenarnya kemana Arzan ini? ya, pria itu pergi jam empat subuh untuk menggagalkan penyelundupan senjata api dari musuh nya yang lain. Ponsel nya jatuh ke sungai hingga membuat pria itu tidak bisa menghubungi istri nya. Wajar saja jika Jova marah karena seharian Arzan tidak ada kabar.

__ADS_1


__ADS_2